Monday, 2 March 2015

Tangisku Tenggelam Di Pasir Putih


Ku tatap sayu lelaki yang ada di depanku. Luluh hati ini disaat dia menatap tajam mata ku. Kikuk dan gemetar hinggap di tubuhku.
" Laras puisi mu bagus, maaf aku mengambilnya sesudah kamu membuangnya di tong sampah kemarin".

Aku terperangah tak percaya mendengar ucapan lelaki yang ada di depanku. Ya, bagaimana mungkin lelaki yang selalu jadi bahan rebutan kaum hawa di sekolahku ini mau berbicara denganku, menyukai puisiku. Sedangkan aku, bukanlah sosok murid yang cerdas, wajahpun pas pasan. Berbeda dengannya: juara umum, Ketua Osis dan tampan rupawan.

"Laras tak suka kah kau aku mengambil puisimu" Ujar Aldi membuyarkan ketakjubanku.
"Eh, Oh tentu saja Aldi kamu boleh mengambil puisi tersebut dan terima kasihya sudah menyukai puisiku".
Aldi pun tersenyum dan berlalu meninggalkanku.

"Cie cie...Laras.." Teriak sohibku Lila dan Zila dari kejauhan sambil mendekatiku.
"Apaan sih.." Jawabku menahan malu.
"Kami lihat kok Aldi menyapamu, ehm kayaknya cintamu tak bertepuk sebelah tangan" Ucap Lila centil, menyudutkanku.
"Ih, apaan sih, kata siapa aku suka Aldi"
"Hallahh..ga mau ngaku juga nih..Laras kami tuh tahu kamu suka Aldi, tatapan matamu itu loh ga bisa dibohongi. Setiap Aldi hinggap di penglihatanmu, matamu selalu tak bergeming menatapnya" Zilapun tak mau kalah menyudutkanku.
"Hayyo, ingat ga puisi yang kamu buat kemarin "Rasaku", di bawah puisi tersebut kamu cantumkan nama Aldi" Lila tersenyum genit menatap wajahku.
"Haduh kalian ini pintar banget buatku selalu tak berkutik..nyebelin..iya aku suka Aldi tapi ga mungkin toh dia suka aku"
"Kata siapa, kita lihat saja nanti" Ujar Lila.
Zilapun berkata: "Ras, emangnya Aldi tadi berbicara apa saja sama kamu".
"Aldi bilang dia menyukai puisiku, dia mengambil puisi yang sudah aku buang di tong sampah kemarin"
"Nah itu buktinya, Aldi suka kamu, pasti kemarin Reno mendengarkan semua pembicaraan kita, waktu aku bilang: kamu suka Aldi. Reno kan sahabatnya Aldi. Setelah lama kita berbicara baru kita sadar di belakang kita ada Reno" Ucap Lila.
"Iya benar banget tuh, lagian ngapain Aldi ubek ubek sampah mau cari puisimu. So, berarti banget puisi tersebut bagi Aldi"
"Yups, setuju aku dengan pikiranmu Zila" Lilapun mengacungkan kedua jempol tangannya dengan penuh semangat. Akupun tersenyum bahagia mendengar penafsiran mereka tentang Aldi.

Kau adalah hatiku, kau belahan jiwaku
Seperti itu ku mencintamu sampai mati..

Lagu Utopia terus aku putar di HP berulang kali. Ehm, aku tersenyum sendiri dengan rasaku. Seperti inikah rasanya jatuh cinta? melamun tiada henti memikirkan orang terkasih. Lirik lagu "Mencintaimu Sampai Mati" mungkin terdengar konyol dilogikaku. Bagaimana mungkin aku mencintai orang tersebut sampai mati sedangkan aku sendiri, belum mengetahui apa yang dirasakan orang tersebut terhadapku. Aldi, apa mungkin kamu juga mempunyai rasa yang sama terhadapku? Ntahlah, aku tak mau terlalu berharap. Aku nikmati saja rasa yang ada.

"Larassss" terdengar teriakan histeris sahabatku Lila dan Zila. Kulihat wajah mereka sumringah bahagia.
"Laras, Aldi mencintaimu. Tahukah kau, tadi kami menemui Aldi setelah dia selesai makan Bakso di Kantin. Kami bilang kalau kamu mencintainya, maukah Aldi menerima cintamu? dan Aldi bilang iya dia mencintaimu Laras".
Aku terkejut mendengar perkataan sahabatku. Marah bercampur bahagia. Aku marah karena tanpa seizinku sahabatku mengatas namakan aku untuk mengungkapkan rasa cintaku kepada Aldi. Dalam kamus hidupku, tidak seharusnya kaum hawa terlebih dahulu yang mengungkapkan rasa cinta terhadap kaum adam. Namun, aku bahagia setelah tahu Aldi juga mencintaiku. Aku tatap sahabatku dengan mata berbinar.

Kulihat dibalik jendela Aldi duduk di bawah Pohon Beringin. Kenapa Aldi belum pulang batinku sedangkan teman sekelas IPAnya sudah pulang semua. Kelasku IPS 1 hari ini agak lama pulangnya karena Ibu Meta Guru Ekonomi sedang menatar kami akibat banyaknya temanku yang tidak membuat pekerjaan rumah (PR) Ekonomi. Beda halnya dengan IPS 2 kelas sahabatku Lila dan Zila mereka juga sudah pulang. Akhirnya waktu pulangpun tiba. Seluruh temanku langsung bubar meninggalkan kelas termasuk diriku. Kutatap Aldi, namun satu katapun tak juga keluar dari bibirku. Aku berjalan menuju jalan aspal untuk mencari angkot menuju rumahku. Kulirik Aldi di sudut mataku, kulihat dia berjalan mengikutiku di belakangku. Hatiku bahagia, setelah siang tadi sahabatku mengatakan tentang perasaanku, dapat kurasakan perhatian Aldi kepadaku, meskipun sampai sore ini bahasa kata belum keluar dari bibir kami berdua.

"Lingkar Barat Pak" Ujarku yang kesekian kali kepada Sopir Angkot dan lagi lagi jawaban Sopir Angkot mengecewakanku. Uh, kalau sudah terlalu sore begini memang susah cari angkot menuju rumahku karena jarak rumahku menuju sekolahku lumayan jauh waktu yang harus ditempuh. Kulihat Pak Min Sopir Aldi, jengah raut wajahnya karena sudah menunggu selama 2 jam tapi Aldi belum juga mau pulang bersamanya.
"Lingkar Barat ya Pak Rp 20.000,-" Aldipun menyerahkan uang Rp 20.000,- kepada Sopir Angkot. Dan tentu saja Sopir Angkot bersedia karena tarif Angkot dari sekolah menuju rumahku seharusnya Rp 3.500,-. Kutatap Aldi dan tersenyum sambil mengatakan terima kasih. Ya, selama 2 Jam kami diam membisu namun tatapan mata kami yang berbicara penuh arti.
Tak terasa sudah satu minggu berlalu. Hubunganku dengan Aldi tak ada perubahan tetap diam membisu dan saling tunggu ketika tiba waktunya pulang sekolah. Ada satu kejadian yang selalu buatku tertawa geli jika mengingatnya. Ketika aku pulang sekolah, Roki temanku dari sekolah lain menemuiku. Roki mengungkapkan cintanya kepadaku dengan memainkan gitar sambil menyanyikan lagu:

Seandainya kau dapat kumiliki
Gunung tinggi kan ku daki
Akan kupersembahkan Bunga Edelweis untukmu,
Seandainya kau terima cintaku
Kuingin terbang ke awan
Akan kupetik Bintang kuberikan kepadamu















Aku suka dengar Roki menyanyikan lagu tersebut. Indah syairnya, merdu alunan gitarnya. Aku tak tahu siapa artis yang menyanyikan lagu tersebut dan ini pertama kali aku mendengarkan lagu tersebut dari bibir Roki. Kulihat merah di wajah Aldi menahan rasa cemburu dan amarah di dadanya. Teringat aku akan perkataan sahabatku ketika Aldi bilang iya dia mencintaiku, Alia cewek tercantik di sekolahku yang banyak digandrungi kaum adam menahan amarah kepadaku disaat dia mendengar ucapan Aldi tersebut.

Aku tersenyum, bahagia hatiku melihat rasa cemburu di wajah Aldi. Setidaknya Aldi mengetahui meskipun wajahku pas pasan dan di sekolah aku cuma murid yang biasa saja, ternyata masih ada juga orang yang mencintaiku selain dia. Dan aku menghargai usaha Roki. Di depan Aldi aku bilang: aku tak bisa menjadi pacarnya karena aku sudah mempunyai pacar. Rokipun dengan berat hati bisa menerima keputusanku. Sejak kedatangan Roki di sekolahku, ku lihat Aldi selalu memainkan gitar di depanku. Lagi lagi aku tersenyum geli melihat tingkah laku Aldi meskipun kami tak berkata.
                                xxxxx

"Uhh, sebentar lagi ujian akhir. Belum siap nih" Gerutu Lila.
"Siap ga siap ujian tetap berlangsung. Makanya kita harus belajar biar lulus, malu lagi kalau ga lulus. Mudah mudahan kita bertiga lulus". Sahut Zila.
"Aamiin Ya Allah". Aku dan Lila mengaminkan perkataan Zila.
"Aku rasa Aldi sudah siap banget ujian. Besokpun ujian aku rasa hasilnya sudah sangat memuaskan" Ujar Lila tersenyum ke arahku.
"Ya iyalah, otaknya tuh selalu di asah makanya pintar, kita juga kok bisa pintar seperti Aldi kalau mau belajar dengan sungguh sungguh" celetuk Zila.
"Sayangnya, aku dan Lila malas belajar. Tidak seperti dirimu Zila" Sahutku cengengesan menatap Lila. Ya, diantara kami bertiga cuma aku dan Lila yang hasil Rapornya cukup memuaskan. Dari kelas 1 hingga masuk kelas IPS ini, Zila selalu mendapatkan peringkat 5 (Lima) besar di kelasnya.


"Hahahaha, Laras seharusnya kamu tuh ikuti Aldi, jangan ikuti aku dong. Gimana sih masak ga termotivasi untuk belajar. Lihat tuh, jam istirahat begini Aldi tetap membaca buku" Dengan sigap Lila mengarahkan jari telunjuknya ke arah Aldi yang berada jauh dari tempat kami duduk. Terlihat Aldi dari kejauhan sedang membaca buku di Ruang Perpustakaan. Benar kata Lila, kenapa aku ga termotivasi untuk belajar? Rasanya ingin secepatnya aku meninggalkan temanku dan berjalan menuju kelasku untuk belajar.
"Bukan Laras saja yang harus belajar. Kamu juga Lila harus belajar. Ya sudah, kita manfaatin saja waktu satu minggu yang tersisa ini untuk belajar" Ujar Zila tersenyum menatap Lila. Lilapun tersenyum malu membalas tatapan Zila.
"Iya nih Lila, aku takut sewaktu Ujian Akhir nanti Lila masih juga buat contekan. Seperti kelas 2 dulu, tetap saja nyontek walau sudah ketahuan Guru dan dihukum keluar kelas ga diperbolehkan lagi mengikuti ujian. Masih lumayan aku kan Zila, walau nilai ujian pas pasan tapi benar benar murni dari otakku" Ujarku kalem.
"Yeeeee, kelas 3 ini sudah ga nyontek lagi aku Laras, weeekkkk" Cibir Lila sambil menjulurkan lidahnya ke arahku.
"Iya ga lagi nyontek karena setiap ujian, Lila selalu disuruh Guru duduk di kursi paling depan persis di hadapan Meja Guru" Sindir Zila. Aku dan Zilapun tertawa cekikikan menatap Lila. Lilapun tertunduk malu.
                                   xxxxx

Tak terasa sudah tiga hari kami ujian akhir. Selama ujian berlangsung, Aldi tak pernah menungguku. Aku tahu Aldi fokus belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi materi pelajaran yang akan diuji setiap besoknya. Akupun ikut termotivasi untuk belajar. Namun, terkadang buku yang sedang kubaca berubah alih menjadi Aldi. Beberapa saat lamanya, kubiarkan pikiran ini mengkhayal memikirkan Aldi. Tersenyum geli aku dengan pikiranku. Hingga akhirnya, jam dinding di kamarku berbunyi dan menyadarkanku dari lamunanku. Kembali kubuka buku yang sedari tadi tak berkutik di kedua tanganku. "Ehm, untung ada pelajaran tambahan di sekolahku jadi materi pelajaran Bahasa Inggris ini mudah untuk ku pahami". Gumamku dalam hati. Baru sadar diri ini, manfaat diadakannya pelajaran tambahan di sekolahku. Khususnya untukku ataupun murid lain yang malas belajar. Dengan adanya pelajaran tambahan di sekolahku, mau tak mau kami diharuskan belajar. Karena diwajibkan untuk kami mengikuti materi pelajaran tambahan di sekolah.

"Laras, mau ga ikut kami ke Pasir Putih?" Ujar Zila.
"Kapankah?" Kataku.
"Sekarang, kita refreshing merayakan selesainya ujian akhir" Ucap Lila dengan penuh semangat.

Sudah satu minggu kami Ujian Akhir Nasional. Hari ini adalah hari terakhir kami ujian. Dan selama satu minggu, aku melihat Aldi hanya dari kejauhan. Saat ini matakupun sibuk mencari sosok Aldi. Namun, Aldi tak terlihat olehku. Sudah pulangkah Aldi? Hanya di pagi hari saja aku menatapnya. Itupun melihatnya dari kejauhan. Jadilah, batinku bergumam. Setidaknya, aku masih bisa melihat dia.
"Laras, gimana mau ga ikut bersama kami ke Pasir Putih?" Ulang Zila menyadarkanku dari pikiranku tentang Aldi.
Akupun tersenyum dan berkata: "Pasti, aku mau ikut kalian".
"Hore, saatnya kita refreshing" Teriak Lila.
"Kami tahu kok kalau kamu suka banget Pasir Putih". Lanjut Lila tersenyum dan langsung mengamit tanganku dan Zila untuk segera melangkah mencari angkot menuju Pasir Putih.

Tibalah kami di Pasir Putih. Lila dan Zilapun berteriak histeris berlari menuju Pantai. Aku tersenyum kecil melihat mereka. Gemuruh ombak bersahut sahutan menyambut kedatangan kami. Kamipun asyik melepas penat setelah seminggu lamanya kami berkutat dengan ujian yang cukup menguras pikiran kami. Main pasir, basah basahan di Pantai menjadi daya tarik tersendiri bagi kami. Tak lupa di setiap aktifitas kami di Pasir Putih Pantai Panjang, kami abadikan dengan berpotret ria via Handphone milik sahabatku Lila dan Zila. Hari ini, kami tertawa bahagia melepas canda dan tawa di tengah tengah gemuruhnya ombak Pantai Panjang di kota kelahiranku.
                                  xxxxx

Pengumuman kelulusan sekolah telah tiba. Hampir 1 bulan aku dan Aldi tak bertemu. Disaat inilah pertemuan terakhirku dengan Aldi. Aku bahagia dan terharu Aldi memperoleh NEM tertinggi di sekolahku dan masuk tiga besar NEM tertinggi IPA di provinsiku. Inginku ucapkan selamat kepada Aldi namun bibirku kaku untuk mengucapkannya. Aku takut dia menanyakan nilaiku karena nilaiku pas pasan dan Alhamdulillah aku lulus. Syukurnya, Lilapun lulus begitu juga dengan Zila. Aku terharu, Zila juga meraih NEM tertinggi IPS peringkat lima besar di provinsi kota kelahiranku. Peluk dan cium sambil ku ucapkan selamat kepada sahabatku Zila.

Di gerbang pintu sekolah, Aldi menatapku. Seketika dia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya dan menyodorkannya di tanganku. Akupun berkata: "Apa ini Al?". Kulirik pemberian Aldi yang terbungkus kertas kado bergambar hati berwarna pink.
"Diary, ku ingin kau menuliskan semua puisimu di diary ini". Tanpa sempat ku ucapkan terima kasih, Aldi berlalu meninggalkanku masuk ke dalam mobilnya.
                                  xxxxx

Bulanpun berganti tahun, tak terasa sudah 3,5 tahun aku tak lagi berjumpa dengan Aldi.
"Laras, Minggu depan SMA kita mengadakan reunian di Kemuning Pantai Panjang. Ikutya, budgetnya Rp 150.000,- per orang". SMS singkat dari Lila. Akupun langsung membalasnya dengan antusias.
"Iya pasti aku ikut dan memang Senin besok aku pulang ke rumah orang tuaku. Tiket pesawat sudah kubeli".
"Sip, Laras Aldi juga ikut reunian. Aku tau dari Reno. Kemarin aku dan Zila ketemu Reno di perpustakaan UNIB. Ternyata Reno juga kuliah di UNIB (Universitas Bengkulu) tapi Fakultas Pertanian".

Bergetar ragaku ketika kubaca sms Lila tersebut. Kuambil diary ungu di meja belajarku, sudah ratusan jumlah puisi di diary tersebut. Sebagian besar menceritakan tentang kerinduan seorang kekasih. Aldi tahukah kau? hingga saat ini aku tetap mencintaimu. Kukira kamu di kota pelajar ini karena sebelumnya aku dengar kamu mendapatkan PPA di Universitas Gajah Mada (UGM). Aku berusaha mengikuti jejakmu, hingga akhirnya, aku berhasil lulus SNMPTN dan tercatat sebagai mahasiswi UGM. Aku lakukan ini agar kita bisa bertemu. Namun, ternyata kamu kuliah di luar negeri. Meskipun demikian, Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Akupun fokus menuntut ilmu di tanah rantau, tanpa cinta pengganti dirimu. Ya Aldi, kota pelajar ini kota kesendirian cintaku. Namun, aku yakin di kota kelahiranku kita akan berjumpa.

Lagu Utopia "Mencintaimu Sampai Mati" kembali terdengar di telingaku yang artinya ada lagi pesan masuk di Handphoneku. Segera kubuka HP. Ehm, SMS dari orang yang sama, Lila. Segera kubaca sms Lila.
"Laras, baik baik sajakah dirimu? kenapa engkau tak membalas smsku? tak suka kah kau aku menyebut nama Aldi? benarkah dirimu sampai saat ini belum mempunyai pacar?" Bertubi tubi pertanyaan Lila di kotak masukku. Akupun membalas sms Lila:
"Alhamdulillah aku baik baik saja dan sampai saat ini aku masih sendiri karena tanpa ku bilang engkaupun tahu aku masih menunggu Aldi. Doakan saja semoga aku cepat menyusul seperti kalian" Ucapku. Ya, kedua sahabatku baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Suami Lila PNS di Pemprov. Bengkulu dan suami Zila Pengusaha Batu Bara di Kota Bengkulu. Aku bahagia melihat nasib baik kedua sahabatku. Meskipun mereka sudah menikah, mereka tetap melanjutkan kuliahnya di jurusan yang sama denganku: Managemen.
                                  xxxxx

Ku hirup udara pagi. Udaranya sejuk dan menyegarkan tubuhku. Sudah 2 hari aku tiba di kota kelahiranku dan ini hari pertamaku menginjak Pasir Putih di Pantai Panjang setelah 3,5 tahun lamanya aku tak menapakinya. Kutatap Kemuning, disanalah tempat reunian SMA kami nanti. Empat (4) hari lagi perjumpaanku dengan Aldi.

"Mbak Sisy" sahut seorang wanita kepada Sisy yang sedang duduk didekatku. Sisy adalah temanku dimana rumah orang tuanya tetangga dekat dengan rumah orang tuaku.
"Apakah Mbak namanya Sisy" ujar wanita tersebut yang kedua kalinya. Kulihat ekspresi Sisy tampak tak senang dengan kehadiran wanita tersebut. Namun, tiba tiba ada satu orang lagi wanita mendekati kami yang diikuti oleh 2 orang lelaki. kulihat Sisy hendak berlari meninggalkan aku dan yang lainnya. Namun, dengan cekatan wanita itu menarik Sisy. Mengambil tasnya dan memeriksa isinya. Ingin rasanya ku hardik wanita tersebut yang sudah berani mengambil tas Sisy secara paksa. Belum sempat aku utarakan apa yang ada di pikiranku, terdengar sebuah pertanyaan di telingaku.
"Mbak temannya Sisy" Kata lelaki yang bersama wanita tersebut.
"Iya, memangnya ada apakah" Jawabku lirih menahan amarah melihat Sisy diperlakukan kasar seperti itu.
"Kami juga ingin memeriksa tas anda" Sahut lelaki itu, sambil menarik tas yang ada di tanganku. Setelah selesai menggeledah tasku, lelaki tersebut mengeluarkan kartu identitas miliknya dan menunjukkannya kepadaku sambil berkata:
"Ikut kami di kepolisian". Tersentak tubuhku setelah tahu siapakah orang yang ada di hadapanku.
                                     xxxxx

Dibalik jeruji besi ini ingin ku lampiaskan amarahku. Ya Allah, kenapa aku bisa dalam situasi seperti ini. Aku baru tahu kalau Sisy Target Operasi (TO) Pemalsuan Uang. Sialnya, uang palsu Rp 50.000,- ada di dompetku. Kenapa bodohnya aku, tak menyadari kalau uang yang diberikan Sisy di subuh hari tersebut sebelum kami pergi ke Pantai Panjang adalah uang palsu. Ya, Sisy memberikan uang tersebut untuk mengisi bensin motorku, sempatku tolak uang pemberian Sisy. Namun, Sisy marah kepadaku dia bilang aku tidak menghargainya. Uang tersebut tanda terima kasih Sisy kepadaku karena di subuh hari aku mau menemani Sisy menemui temannya di Pantai Panjang. Dengan tujuan, mengambil hasil proposal skripsi Sisy yang telah dibuat oleh temannya tersebut.
Selain itu, yang semakin mempersulit posisiku sebagai tersangka adalah uang Rp 5.000.000,- yang berada di dalam jok motor dan motor itu adalah milikku. Aku tahu Sisy telah mengatakan kepada polisi kalau aku tidak bersalah. Namun, polisi tidak mempercayai perkataan Sisy ataupun perkataanku. Menurut mereka, motorku sudah dijadikan barang bukti bahwasanya aku ikut terlibat membantu Sisy mengedarkan uang palsu. Terasa gelap dunia ini bagiku. Teriak tangisku tak cukup mampu untuk meredam gejolak dihatiku. Sayup sayup ku dengar Sisy meminta maaf kepadaku.

"Aku tidak bermaksud menjerumuskanmu ke dalam perkara ini. Aku tidak tahu kalau uang Rp 50.000,- tersebut adalah uang palsu. Aku kira itu memang uang asli karena uang tersebut kuambil langsung dari dompetku bukan di dalam kantong kresek tempat uang palsu sejumlah Rp 5.000.000,- yang siap untuk aku edarkan bersama temanku tersebut. Sekali lagi, aku minta maaf Laras telah berbohong kepadamu, dengan mengatakan bahwa uang tersebut upah buat temanku karena dia telah membuatkan proposal skripsi untukku".
Kutatap Sisy tak berarti, gelap penglihatanku.

Ku buka mataku, kulihat Lila di sampingku bersama keluargaku, terlihat jelas di mata Lila menahan tangis untukku. "Aku dan suamiku akan berusaha keras membebaskanmu". Bisik Lila di telingaku. Aku menangis. Ibu, Ayah dan Adikku tak bisa berbuat banyak karena kami bukan berasal dari keluarga yang mampu. Di kota pelajar, aku kuliah sambil bekerja. Ya, biaya selama aku kuliah hasil keringatku sendiri. Makanya, sangat sulit bagiku untuk pulang ke kota kelahiranku yang sekaligus menjadi tempat tinggal orang tua dan adikku.




Ku katakan pada Lila agar jangan pernah memberitahukan kepada siapapun mengenai kasus hukum yang sedang aku hadapi sekarang ini. Karena dalam waktu 2 hari lagi, diselenggarakannya acara reunian SMA kami. Lilapun berjanji kepadaku bahwa dia tidak akan menceritakan masalahku kepada siapapun.
                                  xxxxx

Terpaku kuberdiri di pintu masuk gerbang Kemuning. Terdengar suara hiruk pikuk di dalam Kemuning. Namun, tak sanggup kakiku melangkah menuju kerumunan dimana telah berkumpulnya teman-teman SMA ku. Aku takut, dengan kehadiranku di Kemuning, teman-temanku akan bertanya tentangku. Bisakah aku menyembunyikan ekspresi kesedihan di wajahku atas kasusku?. Kuhela nafasku, kembali ku teringat atas pengorbanan sahabatku Lila dan suaminya. Aku bisa berdiri di Kemuning ini karena suami Lila sudah mengurus penangguhan penahanan untuk diriku. Lila tahu isi hatiku, betapa aku sangat ingin berjumpa dengan Aldi. Mengingat itu, segera ku langkahkan kaki menuju ke dalam Kemuning.

Sesak dadaku, keinginanku untuk bertemu Aldi hilang begitu saja dari lubuk hatiku. Ku kira dengan melihat wajahnya, sudah cukup mampu memberikan aku sedikit kedamaian. Namun, ternyata perkiraanku salah. Semuanya hilang sekejap disaat aku melihat Aldi dan Alia duduk berdekatan di satu meja. Aku cemburu. Setelah agak beberapa lama ku terdiam dalam kecemburuan, ku tepis rasa cemburuku. Bukankah selama ini kami memang tidak mempunyai ikatan sah yang menyatakan dia milikku. SMA pun hubungan kami tidak jelas apakah kami benar benar pacaran atau tidak meskipun kami sudah saling mengetahui bahwa kami memiliki rasa cinta dan sayang yang sama. Hanya tatapan mata dan gerak gerik bahasa tubuh kami yang berbicara. Jadi, bukan salahnya Aldi jika dia sudah mempunyai istri atau pacar. Isakku pecah dan kembali aku sadar akan masa depanku dibalik jeruji. Kutatap Aldi dari kejauhan, kubisikkan doa dari hatiku yang terdalam "Semoga Allah senantiasa memberikan kehidupan yang terbaik untukmu". Perlahan, kulangkahkan kaki meninggalkan Kemuning.

Aku duduk terpaku di hamparan Pasir Putih Pantai Panjang. Suara gemuruh ombak seakan ikut merasakan tangisan hatiku. Di pasir inilah awal tragediku dibalik jeruji besi. Sampai kapankah aku di tahan? Ntahlah aku pasrahkan semuanya atas kehendak Allah. Allah Maha Adil.

"Laras" terdengar suara seseorang memanggilku dari belakangku. Kumenoleh kebelakang dan berkata: "Aldi" Akupun langsung berdiri dari tempat dudukku.
"Mengapa kamu tidak jadi ikut masuk ke dalam Kemuning Laras, tahukah kau aku sangat menunggu kedatanganmu". Suara Aldi bergetar hebat ditelingaku. Kutatap wajah Aldi penuh kerinduan. Kurasakan Aldi juga merasakan perasaan yang sama terhadapku. Aku tetap diam membisu, tak memberikan jawaban atas pertanyaannya. Hanya tatapan penuh kerinduan yang bisa kuartikan untuknya dibalik riak kaca dalam mataku.
"Laras, selama ini kupendam kata kataku untuk menyatakan rasa cinta dan sayangku kepadamu karena aku ingin menyatakan rasa itu ketika aku sudah menyelesaikan study kuliahku. Dulu, aku tidak mau mengikatmu dengan kata kata cintaku karena aku takut aku akan kecewa jika kau tak bisa setia denganku sedangkan aku benar benar ingin memilikimu. Karena aku yakin menjalin hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Namun, meskipun aku tidak mengikatmu dengan kata kata cintaku, rasa cinta dan sayangku untukmu tetap utuh dihatiku. Sengaja aku tiba di kota ini, hanya untuk menemuimu. Laras, aku ingin melamarmu".

Mendengar perkataan Aldi, air mataku tumpah tak tertahankan lagi. Ingin segera ku jawab: ia aku ingin menikah denganmu. Namun, bayang bayang jeruji besi menghantuiku. Hatiku berkata: "Tidak mungkin aku membawa Aldi untuk ikut mengambil bagian kisah terburuk dalam hidupku dijeruji besi". Meskipun aku tidak bersalah tapi aku tidak bisa membuktikannya. Akankah Aldi mempercayaiku? Jika ia percaya tak ingin juga aku menyudutkan dirinya di mata keluarganya ataupun di masyarakat: mahasiswa terbaik lulusan Luar Negeri menikahi seorang wanita yang sedang menjalani proses hukum. Maka dengan batin menangis aku bilang kepada Aldi, kalau aku sudah menikah di kota pelajar. Aldi tak mempercayaiku karena berdasarkan informasi dari Lila sahabatku, mengatakan bahwa aku belum punya pacar dan pastinya belum menikah. Kutatap wajah Aldi, kutegaskan padanya aku memang sudah menikah namun para sahabatku tidak kuberi tahu karena orang tuaku pun tidak mengetahuinya. Aku menikah untuk bisa membiayai kuliahku. Kurasakan tubuh Aldi berguncang hebat menahan pedih dihatinya seperti rasa pedih yang hinggap ditubuhku. Hatiku berkata: Aldi maafkan aku, kulakukan ini semua karena aku terlalu sayang dan cinta dirimu. Aku ingin kau mendapatkan kebahagiaan seutuhnya, tanpa dibayang bayangi kisah terburuk dalam hidupku.

Setelah sekian menit kami dalam kebisuan, Aldi menyerahkan bingkai foto berukiran kayu. Dimana puisi yang dulu sempat aku buang ada dibalik bingkai tersebut "Rasaku".
"Laras, puisi Rasaku sangat berarti dalam hidupku karena itu aku bingkai puisi tersebut. Sekarang aku ingin engkau menyimpannya. Meskipun aku tidak bisa memilikimu ku ingin engkau selalu mengingat rasa cintaku yang begitu besar terhadap dirimu". Aldipun berlalu meninggalkanku. Tangisku pun pecah. Menangis sejadi jadinya diri ini akan laraku. Hanya gemuruh ombak yang bersahutan membalas isakku. Di hamparan Pasir Putih, ku bersimpuh dan terpaku menatap langit: "Ya Allah aku percaya dengan kehendak-Mu. Di setiap tetesan air mata pasti ada kebahagiaan yang tersimpan. Dan bila waktunya tiba Engkau akan memberikanku kebahagiaan yang mungkin untuk saat ini masih Engkau simpan erat untukku karena semua indah pada waktunya". Ku seka air mataku. Terasa damai dihatiku setelah ikhlas mampu kutanam dalam jiwa ragaku. Kulihat Lautan dari kejauhan. Di tengah-tengah Lautan tetap bersih meskipun orang membuang sampah di lautan. Karena air laut membawa sampah tersebut ke tepi. Begitu juga dengan hidupku, seharusnya apapun kejadian buruk yang menimpaku, hatiku harus tetap suci dan selalu berprasangka baik kepada Allah atas semua kehendak-Nya. Segera ku bangkit dari simpuhku. Ku tinggalkan Pasir Putih. Berjalan optimis menuju Penjara, tempat pengasinganku.


                                    xxxxx













Bulan berganti tahun, tak terasa sudah 3 tahun aku dibalik jeruji besi. Saatnya hari ini aku hirup udara segar kebebasanku. Di gerbang pintu penjara sudah menanti sahabatku Lila. Lila memelukku dengan erat menangis terharu melihat diriku, akupun terisak pilu dalam dekapan sahabatku. Ya Allah, aku sangat bersyukur Engkau menganugerahkan aku seorang sahabat seperti Lila. Sahabat yang selalu menemani dan berusaha membantuku disaat keadaanku terpuruk.
"Terima kasih sobat, tak bisa kubalas semua pengorbananmu" kubisikkan kata kata itu ditelinga sahabatku.
"Tak ada balasan jasa diantara sahabat, yang ada hanyalah keikhlasan yang tulus untuk kebersamaan dalam suka dan duka". Lilapun mengusap air mataku.
"Lila apa kabarkah Zila, sudah lama aku tidak mendengar beritanya".
"Zila baik baik saja Laras, dia sudah mempunyai seorang anak laki laki, Dewa namanya".

Kembali ku teringat masa 4 tahun silam, ketika Zila berkata kepadaku dia mau menikah. Aku bahagia mendengarnya. Kutanya siapakah lelaki yang berhasil menaklukan cinta sahabatku. Dengan gugup dan suara gemetar Zila menyebutkan nama Roki ditelingaku. Roki yang dulu mencintaiku.

Hening sesaat. Namun, segera kucairkan suasana di Telephone. Aku bilang kepada Zila aku bahagia mendengarnya. Kejadian antara aku dan Roki hanyalah masa lalu dan sejak dulu aku juga tidak mempunyai rasa cinta terhadap Roki. Jadi, jangan pernah mengingat masa lalu, dan hilangkan juga dipikiran Zila kalau dulu Roki pernah mencintaiku. Karena cinta Roki sebenarnya adalah mencintai Zila yang dibuktikan dengan Roki menikahi Zila. Oleh sebab itu, aku tidak ingin Zila mengetahui keterpurukanku.

Aku bersyukur Zila sudah mempunyai keturunan. Kutatap wajah cantik Lila, selama ini Lila tidak pernah mengeluh kepadaku jika kami berbicara mengenai keturunan. Dia selalu optimis. "Suatu saat nanti bila masanya tiba, Allah akan memberikanku keturunan anak". Itulah perkataan Lila yang selalu terekam jelas di memori ingatanku. "Ya Allah aku mohon kepada-Mu, jika Engkau belum memberikanku keadilan atas kasus yang menimpaku dan semuanya sudah kulalui dengan tertatih karena aku tetap dipenjara meskipun Engkau mengetahui bahwa aku tidak bersalah, tolong berikan aku keadilan Ya Allah, dengan Engkau mengabulkan satu doaku. Ya Allah, tolong berikan sahabatku Lila keturunan Anak yang soleh dan soleha. Aamiin. Ucapku dalam hati.

                                    xxxxx




Panas kurasakan dikakiku. Namun, tetap kutelanjangkan kaki menginjak pasir putih di Pantai Panjang ini. Kunikmati rasa panas yang ada, meskipun terasa sakit dikakiku. Teringat atas dua kejadian yang menimpaku. Di pasir putih inilah aku ditahan atas pemalsuan uang dan di pasir inilah Aldi melamar diriku. Akankah ada lagi kejadian yang menimpaku di Pasir Putih ini?.

"Laras aku bahagia, akhirnya engkau bisa menghirup udara bebas".
Berdebar jantungku mendengar suara yang tak pernah luput dalam hatiku. Aldi. Kutatap wajahnya, ingin rasanya aku memeluk dirinya, menangis dalam pelukannya, mengatakan masih adakah harapanku untuk menjadi istrimu. Aku ingin menceritakan keadaan yang sebenarnya bahwa aku belum menikah, hati ini selalu ada untukmu. Lila sudah bercerita kepadaku, bahwa Lila telah memberitahukan Aldi mengenai kasus hukumku sebelum kedatanganku di acara reunian. Lila terpaksa memberitahukan Aldi setelah Lila tahu niat Aldi mau melamarku di saat reunian tersebut. Aldipun tidak memperpedulikan kasusku, dia mempercayaiku dan tetap mencintaiku.

"Aldi, terima kasih kau sudah ada disini, menyambut kebebasanku. Tahukah kau aku melihatmu di seberang jalan dalam mobil, kau pikir aku tidak melihatmu. Namun, aku tidak menyangka kau mengikutiku hingga ke Pasir Putih ini. Dan aku juga berterima kasih kepadamu, kamu tetap mencintaiku bagaimanapun kondisiku saat itu".
"Iya Laras, aku mencintaimu apa adanya. Namun, kecewa telah menaklukan kesetiaanku. Kau telah bersuami dan aku memang harus melepaskanmu". Potong Aldi disela pembicaraanku. Aku terdiam. Teringat aku akan perkataan Lila, seharusnya aku tak berbohong kepada Aldi. Dan Lilapun ingin memberitahukan kepada Aldi kalau aku berbohong. Namun, kucegah Lila untuk mengatakannya kepada Aldi. Aku menyuruh Lila berjanji untuk tidak mengatakannya. Biar aku saja yang menjelaskan semuanya kepada Aldi disaat aku sudah keluar dari balik jeruji besi. Sama halnya yang dilakukan Aldi terhadapku. Mengungkapkan cinta disaat waktu yang tepat ketika tidak ada lagi jarak yang memisahkan kami. Demi kebaikan kami berdua.
Bibirku baru hendak berkata kepada Aldi, untuk menceritakan semuanya, tapi Aldi mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Berdebar jantungku melihat amplop berwarna Pink. Gemetar tubuh ini tak tertahankan. Tanpa ku buka aku sudah mengetahui isinya. Ya, undangan pernikahan Aldi. Gelap gulita kurasakan.
                                  xxxxx

Kubuka mataku, aku sudah berada ditempat tidurku, dirumah orang tuaku. Kulihat Aldi di sampingku menahan tangis di matanya.
"Laras, aku tahu kamu mencintaiku dan aku juga mencintaimu. Namun, kita ditakdirkan untuk tidak bersama. Kamu secara sah sudah dimiliki orang lain dan aku seminggu lagi akan menikah, Alia calon istriku. Jaga kesehatanmu karena aku sangat menginginkan kehadiranmu".
Kutatap Aldi, kubiarkan airmata mengalir dipipiku. Untuk yang pertama kali Aldi menyentuhku, menyentuh pipiku untuk menghapus airmataku. Hatiku hancur berkeping keping merasakan sentuhan tangan Aldi di pipiku. Isakku terus mengalir tiada henti mewakili rasa cintaku yang tenggelam di Pasir Putih.

Kulihat Kemuning dari kejauhan, disanalah Minggu besok Aldi dan Alia Menikah. Batinku berkata: "Tak sanggup kaki ini menginjak Kemuning untuk menyaksikan pernikahan Aldi dan Alia. Maafkan aku Aldi, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu". Kutatap yang terakhir kali di sekelilingku: Kemuning, Pasir Putih dan ombak yang bergemuruh di Pantai Panjang. Inilah kota kelahiranku, kota kecil dengan seribu cerita. Cerita tentang asa dan tangisku. Untuk yang terakhir kali, ku menangis tersedu di hamparan Pasir Putih.

Kulirik jam dilingkaran pergelangan kecil tanganku. Beberapa jam lagi aku harus tiba di Bandara Fatmawati untuk menuju kota pelajar. Ya, aku akan kembali ke kota pelajar, melanjutkan kehidupanku yang tertunda. Kuliahku dan kerjaku. Biarlah kututup kisahku ini hanya sebatas kebisuanku di Pasir Putih.

Aldi semoga kau bahagia, kebenaran akan diriku bahwa aku belum menikah biarlah engkau tidak mengetahuinya dan kebenaran diriku atas kasus uang palsu biarlah ombak di Pantai Panjang yang menepisnya. Ku genggam Pasir Putih, perlahan lahan surut pasir ini di sela jemariku. Seakan menolak untuk ku bawa pergi menuju kehidupan baruku. Akhirnya, aku menyadari Pasir Putih hanyalah tempat persinggahan untukku yang menjadi saksi bisu: tangis kebenaranku dan tangis kerapuhanku.



                                                      Bengkulu, 03 Februari 2015
                                                      Halijah Pasaribu
         








10 comments:

  1. Hebat... terharu hampir meneteskan airmata membacanya. Tp aku tdk suka ending nya yg tdk bahagia. By ju2end

    ReplyDelete
  2. Sebaiknya dalam penulisan percakapan, setelah tanda petik diakhiri tanda koma. Misal: "Ia yang datang," kataku.
    Semangat ya, Dik. Tulisannya enak dibaca. :)

    ReplyDelete
  3. Sedih bget, ga kuat baca. . .
    Kepanjangan haha.

    ReplyDelete
  4. saran ane ikut ajh freelancer gann lumayan bwt nambah2 rejeki cerpenya bgus tuh :)

    ReplyDelete