Friday, 20 March 2015

Asa ku Dalam "ERHA KATAKI"

Ketokan palu hakim mengesahkan sidang perceraianku. Ironis, baru dua bulan menikah aku sudah cerai secara agama. Sekarang, tepat setahun aku sah di mata hukum menyandang status janda. Aku sadari, perceraian ini terjadi karena kesalahan dari kami berdua. Aku pencemburu dan dia tidak bisa berbaur dengan keluarga besarku. Tapi, aku yakin perceraian ini adalah jalan yang terbaik untukku. Setelah ku coba berbagai cara untuk mempertahankan rumah tanggaku. Sebelum aku memutuskan untuk bercerai dengannya. Aku tidak menyangka, orang yang telah aku pilih untuk menjadi imamku, dengan seketika menghancurkan kehidupanku. Aku pikir, dia lelaki yang bisa membimbingku di dunia dan akhirat.













Teringat olehku, dulu ketika aku operasi Usus Buntu dia selalu menemaniku. Tak bergeming walau sejenak untuk meninggalkanku. Dia rela tidak bekerja ataupun untuk pulang ke rumah orang tuanya. Meskipun ibuku sudah menyuruhnya untuk pulang karena takut orang tuanya mencari dia. Tapi, dia tetap menemaniku di rumah sakit. Padahal, hubunganku dengan dia hanya teman biasa. Kata-kata itu selalu aku tekankan kepadanya karena aku tahu apa yang dia rasa. Seiring berjalannya waktu, aku menerima dia untuk menjadi pacarku. Dia langsung mengajakku menikah. Namun, saat itu aku belum siap untuk menikah. Hingga akhirnya, setelah tiga tahun berpacaran kami memutuskan untuk menikah.

Sebelum hari H, sempat ingin ku batalkan pernikahan kami. Aku tak kuasa melihat ayahku mengeluarkan air mata. Hal ini disebabkan karena aku tidak bisa memenuhi permintaan ayahku untuk menikah menggunakan Adat Batak. Namun, dia menyakinkan aku bahwa kami bisa menikah menggunakan Adat Batak meskipun dia bukan orang Batak. Dia hapus air mataku dan membawaku untuk menemui orang yang mungkin bisa membantu kami dalam mengurus pernikahan Adat Batak. Hati ayahku luluh melihat dia sangat berupaya mewujudkan Adat Batak. Ayahku pun memberikan izin kepada kami untuk menikah. Meskipun, hasil diskusi antara ayahku, keluarga besar ayahku dan tetua dari pihak Batak menyatakan Adat Batak tidak bisa diselenggarakan karena sesuatu hal. Akhirnya, kami menikah tanpa Adat Batak.


Dalam hitungan minggu, kami menikmati kebahagiaan rumah tangga yang baru kami bina. Setelah satu bulan dari pernikahan kami, pertengkaran hebat terjadi diantara aku dan dia. Aku putuskan untuk bercerai dengannya. Dia pun membalas keinginanku untuk bercerai dengannya. Malam hari, surat talak tulisan tangan, dia layangkan ke Ketua RT tempat tinggal kami. Di pagi hari, Ketua RT menyampaikan surat tersebut kepada orang tuaku. Sejak itu, kami tidak lagi berkomunikasi.


Setelah beberapa bulan lamanya aku menyandang status janda meskipun belum sah di mata hukum, aku putuskan untuk mengurus surat cerai di Pengadilan Agama. Dari petugas PA, aku di suruh ke BP4. Di BP4, aku menemui seorang ibu selaku pengurus masalah perceraian. Kuceritakan semua masalahku kepada ibu tersebut. Ibu tersebut pun mendukung perceraianku. Meskipun dia juga mengatakan: "Tidak seharusnya selaku pegawai BP4 dia mendukung keputusanku untuk bercerai. Karena tugas BP4 adalah berusaha untuk merujukkan pasangan suami istri." Selain itu, ibu tersebut berkata: "Sebaik-baiknya pemberi keputusan adalah Allah SWT. Apa yang terbaik bagimu belum tentu bagi Allah. Minta petunjuk kepada Allah dengan Istikharah. Berdoa kepada Allah: Jika memang perceraian yang terbaik untukku, tunjukkan kepadaku pengganti mantan suamiku. Jodoh yang terbaik untukku", ujar ibu tersebut menasehatiku.

Perkataan ibu tersebut sama dengan nasehat kakakku. Istikharah sudah aku lakukan sejak dia mengirimkan surat talak kepadaku. Hingga akhirnya, setelah beberapa bulan dari selesainya proses ceraiku di BP4, aku mengenal Mas Ervan. Pria yang ku kenal dari dunia maya, facebook. Dengan berjalannya waktu, hubungan aku dan Mas Ervan semakin akrab. Meskipun, kami belum pernah bertemu. Hanya via HP dan facebook, kami berkomunikasi.













Di Yogyakarta, pertama kali aku berjumpa dengan Mas Ervan. Lima hari aku mengambil cuti kerja. Tujuan utama cutiku adalah mengikuti tes CPNS di BNN Pusat. Selain travelling ke Pulau Jawa bersama sohibku Mbak Eni. Subuh hari, Mas Ervan sudah menjemputku di Bandara Adisutjipto. Terharu hatiku. Hanya untuk menemuiku, di tengah malam dari Semarang menuju Yogyakarta Mas Ervan mengendarai motornya seorang diri. Dalam hati, aku panjatkan syukur kepada Allah telah melindungi Mas Ervan. Selanjutnya, kami telusuri tempat-tempat wisata yang ada di Yogyakarta. Rasa kagum semakin melanda hatiku. Disaat Mas Ervan berhenti di Masjid untuk meluangkan waktunya, sholat. Ketika Mas Ervan sholat aku tertidur dalam masjid. Namun, dia tidak membangunkanku. Hingga aku terbangun dan segera mendekatinya sambil berkata: "Kenapa tidak membangunkanku." Dia pun bilang: "Mas tidak mau menganggu tidur adek." Sebelumnya, aku sudah bercerita kepada Mas Ervan bahwa selama di Jakarta aku tidak pernah tidur. Ku manfatkan waktuku, hanya untuk menikmati Kota Jakarta bersama sepupu dari pihak ayahku.

Gua Pindul, Pantai Parangtritis, Kesultanan, UGM, Malioboro dan Candi Borobudur merupakan tempat wisata yang kami kunjungi. Setelah itu, aku meminta Mas Ervan untuk mengantarkanku ke Jepara. Mbak Eni sudah menungguku disana. Ada keluarga Mbak Eni yang tinggal di Jepara. Oleh karena itu, di Jepara tempat pertemuanku dengan Mbak Eni. Sebelum kami kembali ke Bengkulu, tempat tinggal kami. Bergetar hatiku. Disaat Mas Ervan memperkenalkan Kota Semarang, tiba-tiba Mas Ervan berhenti di sebuah rumah. Terkejut aku. Mas Ervan membawaku ke rumah orang tuanya. Tidak kusangka, Mas Ervan menginginkan aku untuk bertemu dengan keluarganya. Setelah aku berkenalan dengan ibu, bapak dan adik satu-satunya yang sudah berkeluarga, aku melanjutkan kembali perjalananku ke Jepara. Di Jepara, aku disambut hangat oleh keluarga Mbak Eni. Paginya, aku di ajak Mbak Eni dan keluarganya untuk pergi ke tempat wisata Makam Sunan Muria. Selanjutnya, kami membeli kerajinan jati ciri khas Jepara. Malam hari, Mas Ervan kembali menemuiku di Jepara. Bahagia hatiku melihat kedatangannya. Kami pun bercerita. Baru ku tahu, selesai kerja tanpa sempat pulang ke rumah orang tuanya, Mas Ervan langsung menyusulku ke Jepara. Tiga jam jarak yang di tempuh dari Semarang ke Jepara. Hari sudah larut malam, Mas Ervan pun pulang ke Semarang. Subuh hari, aku dan Mbak Eni juga berkemas. Waktunya kami pulang ke Bengkulu. Tiket pesawat sudah jauh hari kami beli. Siang hari, aku dan Mbak Eni harus tiba di Bandara Achmad Yani, Semarang. Pesawat transit di Jakarta. Sore hari pesawat menuju ke Bengkulu.

Setelah dua bulan pertemuan kami di Pulau Jawa, Mas Ervan menemuiku di Bengkulu. Luar biasa bahagia hatiku. Aku tidak mengira, Mas Ervan datang lebih cepat dari janjinya untuk menemuiku. Dia bilang, disaat lebaran dia ke Bengkulu. Namun, masih 6 bulan lagi lebaran dia sudah datang menemuiku. Di hari ulang tahunku. Kedatangannya merupakan kado ultah yang terindah untukku. Meskipun demikian, Mas Ervan tetap memberikan kado ulang tahun mukena untukku. Ku kenalkan Mas Ervan ke keluargaku dan teman kerjaku. Selama satu minggu Mas Ervan di Bengkulu, ku ajak dirinya untuk mengelilingi tempat-tempat wisata yang ada di Bengkulu. Diantaranya: Pantai Panjang, Pantai Ujung, Pantai Teluk Sepang, Pelabuhan Pulau Baai, Rumah Kediaman Bung Karno, Benteng Marlborough, Tapak Paderi, Sungai Suci, Kabawetan dan Suban.

"Han, mbak pulang dulu," ujar Mbak Eni kepadaku. Membuyarkan lamunanku. Baru dua minggu kepulangan Mas Ervan dari Bengkulu ke Semarang. Sekarang putusan Hakim sudah mengesahkan perceraianku.
"Iya mbak, terima kasih," kataku. Mbak Eni tersenyum dan berlalu meninggalkanku. Hari ini, Mbak Eni dan kakakku menjadi saksi sidang perceraianku. Meskipun, sidang perceraianku tidak di hadiri mantan suamiku. Kakakku sudah terlebih dahulu pulang bersama ibuku. Sedangkan aku, masih harus menyelesaikan berkas pembayaran sidang perceraianku. Ku ketahui dari Hakim Sidang, ada kelebihan uang yang harus aku ambil dari sejumlah dana yang sudah aku setor sebelumnya. Setoran uang di Pengadilan Agama tersebut merupakan salah satu syarat untuk mengajukan gugatan cerai. Setelah aku menerima kelebihan uang tersebut, aku kembali ke kantor tempatku bekerja. Menepati janji kepada atasanku. Jika sidang perceraianku selesai aku segera ke kantor untuk melanjutkan pekerjaanku.
                                 xxxxx

Baru dua minggu putusan akhir sidang perceraianku, kabar buruk kembali menimpaku. Aku di mutasi dari pekerjaanku. Sales jabatan baru yang harus aku terima. Selain itu, aku harus menanda tangani surat pernyataan bersedia mengundurkan diri jika tidak mencapai target. Batinku pun menangis. Namun, ku tahan air mataku.


Aku tahu, Kepala Cabang (Kacab) tidak bisa berbuat banyak untukku. Pak Roni, Kacab baru di tempatku bekerja dan belum serah terima jabatan. Meskipun, jabatan Kacab di tempatku bekerja sudah beberapa minggu tidak berpenghuni. Kacab sebelumnya sudah lama non job. Kacab menyuruhku untuk langsung menghubungi HRD. Hal ini dikarenakan semua keputusan ada di Pusat. Aku telephone HRD. Ku katakan: "Aku tidak bersedia menjadi sales jika harus menanda tangani surat pernyataan tersebut meskipun di tempatkan di cabang yang sama. Dimana letak kesalahanku?" HRD pun menjawab: "Bukan bermaksud untuk menyudutkanku. Sekarang, di seluruh cabang, perusahaan sedang melakukan pengurangan karyawan. Akibat dari sedikitnya penjualan." Aku pun bilang kepada HRD: "Ketika penjualan banyak, aku selalu lembur. Meskipun aku tahu tidak ada uang lembur. Hampir setiap hari aku lembur. Pulang larut malam. Dulu, aku merasa dihargai ketika HRD menghubungiku untuk menjadikanku SPV. Namun, ku tolak karena aku lebih memilih untuk menikah. Tanggal pernikahanku bertepatan dengan tanggal training SPV. Dimana, jika aku bersedia menjadi SPV, aku harus training selama satu bulan di pusat." HRD terdiam mendengar perkataanku. Beberapa saat kemudian, HRD berkata: "Nanti, kami hubungi lagi bagaimana keputusan akhirnya."

Ku tutup telephone kantor. Hatiku berkata, tidak ada lagi posisi admin di kota ini. Karena di jabatan admin terjadinya pengurangan karyawan. Admin sales merangkap admin piutang. Di tempatku bekerja, admin piutang sudah terlebih dahulu di mutasi. Tinggal SPV piutang yang merangkap admin piutang. Sekarang, SPV piutang juga merangkap admin sales. Admin sales jabatanku sebelumnya. Setelah itu, aku izin pulang kepada Kacab. Di sepanjang perjalanan menuju rumahku, pikiranku kalut. Memikirkan mutasi dan nasibku. Tiba-tiba aku merasakan tubuhku tertarik. Ku lihat jaket yang kukenakan terlepas dari tubuhku. Dalam hitungan detik, aku terpental di trotoar. Ku dengar suara ramai di sekelilingku. Kurasakan masyarakat yang ada di lokasi tempatku terjatuh menolongku. Ku buka mataku, aku sudah berada dalam mobil di temani oleh rekan kerjaku dari cabang lain. Mereka membawaku ke rumah sakit. Di rumah sakit, sudah berkumpul teman kerjaku termasuk kacab. Ku pandangi mereka satu persatu untuk meminta maaf atas kesalahanku. Tidak lama kemudian, keluargaku datang menemaniku. Selanjutnya, aku dibawa ke ruang tindakan untuk dijahit lukaku.
                                   xxxxx

Hampir satu bulan sejak kecelakaan tersebut, aku masih terbaring di rumah orang tuaku. Aku masih belum bisa duduk karena di area dekat anusku terdapat luka dan benjolan berupa daging akibat kecelakaan motor tersebut. Sesal menyelinap ragaku. Seandainya, aku mengenakan jaket dengan benar, mungkin aku tidak akan terjatuh. Hanya sebelah lengan tangan kiri jaket aku pakai. Wajar saja, lengan tangan jaket sebelah kanan melayang hingga masuk ke dalam Gir Motor. Segera ku tepis sesalku. Aku harus ikhlas karena semua yang terjadi di dunia ini atas izin Allah. Aku bersyukur, ketika aku kecelakaan masih ada orang yang menolongku. Dari seragam kerjaku, aku dengan mudah teridentifikasi.

Jenuh diriku selalu terbaring di tempat tidur. Ingin rasanya aku duduk. Namun, aku tak sanggup menahan perih. Melihat aku yang masih belum bisa duduk, keluargaku membawa aku berobat ke Dokter Praktek, Dokter Densa. Salah satu dokter terbaik yang ada di tempat tinggalku. Dokter Densa mengatakan bahwa aku harus operasi ulang. Bongkar jahitan, di jahit ulang. Jahitanku salah yang di lakukan oleh dokter di rumah sakit pemerintah tersebut. Miring posisi jahitannya. Akibatnya, jaringan yang rusak tidak bisa bersatu kembali. Aku dan keluargaku pun menyetujui dilakukannya operasi ulang terhadapku.
                                   xxxxx

Ku tatap lampu besar yang ada di atas tubuhku. Menakutkan, itulah definisi satu kata bagiku untuk menjabarkan rasaku terhadap lampu tersebut meskipun sudah dua kali lampu operasi ini menemaniku. Ku lihat sekelilingku, semakin bergidik tubuh ini menatap alat-alat kesehatan yang ada di sekitarku.

Dingin luar biasa akhirnya menyergap tubuhku. Inilah ciri khas dari ruang operasi. Suhu dingin yang sangat menggigilkan tubuh. Aneh, hawa dingin tetap kurasakan. Padahal, aku sudah terbiasa dengan ruangan ber AC. Apa mungkin karena tubuhku yang lagi sakit sehingga suhu dingin menyelimutiku? Ntahlah, yang pasti dapat kurasakan irama gigi mulai bergemeretak di bibirku. Anggota tubuhku yang lainnya pun ikut menari-nari dalam kegemetaran. AKu coba menghilangkan gigilku. Dengan cara mengepal dan meremas erat tanganku.

Bayang tubuhku terlihat jelas di balik cahaya lampu operasi. Pikiranku melayang. Teringat akan kejadian nestapa yang menimpaku. Perceraian dan mutasiku. Isakku pun pecah. Kurasakan, semakin aku terisak, alat kesehatan yang menempel di lengan tanganku secara otomatis semakin berfungsi kinerjanya. Semakin mencengkram erat lengan tanganku. Begitupun sebaliknya, jika tangisku mereda yang diikuti dengan stabilnya alur nafasku, alat kesehatan yang ada di lengan tanganku tidak terlalu sering mencengkram erat lengan tanganku. Aku yakin, alat kesehatan ini untuk mendeteksi tensi darahku. Alat tersebut juga bersatu dengan monitor yang terletak tak jauh dari tempatku berbaring. Mungkin inilah yang dinamakan Patient Monitors. Alat kesehatan yang digunakan untuk memonitor pasien.

"Mbak, dokternya belum datang. Aku temani mbak ya..," ujar seorang perawat wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang operasi tempatku berbaring. Aku terkejut namun dengan segera aku menjawab: "Iya mbak dengan senang hati," akupun tersenyum menatap perawat tersebut.
"Mbak kenal dengan Serly?, aku di suruh Serly untuk menemani mbak," kata perawat tersebut.
"Oh Mbak Serly, kenal mbak. Dia tetangga sebelah rumah orang tuaku. Tapi, sekarang dia tinggal di rumah orang tuanya karena lagi hamil," ucapku. Baru teringat olehku, Mbak Serly perawat di rumah sakit swasta ini. Suami Mbak Serly kerja di luar kota. Seminggu sekali baru pulang menemui Mbak Serly. Oleh karena itu, sejak hamil Mbak Serly tinggal di rumah orang tuanya.
"Mbak aku kedinginan," lanjutku kepada perawat tersebut.
"Oh iya mbak, aku cari dulu selimutnya." Tak lama kemudian, perawat tersebut membawa selimut dan menutupinya di tubuhku. Hangat mulai terasa di sekujur tubuhku.
"Waduh mbak aku lupa, anting-antingan mbak belum aku lepas. Aku lepasin duluya," teriak kecil perawat tersebut. Akupun menganggukkan kepala sambil berkata: "Memangnya kenapa mbak setiap orang yang mau di operasi tidak diperbolehkan memakai perhiasan seperti cincin, kalung, gelang dan anting-anting?," tanyaku kepada perawat tersebut.
"Benar sekali itu mbak karena ruang operasi ini harus steril dan benda-benda tersebut banyak kumannya. Selain itu, alat-alat kesehatan yang ada di ruangan ini berhubungan dengan listrik. Perhiasan tersebut sangat rentan terhadap listrik. Takut menganggu proses operasi," jelas perawat tersebut kepadaku, sambil tangannya berusaha untuk melepaskan antinganku.
"Oh, begituya mbak," sahutku. Ehm, dulu aku ingin sekali menjadi dokter atau bidan. Di SMA pun aku sudah mempersiapkannya dengan mengambil Jurusan IPA. Dan aku berhasil mendapatkan beasiswa Akademi Kebidanan (Akbid) di salah satu universitas negeri ternama di kota pelajar, beda provinsi dengan tempat tinggalku. Namun, aku tidak mengambil beasiswa Akbid tersebut dan lebih memilih mengambil PMDK di universitas negeri tempat tinggalku, Jurusan Managemen Fakultas Ekonomi. Pastinya, tidak kusangka jurusan kuliah yang aku pilih adalah Jurusan IPS berbanding terbalik dengan jurusan yang aku pelajari di SMA, IPA. Namun, aku yakin dengan pilihanku karena sebelumnya aku sudah Istikharah. Sekarang, baru ku sadari mengapa hasil Istikharah tidak menyakinkan hatiku untuk mengambil Akbid. Ternyata, aku takut dengan gunting dan pisau jika berhubungan dengan darah. Sedangkan, darah dan benda-benda tersebut adalah satu kesatuan dari kebiasaan yang harus dihadapi oleh seorang dokter atau bidan.
"Mbak, antingannya ga mau terbuka, sudah dikunci rapat," keluh perawat terhadapku. Aku baru ingat, sewaktu aku membeli antingan ini, ibuku menyuruh orang toko yang menjual antingan tersebut untuk mengunci rapat antinganku. Hal ini disebabkan karena antinganku sering hilang dari telingaku.
"Mbak, mungkin ibu ku bisa melepaskan antingan ini. Panggil saja ibuku," kataku kepada perawat tersebut.
"Sudah tidak diperbolehkan lagi mbak orang masuk di ruang operasi ini, selain dokter dan perawat yang menangani operasi," jawab perawat tersebut.
"Ya sudahlah, anting-antingannya tidak jadi dilepas. Mudah-mudahan tidak kenapa-kenapa mbak. Lagian lumayan jauh jarak anting-anting dengan lokasi tubuh yang mau di operasi," lanjut perawat itu lagi. Aku hanya terdiam. Ku pasrahkan semuanya kepada Allah SWT.
"Mungkin sebentar lagi dokternya datang mbak. Aku juga kalau berobat sama Dokter Densa. Sekarang aku lagi hamil. Hamil anak yang ke dua," kata perawat tersebut.
"Oh mbak lagi hamilya, pantesan aku perhatikan dari tadi perut mbak agak besar," ujarku sembari tersenyum kepada perawat tersebut.
"Anak pertama mbak cewek atau cowok?" lanjutku.
"Cowok mbak, mudah-mudahan yang ke dua ini cewek," sahut perawat tersebut dengan antusias. Akupun langsung mengaminkan perkataan perawat tersebut.

Selang beberapa detik kemudian, disaat aku dan perawat hening tanpa pembicaraan, datang dua orang perawat laki-laki rekan kerja perawat yang sedari tadi menemaniku. Ku dengar dari pembicaraan mereka Dokter Densa sudah datang. Mereka pun sibuk mempersiapkan perlengkapan operasi yang dibutuhkan. Sekilas ku lihat tanpa sempat memperhatikan wajah, seorang pria datang dan langsung menghampiriku dan menyuruhku duduk. Sempatku ragu untuk duduk. Takut sakit yang kurasakan.
"Mbak percayakan saja sama kami. Mbak duduk sebentar, nanti tidak lagi terasa sakit," ujar salah satu perawat membujukku. Mendengar perkataan perawat tersebut, ku coba untuk duduk, sakit kurasakan. Namun, ku tahan sakitku karena aku percaya dengan perkataan perawat tersebut. Kurasakan di belakang badanku di suntik. Tidak berapa lama, sakit yang kurasakan tiba-tiba menghilang, yang ada hanyalah mati rasa di bagian tubuhku pinggang ke bawah. Sayup-sayup tak ku dengar lagi orang di sekelilingku berbicara.
                                    xxxxx

"Mbak, kami angkat tubuhnya. Mbak mau kami pindahkan di ruang inap." Ku dengar suara seakan berbicara kepadaku. Ku buka mataku, terlihat di sekelilingku perawat, keluargaku dan sahabatku Mbak Eni. Mereka beriringan mengikuti perawat yang sedang mendorong tempat tidur, tempat aku berbaring. Dan aku hanya terdiam dalam tanda tanya: "Sudah selesaikah operasinya?"
"VIP Kamar Utama 5", ku baca papan nama yang tertera di atas pintu ruang yang kami masuki. Baru ku sadari bahwa aku sudah selesai di operasi dan sekarang aku dirawat inap.

"Han, makan duluya biar ada tenaga," ujar Mbak Eni kepadaku. Aku mengangguk. Perlahan-lahan, Mbak Eni mulai menyuapkan Lemang ke dalam mulutku. Ku tatap Mbak Eni, teringat aku ketika dulu Mbak Eni mau di operasi. Operasi Tumor dari sebuah tahi lalat yang menempel di sekitar hidung. Sebelum operasi di mulai, Mbak Eni menangis tersedu. Aku hanya terdiam. Ku hapus air matanya. Namun, air mata Mbak Eni terus mengalir tiada henti. Sekarang, baru terasa olehku makna tangisan Mbak Eni. Tangisan yang berawal dari rasa sedih dalam balutan penderitaan. Sedih karena kenangan hidup yang pahit dari sebuah perceraian. Sendiri tanpa suami ataupun tanpa orang terkasih. Itulah yang Mbak Eni rasakan sama seperti yang aku rasakan.
"Jangan banyak pikiran, jalani saja hidup ini," ujar Mbak Eni kepadaku.
"Iya mbak," jawabku lirih.
"Han, mbak mau ke kantor, absen pulang. Nanti, mbak kesini lagi jenguk Hana. Sekarang Hana istirahat dulu," kata Mbak Eni kepadaku.
"Iya mbak, terima kasih." Mbak Eni pun berlalu meninggalkanku. Teringat olehku, perkataan Mbak Eni. Sudah satu bulan Mbak Eni naik jabatan menjadi Sales Silver di tempatku bekerja. Bahagia hatiku mendengarnya.
Setelah kepergian Mbak Eni, ku lihat kakakku mendekatiku. Mengusap halus keningku. Kurasakan betapa sangat sayang kakakku kepadaku. Meskipun, aku selalu mengecewakan keluargaku. Namun, keluargaku selalu menemaniku. Mendengar tangisku dan memberikan pencerahan kebaikan hidup untukku. Kakak dan abang iparku selalu memotivasiku. Aku bersyukur abang ipar juga sayang kepadaku, menganggapku seperti adik kandungnya sendiri. Ya Allah, aku bersyukur memiliki keluarga besarku: ibu, ayah, kakak dan abang iparku.

"Han bangun nak, perawat mau periksa." Ku buka mataku terlihat ibuku di sampingku. Selain itu, ku lihat juga ada ibu dan adik dari abang iparku serta saudara dari pihak ayahku. Kakek dan saudara dari ibuku datang menjengukku ketika aku di rawat di rumah sakit pemerintah. Batinku berkata: "Aku sudah merepotkan mereka. Mereka selalu menjengukku. Aku bersyukur atas perhatian mereka kepadaku."

Nyeri kurasakan. Ketika perawat menyuntikkan obat melalui selang infusku. Aneh, obat anti nyeri ini selalu terasa nyeri disaat masuk ke dalam tubuhku. Padahal, obat anti nyeri. Beda halnya dengan obat antibiotik. Obat ini tidak terlalu nyeri ketika masuk ke dalam tubuhku. Setelah perawat memberikanku obat dan memeriksa tensi darahku, perawat berlalu meninggalkan ruanganku. Ku dengar, keluarga besarku membahas mutasiku. Menurut mereka, mutasi adalah satu satunya cara untuk memecat karyawan tanpa pesangon. Aku membenarkan perkataan mereka. Teringat nasib rekan kerjaku. Mereka sudah bertahun-tahun lamanya mengabdi di perusahaan tempatku bekerja, akhirnya berhenti tanpa pesangon. Mereka tidak bersedia dari admin di mutasi menjadi sales dan penempatannya pun di luar kota. Ku hela nafasku. Inilah resiko bekerja di perusahaan swasta.

Terasa keram kakiku. Perlahan-lahan mulai bisa ku gerakkan kakiku. Setelah lebih dari setengah hari bagian pinggang hingga ke bawah kaki tak dapat ku rasakan. Sekarang, obat bius sudah hilang dari tubuhku. Ku dengar HP ku berbunyi. Nada dering dari sms yang masuk. Ku lihat kakakku membalas sms yang ada di inbok tersebut.
"Ervan dari tadi menanyakan kabar Hana," kata kakakku.
"Kak, Hana mau lihat HP." Kakakku segera mengambil HP dan memberikannya kepadaku. Ku lihat di panggilan tak terjawab, panggilan masuk dan inbok, nama Mas Ervan mendominasi HP ku. Mas Ervan sangat perhatian kepadaku. Begitu juga dengan Ibu Mas Ervan. Sudah dua kali Ibu Mas Ervan menanyakan keadaanku.

"Dek, cepat sembuhya. Mas minta maaf, sampai sekarang mas belum bisa menjenguk adek." Salah satu isi sms Mas Ervan di HP ku. Tanpa Mas Ervan bilang, aku sudah memakluminya. Baru satu bulan lebih, kembalinya Mas Ervan ke Semarang. Tidak mungkin lagi Mas Ervan cuti kerja. Mas Ervan pun harus kuliah.
"Hana," terdengar suara Mbak Eni memanggilku. Aku tersenyum. Segera ku letakkan HP di samping tubuhku.
"Ini mbak bawakan baju untuk salinan."
"Terima kasih mbak," ujarku kepada Mbak Eni. Ku lihat baju operasi masih melekat di tubuhku. Besok pagi, aku pakai baju pemberian Mbak Eni.
"Han, pulang kerja besok, orang kantor mau menjenguk Hana."
"Oh iya mbak. Mereka tidak jadi menjengukku juga tidak apa-apa karena mereka sudah pernah menjengukku. Aku tidak mau merepotkan mereka." Mendengar perkataanku Mbak Eni tersenyum menatapku. Setelah beberapa lama kemudian, Mbak Eni pamit pulang. Mbak Eni tidak bisa lama di rumah sakit karena Rion anak Mbak Eni sedang berada di rumah. Selama ini, Rion sering tinggal di rumah neneknya. Di rumah orang tua Mbak Eni. Aku salut dengan Mbak Eni. Dia bisa memenuhi kebutuhan Rion tanpa sepeser rupiah pun dari mantan suaminya. Tragis, seorang Ayah melupakan anak kandungnya sendiri. Anak dari mantan istri pertamanya. Aku tahu mantan suami Mbak Eni sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak. Hari semakin larut, mataku sudah mulai mengantuk. Kulihat keluargaku dan tetangga yang menjengukku masih bercerita tentangku. Menceritakan tentang kesalahan jahit terhadapku yang di lakukan oleh salah seorang dokter di rumah sakit pemerintah. Terdengar olehku tetangga yang menjengukku ikut mengatakan bahwa keluarganya pernah juga mengalami kejadian malpraktek di rumah sakit pemerintah tersebut. Terlihat jelas, nada kecewa di pembicaraan mereka mengenai pelayanan di rumah sakit tersebut. Pelayanan dari sebagian besar perawat, dokter maupun petugas medis lainnya. Tak lama kemudian, tetanggaku pulang ke rumahnya. Aku baru tahu di ruang VIP, tidak ada batas waktu pengunjung untuk menjenguk pasien. Dari pagi hingga larut malam, tidak ada pihak dari rumah sakit yang mengingatkan kepada kami bahwa habisnya waktu jam jenguk. Fasilitas di ruangan ini pun memadai. Ada televisi, Ac, kulkas, lemari pakaian, wastafel, meja dan kursi hingga tempat tidur untuk yang menjaga pasien.
                                    xxxxx

Sore hari, seperti yang dikatakan Mbak Eni, teman kerjaku datang menjengukku. Bahagia hatiku melihat kedatangan mereka. Mereka tetap peduli kepadaku. Meskipun mungkin aku sudah tidak lagi bekerja di antara mereka. Di ruang lingkup cabang yang sama. Kacab, SPV Sorum, SPV Piutang, Staf Kasir, Surveyor, Koordinator Sales dan Sales, yang ke tiga kalinya mereka datang menjengukku.

"Assalamualaikum," sahutku ketika nada panggilan masuk berbunyi di HP ku.
"Wa'alaikum salam. Ganggukah dek?"
"Nggak mas. Tadi ga adek angkat telephonenya karena teman kantor lagi datang menjenguk adek. Ini baru saja mereka pulang."
"Oh begitu. Sekarang bagaimanakah keadaan adek?"
"Alhamdulillah sudah agak baikan mas. Kata dokter, besok perban adek sudah bisa di lepas. Kemungkinan juga adek sudah di perbolehkan pulang."
"Alhamdulillah. Adek, mas mau pulang dulu ke rumah."
"Iya mas, hati-hati. Kalau sudah di rumah kasih tahu adek."
"Iya dek", ujar Mas Ervan kepadaku. Setelah itu, komunikasi terputus di HP ku. Hampir setiap hari, setelah pulang kerja Mas Ervan selalu menelephoneku.
              
            
Pagi hari, Dokter Densa sudah datang memeriksa lukaku. Membuka perbanku.
"Bagus lukanya. Hari ini sudah bisa pulang. Jumat depan kontrol ulang di praktek saya," ujar Dokter Densa.
"Iya dok, terima kasih," ujarku sumringah. Setelah Dokter Densa dan perawat meninggalkanku, ku gerakkan badanku untuk bangkit dari tidurku. Aku ingin mencoba untuk duduk. Perlahan-lahan, aku mulai duduk di kursi. "Alhamdulillah," syukurku. Akhirnya, aku bisa duduk walau masih terasa nyeri. Tak sabar hatiku untuk segera sembuh. Melanjutkan kembali aktivitasku yang tertunda. Mungkin, sekembalinya aku di tempat kerja, aku sudah tidak di butuhkan lagi di perusahaan tersebut. Karena, sudah satu bulan lebih aku tidak masuk kerja. Kabar mutasiku, silih berganti tak tentu arah. Dari Sales berubah menjadi Admin Spart Part/ Front Bengkel Cabang Manna. Tiga jam jarak yang di tempuh untuk menuju cabang tersebut dari tempat tinggalku. Kemudian, kabar terakhir yang ku dengar menjadi Sales Counter di Cabang Penarik. Enam jam jarak yang harus di tempuh dari rumah orang tuaku. Miris, aku mendengarnya. Sekarang, aku pasrah dengan mutasiku. Tak ingin, aku memikirkannya.

"Ibu, Bapak rincian biaya berobat sudah selesai. Silahkan ke ruang administrasi bagian pembayaran," kata perawat yang masuk ke ruanganku. Ayah dan kakakku, segera mengikuti perawat tersebut. Membayar biaya tambahan atas pengobatanku. Hal ini disebabkan karena dari Kelas 2 Kartu In Health tempatku bekerja, keluargaku menginginkan aku untuk masuk Ruang VIP. Setelah keluargaku menyelesaikan berkas pembayaranku, kami langsung meninggalkan rumah sakit menuju rumah orang tuaku.
                                     xxxxx

Ku ketik di Oppo ku, kalimat demi kalimat. Curahan hati ku tuangkan dalam sebuah tulisan. Sudah beberapa minggu, aku tak lagi menulis. Sejak aku menulis "Tangisku Tenggelam Di Pasir Putih." Cerpen pertamaku yang berhasil dipublikasikan.

Teringat olehku, sejak aku terbaring di tempat tidur karena kecelakaan tersebut. Aku mengeluh kepada Mas Ervan. Ku katakan padanya, jenuh aku dengan rutinitasku. Hanya berdiam diri tanpa kegiatan yang berarti. Selain itu, ku katakan padanya, bagaimana aku harus membayar hutang bankku, jika aku tak lagi bekerja. Mas Ervan bilang kepadaku, rezeki tak kemana. Dia pun bercerita kepadaku tentang orang yang mendapatkan royalti meskipun dia berada di dalam rumah.
"Adek coba saja menulis cerpen. Mudah-mudahan, melalui cerpen adek bisa mendapatkan penghasilan," ujar Mas Ervan saat itu. Dulu, ketika aku SMP hingga SMA aku memang suka menulis cerpen dan puisi. Tapi, cerpen tersebut tidak pernah aku kirim ke media cetak atau penerbit. Hanya dibaca teman dekatku saja. Sekarang, Mas Ervan memotivasiku untuk kembali menulis cerpen. Saat itu, aku bilang kepadanya, bagaimana jika aku menulis novel. Mas Ervan berkata: "Cerpen saja dek biar mudah di publikasikan." Akupun mengikuti perkataan Mas Ervan. Aku mulai menulis cerpen. Meskipun, aku terbaring di tempat tidur. Di HP Oppoku, kutuangkan sebuah tulisan. Dengan menulis, hari-hariku di rumah tak lagi bosan kurasakan. Hingga akhirnya, "Tangisku Tenggelam Di Pasir Putih" selesai ku buat. Ku kirim cerpenku kepada Mas Ervan via BBM. Mas Ervan pun membacanya. Kemudian berkata kepadaku: "Dek, apa nama situs cerpen yang menurut adek bagus untuk di publikasikan," aku pun menjawab "Balada Cerpen, Nuansa Cerpen, Cakrawala Cerpen dan Gelora Cerpen." Esoknya, Mas Ervan mengirim sms kepadaku. Singkat isinya: geloracerpen.blogspot.com. Ku buka situs tersebut. Berkaca-kaca mataku, "Tangisku Tenggelam Di Pasir Putih" ada di dalam situs tersebut. Bahagia ku rasakan. Melalui situs tersebut, karyaku bisa di baca oleh semua kalangan pengguna internet. Baru beberapa hari terbitnya situs tersebut, ku lihat sudah cukup banyak orang membaca cerpenku. Di Inbok Facebookku, ku ketahui teman SMA ku, meminta izin kepadaku untuk mengeprint cerpen tersebut. Sebagai bahan ajaran Bahasa Indonesia di SMA dan MTs tempat dia mengajar. Terharu, aku mendengar perkataan temanku tersebut. Selain itu, dari temanku atau dari pengguna situs internet yang tak ku ketahui, mereka bilang kepadaku agar aku mengirimkan cerpen tersebut ke media cetak atau penerbit buku maupun ke penerbit via online untuk mendapatkan royalti.

Nada dering di Nokia ku berbunyi. Mengagetkanku dari lamunanku, tulisanku. Segera ku angkat telephoneku.
"Assalamualaikum," sapaanku ketika menjawab telephone Mas Ervan.
"Wa'alaikum salam. Bagaimana dek, sudah selesaikah?" suara Mas Ervan terdengar di Nokiaku.
"Belum mas, adek bingung bagaimana endingnya."
"Happy ending. Kita harus memperjuangkan hubungan kita hingga ke pelaminan. Menikmati hari tua dengan kebersamaan kita."
"Aamiin. Mas tidak malukah mas adek menceritakan tentang kita terutama tentang adek?"
"Tidak dek," tegas Mas Ervan kepadaku.
Mendengar perkataan Mas Ervan, bahagia bercampur haru menyelimuti hatiku. "Ya Allah, setelah kejadian nestapa beruntun menimpaku. Dari perceraian, mutasi hingga kecelakaan, masih Engkau selipkan kebahagiaan kepadaku. Aku bersyukur Engkau mempertemukanku dengan Mas Ervan. Aku berharap dialah jodoh yang terbaik untukku. Jodoh yang telah Engkau siapkan untukku. Dia hadir disaat aku terpuruk. Membangkitkan semangatku agar aku selalu percaya dengan semua cara Mu untuk membuatku menjadi manusia yang lebih baik lagi."
"Dek..," sahut Mas Ervan, kembali terdengar di telingaku. Memecahkan syukurku kepada Allah.
"Iya mas. Mas, adek mau nulis lagi. Adek ingin secepatnya menyelesaikan cerpen ini."
"Oh iya dek, kalau begitu mas matikan telephonenya."
"Iya mas. Mas istirahat dulu di rumah, mempung ga masuk kuliah hari ini."
Setelah itu, ucapan salam mengakhiri percakapan kami via telephone.





Segera ku ambil Oppoku. Ku lanjutkan kembali tulisanku. Lewat cerpen yang ku ketik ini, aku ungkapkan semua isi hatiku. Tanpa beban, ku kisahkan tentangku. Paragraf demi paragraf tersusun indah di Oppoku. Membentuk halaman yang terpampang manis di layar sentuh Oppoku.

"Alhamdulillah," ucapku. Setelah beberapa hari lamanya, akhirnya cerpen ini selesai juga aku buat. Saatnya aku membaca dari awal hingga akhir cerpen ini. Sekaligus untuk memeriksa tulisannya sebelum aku kirim ke Mas Ervan. Esok paginya, ku telephone Mas Ervan.
"Mas, alhamdulillah cerpen adek sudah selesai," kataku antusias.
"Alhamdulillah dek. Sekarang, adek kirim ke mas ya."
"Iya mas." Akupun langsung mengirim cerpen tersebut ke Mas Ervan via BBM.
Jam demi jam berlalu meninggalkan waktu. Sejak pagi tadi, setelah aku mengirimkan cerpen tentang kami, hingga malam ini Mas Ervan tak menghubungiku. Sms ku pun tak dibalas. Begitu juga dengan telephoneku. Biasanya, sesibuk apapun Mas Ervan selalu menyempatkan diri untuk menghubungiku. "Ya Allah, ada apakah ini? Apa yang terjadi?". Pikiran buruk mendera otakku. Batinku pun menangis. Teringat kembali olehku, perkataan kakakku dan ibu yang ada di BP4 tersebut: "Apa yang terbaik bagimu, belum tentu yang terbaik menurut Allah." Seketika kecewaku hilang di telan waktu. Hatiku berkata: "Jika saat ini kecewa kurasakan, aku harus tetap bersyukur. Allah tahu apa yang terbaik untukku. Bukankah aku sudah meminta kepada Allah, jodoh yang terbaik untukku? Mudah-mudahan Allah mengabulkan permintaanku. Karena, aku sudah merasakan perceraian. Jadi, jika aku ingin menikah kembali, jangan lagi ada perceraian dalam hidupku. Cukup sekali saja dalam hidupku bercerai, melakukan perbuatan yang paling di benci Allah meskipun Allah mengizinkannya. Aku harus berusaha menjadi manusia yang terbaik di mata Allah. Agar Allah percaya kepadaku untuk memberikanku jodoh yang terbaik. Akupun tertidur di peraduanku.
                                  xxxxx

Ku tatap lelaki yang ada di sampingku. Terasa damai hatiku. Bahagia tak juga dapat menggambarkan rasaku. Melebihi rasa hidup untukku. Ku lihat pemandangan di sekitarku. Takjub mataku menatap Masjid Agung Jawa Tengah ini. Rumah Allah dan sekaligus salah satu tempat wisata yang ada di Semarang. Baru kali ini aku melihat masjid yang begitu megah.
"Dek, kita zuhur dulu."
"Iya mas," sahutku. Kurasakan genggaman erat di tanganku seolah-olah tak ingin diriku terlepas darinya. Mas Ervan menuntunku menuju tempat wudhu. Sudah sehari aku berada di Semarang. Ini yang pertama kali untukku, menginjakkan kaki ke Kota Semarang. Menikmati panorama Kota Semarang. Dulu, ketika aku travelling, aku hanya melewati saja Kota Semarang. Cuma singgah di rumah orang tua Mas Ervan dan cuma singgah di Bandara Achmad Yani. Masjid Agung ini, tempat wisata yang pertama kali di perkenalkan Mas Ervan kepadaku, di Kota Semarang.


Teringat olehku, setelah aku mengirimkan cerpen yang selesai aku buat, Mas Ervan tidak menghubungiku. Namun, esoknya Mas Ervan memberitahukan kepadaku bahwa HP nya rusak. Selain itu, Mas Ervan sedang mengikuti seleksi Pelatihan Network Administration yang di selenggarakan oleh BPPTIK, Kementerian Komunikasi dan Informatika. Mas Ervan pun lulus seleksi. Sehingga lusanya, Mas Ervan ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan tersebut. Satu minggu kemudian, pulang dari pelatihan tersebut Mas Ervan dan keluarganya langsung menuju Bengkulu menemui keluargaku. Melamar diriku. Sejak itu, aku lebih memilih keluar dari tempatku bekerja. Hal ini dikarenakan setelah menikah aku dan Mas Ervan tinggal di Semarang. Padahal, baru satu minggu aku masuk kerja dan mutasi tidak jadi aku alami. Posisiku tetap di jabatan sebelumnya, Admin Sales.

"Adek, wudhu di sini ya..mas juga mau wudhu di sana," kata Mas Ervan kepadaku sembari telunjuknya mengarah ke tempat wudhu pria.
"Iya mas," kataku. Mas Ervan pun berlalu meninggalkanku. Segera ku berwudhu. Selanjutnya sholat. Dalam doaku, tangisku pecah. Bukan karena dukaku. Namun, tangisan kebahagiaanku. Aku berharap inilah pernikahan terakhirku. Pernikahan yang di ridhoi Allah. Terciptanya keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah. Cuma maut yang dapat memisahkan kami.

Satu Minggu lagi, aku dan Mas Ervan menikah. Begitu cepat kejadian menimpaku. Seakan-akan waktu hanya mengenal putaran "Stopwatch" dalam hidupku. Hanya hitungan bulan, berbagai tragedi menerpaku. Ku ingat perkataan kakakku ketika menasehatiku: "Allah mempunyai rencana kebaikan dibalik sebuah musibah. Siapa tahu, setelah kecelakaan ini Hana menikah, sama seperti kakak. Menikah dengan abang setelah kakak jatuh dari motor karena di jambret." Sekarang, perkataan kakakku tersebut benar adanya.

"Adek," panggil Mas Ervan kepadaku.
"Iya mas," segera ku beranjak dari tempat dudukku. Menghampiri Mas Ervan.
"Kita duduk di sana saja dek." Tunjuk Mas Ervan kepadaku. Akupun mengikutinya. Setelah itu, kami duduk lesehan diluar ruangan utama masjid.
Kulihat Mas Ervan mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Sambil berkata kepadaku:
"Mas pernah bilang sama adek, cerpen adek harus di akhiri happy ending. Mas juga bilang mas upload ke situs geloracerpen.blogspot.com ketika kita tiba di Semarang. Setelah adek di samping mas. Bukan di saat mas jauh dari adek. Sekarang, di masjid ini, di rumah Allah kita uploadnya." jelas Mas Ervan kepadaku. Terharu aku mendengar perkataan Mas Ervan. Selama ini, terkadang kesal melanda hatiku ketika Mas Ervan tak menjawab pertanyaanku. Disaat aku sms: "Lagi ngapainkah mas?." Meskipun, Mas Ervan sudah membalas smsku, dengan kata-kata: "Tidak semua yang kita lakukan harus dikatakan. Karena diam bukan berarti lupa. Sepi bukan berarti hilang. Jauh bukan berarti putus. Walau, Mataku tak selalu melihatmu. Walaupun, tanganku tak bisa menyentuhmu dan kakiku yang tak selalu jalan bersamamu. Tapi, aku punya hati yang selalu mengingat dan menyayangimu." Sekarang, baru aku sadari, pikiran burukku berbanding terbalik dari kenyataan yang sebenarnya terjadi. Seharusnya, pikiran positif yang aku tanam ke dalam otakku. Bukan pikiran negatif yang justru membuat hatiku tersiksa.
"Adek, cerpennya sudah terupload," kata Mas Ervan tersenyum sumringah kepadaku.
"Iya mas," sahutku dan membalas senyum Mas Ervan. Kulihat di layar laptop Mas Ervan terpampang jelas nama situs cerpen kami geloracerpen.blogspot.com. Sekarang, di dalam situs tersebut sudah ada dua cerpen karyaku. "Asaku Dalam Erha Kataki" cerpen yang barusan kami upload. Cerpen kedua ku yang menceritakan tentangku. Erha adalah singkatan dari nama kami. Ervan dan Hana. Kataki berasal dari kata kita. Maksud kita di sini adalah semua orang yang mau merestui dan mendoakan hubungan kami menuju ridho Allah.
Akhirnya, Erha Kataki dapat kami simpulkan: sebatas Ervan dan Hana kata kita, yang berarti bahwa adanya dukungan penuh dari berbagai pihak yang ikut memperkokoh hubungan kami menuju keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.
                
                                                               
                                              Bengkulu, 20 Maret 2015

                                                 Halijah Pasaribu
                                                

      





                                       

















Baca Selengkapnya . . . .

Monday, 2 March 2015

Tangisku Tenggelam Di Pasir Putih


Ku tatap sayu lelaki yang ada di depanku. Luluh hati ini disaat dia menatap tajam mata ku. Kikuk dan gemetar hinggap di tubuhku.
" Laras puisi mu bagus, maaf aku mengambilnya sesudah kamu membuangnya di tong sampah kemarin".

Aku terperangah tak percaya mendengar ucapan lelaki yang ada di depanku. Ya, bagaimana mungkin lelaki yang selalu jadi bahan rebutan kaum hawa di sekolahku ini mau berbicara denganku, menyukai puisiku. Sedangkan aku, bukanlah sosok murid yang cerdas, wajahpun pas pasan. Berbeda dengannya: juara umum, Ketua Osis dan tampan rupawan.

"Laras tak suka kah kau aku mengambil puisimu" Ujar Aldi membuyarkan ketakjubanku.
"Eh, Oh tentu saja Aldi kamu boleh mengambil puisi tersebut dan terima kasihya sudah menyukai puisiku".
Aldi pun tersenyum dan berlalu meninggalkanku.

"Cie cie...Laras.." Teriak sohibku Lila dan Zila dari kejauhan sambil mendekatiku.
"Apaan sih.." Jawabku menahan malu.
"Kami lihat kok Aldi menyapamu, ehm kayaknya cintamu tak bertepuk sebelah tangan" Ucap Lila centil, menyudutkanku.
"Ih, apaan sih, kata siapa aku suka Aldi"
"Hallahh..ga mau ngaku juga nih..Laras kami tuh tahu kamu suka Aldi, tatapan matamu itu loh ga bisa dibohongi. Setiap Aldi hinggap di penglihatanmu, matamu selalu tak bergeming menatapnya" Zilapun tak mau kalah menyudutkanku.
"Hayyo, ingat ga puisi yang kamu buat kemarin "Rasaku", di bawah puisi tersebut kamu cantumkan nama Aldi" Lila tersenyum genit menatap wajahku.
"Haduh kalian ini pintar banget buatku selalu tak berkutik..nyebelin..iya aku suka Aldi tapi ga mungkin toh dia suka aku"
"Kata siapa, kita lihat saja nanti" Ujar Lila.
Zilapun berkata: "Ras, emangnya Aldi tadi berbicara apa saja sama kamu".
"Aldi bilang dia menyukai puisiku, dia mengambil puisi yang sudah aku buang di tong sampah kemarin"
"Nah itu buktinya, Aldi suka kamu, pasti kemarin Reno mendengarkan semua pembicaraan kita, waktu aku bilang: kamu suka Aldi. Reno kan sahabatnya Aldi. Setelah lama kita berbicara baru kita sadar di belakang kita ada Reno" Ucap Lila.
"Iya benar banget tuh, lagian ngapain Aldi ubek ubek sampah mau cari puisimu. So, berarti banget puisi tersebut bagi Aldi"
"Yups, setuju aku dengan pikiranmu Zila" Lilapun mengacungkan kedua jempol tangannya dengan penuh semangat. Akupun tersenyum bahagia mendengar penafsiran mereka tentang Aldi.

Kau adalah hatiku, kau belahan jiwaku
Seperti itu ku mencintamu sampai mati..

Lagu Utopia terus aku putar di HP berulang kali. Ehm, aku tersenyum sendiri dengan rasaku. Seperti inikah rasanya jatuh cinta? melamun tiada henti memikirkan orang terkasih. Lirik lagu "Mencintaimu Sampai Mati" mungkin terdengar konyol dilogikaku. Bagaimana mungkin aku mencintai orang tersebut sampai mati sedangkan aku sendiri, belum mengetahui apa yang dirasakan orang tersebut terhadapku. Aldi, apa mungkin kamu juga mempunyai rasa yang sama terhadapku? Ntahlah, aku tak mau terlalu berharap. Aku nikmati saja rasa yang ada.

"Larassss" terdengar teriakan histeris sahabatku Lila dan Zila. Kulihat wajah mereka sumringah bahagia.
"Laras, Aldi mencintaimu. Tahukah kau, tadi kami menemui Aldi setelah dia selesai makan Bakso di Kantin. Kami bilang kalau kamu mencintainya, maukah Aldi menerima cintamu? dan Aldi bilang iya dia mencintaimu Laras".
Aku terkejut mendengar perkataan sahabatku. Marah bercampur bahagia. Aku marah karena tanpa seizinku sahabatku mengatas namakan aku untuk mengungkapkan rasa cintaku kepada Aldi. Dalam kamus hidupku, tidak seharusnya kaum hawa terlebih dahulu yang mengungkapkan rasa cinta terhadap kaum adam. Namun, aku bahagia setelah tahu Aldi juga mencintaiku. Aku tatap sahabatku dengan mata berbinar.

Kulihat dibalik jendela Aldi duduk di bawah Pohon Beringin. Kenapa Aldi belum pulang batinku sedangkan teman sekelas IPAnya sudah pulang semua. Kelasku IPS 1 hari ini agak lama pulangnya karena Ibu Meta Guru Ekonomi sedang menatar kami akibat banyaknya temanku yang tidak membuat pekerjaan rumah (PR) Ekonomi. Beda halnya dengan IPS 2 kelas sahabatku Lila dan Zila mereka juga sudah pulang. Akhirnya waktu pulangpun tiba. Seluruh temanku langsung bubar meninggalkan kelas termasuk diriku. Kutatap Aldi, namun satu katapun tak juga keluar dari bibirku. Aku berjalan menuju jalan aspal untuk mencari angkot menuju rumahku. Kulirik Aldi di sudut mataku, kulihat dia berjalan mengikutiku di belakangku. Hatiku bahagia, setelah siang tadi sahabatku mengatakan tentang perasaanku, dapat kurasakan perhatian Aldi kepadaku, meskipun sampai sore ini bahasa kata belum keluar dari bibir kami berdua.

"Lingkar Barat Pak" Ujarku yang kesekian kali kepada Sopir Angkot dan lagi lagi jawaban Sopir Angkot mengecewakanku. Uh, kalau sudah terlalu sore begini memang susah cari angkot menuju rumahku karena jarak rumahku menuju sekolahku lumayan jauh waktu yang harus ditempuh. Kulihat Pak Min Sopir Aldi, jengah raut wajahnya karena sudah menunggu selama 2 jam tapi Aldi belum juga mau pulang bersamanya.
"Lingkar Barat ya Pak Rp 20.000,-" Aldipun menyerahkan uang Rp 20.000,- kepada Sopir Angkot. Dan tentu saja Sopir Angkot bersedia karena tarif Angkot dari sekolah menuju rumahku seharusnya Rp 3.500,-. Kutatap Aldi dan tersenyum sambil mengatakan terima kasih. Ya, selama 2 Jam kami diam membisu namun tatapan mata kami yang berbicara penuh arti.
Tak terasa sudah satu minggu berlalu. Hubunganku dengan Aldi tak ada perubahan tetap diam membisu dan saling tunggu ketika tiba waktunya pulang sekolah. Ada satu kejadian yang selalu buatku tertawa geli jika mengingatnya. Ketika aku pulang sekolah, Roki temanku dari sekolah lain menemuiku. Roki mengungkapkan cintanya kepadaku dengan memainkan gitar sambil menyanyikan lagu:

Seandainya kau dapat kumiliki
Gunung tinggi kan ku daki
Akan kupersembahkan Bunga Edelweis untukmu,
Seandainya kau terima cintaku
Kuingin terbang ke awan
Akan kupetik Bintang kuberikan kepadamu















Aku suka dengar Roki menyanyikan lagu tersebut. Indah syairnya, merdu alunan gitarnya. Aku tak tahu siapa artis yang menyanyikan lagu tersebut dan ini pertama kali aku mendengarkan lagu tersebut dari bibir Roki. Kulihat merah di wajah Aldi menahan rasa cemburu dan amarah di dadanya. Teringat aku akan perkataan sahabatku ketika Aldi bilang iya dia mencintaiku, Alia cewek tercantik di sekolahku yang banyak digandrungi kaum adam menahan amarah kepadaku disaat dia mendengar ucapan Aldi tersebut.

Aku tersenyum, bahagia hatiku melihat rasa cemburu di wajah Aldi. Setidaknya Aldi mengetahui meskipun wajahku pas pasan dan di sekolah aku cuma murid yang biasa saja, ternyata masih ada juga orang yang mencintaiku selain dia. Dan aku menghargai usaha Roki. Di depan Aldi aku bilang: aku tak bisa menjadi pacarnya karena aku sudah mempunyai pacar. Rokipun dengan berat hati bisa menerima keputusanku. Sejak kedatangan Roki di sekolahku, ku lihat Aldi selalu memainkan gitar di depanku. Lagi lagi aku tersenyum geli melihat tingkah laku Aldi meskipun kami tak berkata.
                                xxxxx

"Uhh, sebentar lagi ujian akhir. Belum siap nih" Gerutu Lila.
"Siap ga siap ujian tetap berlangsung. Makanya kita harus belajar biar lulus, malu lagi kalau ga lulus. Mudah mudahan kita bertiga lulus". Sahut Zila.
"Aamiin Ya Allah". Aku dan Lila mengaminkan perkataan Zila.
"Aku rasa Aldi sudah siap banget ujian. Besokpun ujian aku rasa hasilnya sudah sangat memuaskan" Ujar Lila tersenyum ke arahku.
"Ya iyalah, otaknya tuh selalu di asah makanya pintar, kita juga kok bisa pintar seperti Aldi kalau mau belajar dengan sungguh sungguh" celetuk Zila.
"Sayangnya, aku dan Lila malas belajar. Tidak seperti dirimu Zila" Sahutku cengengesan menatap Lila. Ya, diantara kami bertiga cuma aku dan Lila yang hasil Rapornya cukup memuaskan. Dari kelas 1 hingga masuk kelas IPS ini, Zila selalu mendapatkan peringkat 5 (Lima) besar di kelasnya.


"Hahahaha, Laras seharusnya kamu tuh ikuti Aldi, jangan ikuti aku dong. Gimana sih masak ga termotivasi untuk belajar. Lihat tuh, jam istirahat begini Aldi tetap membaca buku" Dengan sigap Lila mengarahkan jari telunjuknya ke arah Aldi yang berada jauh dari tempat kami duduk. Terlihat Aldi dari kejauhan sedang membaca buku di Ruang Perpustakaan. Benar kata Lila, kenapa aku ga termotivasi untuk belajar? Rasanya ingin secepatnya aku meninggalkan temanku dan berjalan menuju kelasku untuk belajar.
"Bukan Laras saja yang harus belajar. Kamu juga Lila harus belajar. Ya sudah, kita manfaatin saja waktu satu minggu yang tersisa ini untuk belajar" Ujar Zila tersenyum menatap Lila. Lilapun tersenyum malu membalas tatapan Zila.
"Iya nih Lila, aku takut sewaktu Ujian Akhir nanti Lila masih juga buat contekan. Seperti kelas 2 dulu, tetap saja nyontek walau sudah ketahuan Guru dan dihukum keluar kelas ga diperbolehkan lagi mengikuti ujian. Masih lumayan aku kan Zila, walau nilai ujian pas pasan tapi benar benar murni dari otakku" Ujarku kalem.
"Yeeeee, kelas 3 ini sudah ga nyontek lagi aku Laras, weeekkkk" Cibir Lila sambil menjulurkan lidahnya ke arahku.
"Iya ga lagi nyontek karena setiap ujian, Lila selalu disuruh Guru duduk di kursi paling depan persis di hadapan Meja Guru" Sindir Zila. Aku dan Zilapun tertawa cekikikan menatap Lila. Lilapun tertunduk malu.
                                   xxxxx

Tak terasa sudah tiga hari kami ujian akhir. Selama ujian berlangsung, Aldi tak pernah menungguku. Aku tahu Aldi fokus belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi materi pelajaran yang akan diuji setiap besoknya. Akupun ikut termotivasi untuk belajar. Namun, terkadang buku yang sedang kubaca berubah alih menjadi Aldi. Beberapa saat lamanya, kubiarkan pikiran ini mengkhayal memikirkan Aldi. Tersenyum geli aku dengan pikiranku. Hingga akhirnya, jam dinding di kamarku berbunyi dan menyadarkanku dari lamunanku. Kembali kubuka buku yang sedari tadi tak berkutik di kedua tanganku. "Ehm, untung ada pelajaran tambahan di sekolahku jadi materi pelajaran Bahasa Inggris ini mudah untuk ku pahami". Gumamku dalam hati. Baru sadar diri ini, manfaat diadakannya pelajaran tambahan di sekolahku. Khususnya untukku ataupun murid lain yang malas belajar. Dengan adanya pelajaran tambahan di sekolahku, mau tak mau kami diharuskan belajar. Karena diwajibkan untuk kami mengikuti materi pelajaran tambahan di sekolah.

"Laras, mau ga ikut kami ke Pasir Putih?" Ujar Zila.
"Kapankah?" Kataku.
"Sekarang, kita refreshing merayakan selesainya ujian akhir" Ucap Lila dengan penuh semangat.

Sudah satu minggu kami Ujian Akhir Nasional. Hari ini adalah hari terakhir kami ujian. Dan selama satu minggu, aku melihat Aldi hanya dari kejauhan. Saat ini matakupun sibuk mencari sosok Aldi. Namun, Aldi tak terlihat olehku. Sudah pulangkah Aldi? Hanya di pagi hari saja aku menatapnya. Itupun melihatnya dari kejauhan. Jadilah, batinku bergumam. Setidaknya, aku masih bisa melihat dia.
"Laras, gimana mau ga ikut bersama kami ke Pasir Putih?" Ulang Zila menyadarkanku dari pikiranku tentang Aldi.
Akupun tersenyum dan berkata: "Pasti, aku mau ikut kalian".
"Hore, saatnya kita refreshing" Teriak Lila.
"Kami tahu kok kalau kamu suka banget Pasir Putih". Lanjut Lila tersenyum dan langsung mengamit tanganku dan Zila untuk segera melangkah mencari angkot menuju Pasir Putih.

Tibalah kami di Pasir Putih. Lila dan Zilapun berteriak histeris berlari menuju Pantai. Aku tersenyum kecil melihat mereka. Gemuruh ombak bersahut sahutan menyambut kedatangan kami. Kamipun asyik melepas penat setelah seminggu lamanya kami berkutat dengan ujian yang cukup menguras pikiran kami. Main pasir, basah basahan di Pantai menjadi daya tarik tersendiri bagi kami. Tak lupa di setiap aktifitas kami di Pasir Putih Pantai Panjang, kami abadikan dengan berpotret ria via Handphone milik sahabatku Lila dan Zila. Hari ini, kami tertawa bahagia melepas canda dan tawa di tengah tengah gemuruhnya ombak Pantai Panjang di kota kelahiranku.
                                  xxxxx

Pengumuman kelulusan sekolah telah tiba. Hampir 1 bulan aku dan Aldi tak bertemu. Disaat inilah pertemuan terakhirku dengan Aldi. Aku bahagia dan terharu Aldi memperoleh NEM tertinggi di sekolahku dan masuk tiga besar NEM tertinggi IPA di provinsiku. Inginku ucapkan selamat kepada Aldi namun bibirku kaku untuk mengucapkannya. Aku takut dia menanyakan nilaiku karena nilaiku pas pasan dan Alhamdulillah aku lulus. Syukurnya, Lilapun lulus begitu juga dengan Zila. Aku terharu, Zila juga meraih NEM tertinggi IPS peringkat lima besar di provinsi kota kelahiranku. Peluk dan cium sambil ku ucapkan selamat kepada sahabatku Zila.

Di gerbang pintu sekolah, Aldi menatapku. Seketika dia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya dan menyodorkannya di tanganku. Akupun berkata: "Apa ini Al?". Kulirik pemberian Aldi yang terbungkus kertas kado bergambar hati berwarna pink.
"Diary, ku ingin kau menuliskan semua puisimu di diary ini". Tanpa sempat ku ucapkan terima kasih, Aldi berlalu meninggalkanku masuk ke dalam mobilnya.
                                  xxxxx

Bulanpun berganti tahun, tak terasa sudah 3,5 tahun aku tak lagi berjumpa dengan Aldi.
"Laras, Minggu depan SMA kita mengadakan reunian di Kemuning Pantai Panjang. Ikutya, budgetnya Rp 150.000,- per orang". SMS singkat dari Lila. Akupun langsung membalasnya dengan antusias.
"Iya pasti aku ikut dan memang Senin besok aku pulang ke rumah orang tuaku. Tiket pesawat sudah kubeli".
"Sip, Laras Aldi juga ikut reunian. Aku tau dari Reno. Kemarin aku dan Zila ketemu Reno di perpustakaan UNIB. Ternyata Reno juga kuliah di UNIB (Universitas Bengkulu) tapi Fakultas Pertanian".

Bergetar ragaku ketika kubaca sms Lila tersebut. Kuambil diary ungu di meja belajarku, sudah ratusan jumlah puisi di diary tersebut. Sebagian besar menceritakan tentang kerinduan seorang kekasih. Aldi tahukah kau? hingga saat ini aku tetap mencintaimu. Kukira kamu di kota pelajar ini karena sebelumnya aku dengar kamu mendapatkan PPA di Universitas Gajah Mada (UGM). Aku berusaha mengikuti jejakmu, hingga akhirnya, aku berhasil lulus SNMPTN dan tercatat sebagai mahasiswi UGM. Aku lakukan ini agar kita bisa bertemu. Namun, ternyata kamu kuliah di luar negeri. Meskipun demikian, Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Akupun fokus menuntut ilmu di tanah rantau, tanpa cinta pengganti dirimu. Ya Aldi, kota pelajar ini kota kesendirian cintaku. Namun, aku yakin di kota kelahiranku kita akan berjumpa.

Lagu Utopia "Mencintaimu Sampai Mati" kembali terdengar di telingaku yang artinya ada lagi pesan masuk di Handphoneku. Segera kubuka HP. Ehm, SMS dari orang yang sama, Lila. Segera kubaca sms Lila.
"Laras, baik baik sajakah dirimu? kenapa engkau tak membalas smsku? tak suka kah kau aku menyebut nama Aldi? benarkah dirimu sampai saat ini belum mempunyai pacar?" Bertubi tubi pertanyaan Lila di kotak masukku. Akupun membalas sms Lila:
"Alhamdulillah aku baik baik saja dan sampai saat ini aku masih sendiri karena tanpa ku bilang engkaupun tahu aku masih menunggu Aldi. Doakan saja semoga aku cepat menyusul seperti kalian" Ucapku. Ya, kedua sahabatku baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Suami Lila PNS di Pemprov. Bengkulu dan suami Zila Pengusaha Batu Bara di Kota Bengkulu. Aku bahagia melihat nasib baik kedua sahabatku. Meskipun mereka sudah menikah, mereka tetap melanjutkan kuliahnya di jurusan yang sama denganku: Managemen.
                                  xxxxx

Ku hirup udara pagi. Udaranya sejuk dan menyegarkan tubuhku. Sudah 2 hari aku tiba di kota kelahiranku dan ini hari pertamaku menginjak Pasir Putih di Pantai Panjang setelah 3,5 tahun lamanya aku tak menapakinya. Kutatap Kemuning, disanalah tempat reunian SMA kami nanti. Empat (4) hari lagi perjumpaanku dengan Aldi.

"Mbak Sisy" sahut seorang wanita kepada Sisy yang sedang duduk didekatku. Sisy adalah temanku dimana rumah orang tuanya tetangga dekat dengan rumah orang tuaku.
"Apakah Mbak namanya Sisy" ujar wanita tersebut yang kedua kalinya. Kulihat ekspresi Sisy tampak tak senang dengan kehadiran wanita tersebut. Namun, tiba tiba ada satu orang lagi wanita mendekati kami yang diikuti oleh 2 orang lelaki. kulihat Sisy hendak berlari meninggalkan aku dan yang lainnya. Namun, dengan cekatan wanita itu menarik Sisy. Mengambil tasnya dan memeriksa isinya. Ingin rasanya ku hardik wanita tersebut yang sudah berani mengambil tas Sisy secara paksa. Belum sempat aku utarakan apa yang ada di pikiranku, terdengar sebuah pertanyaan di telingaku.
"Mbak temannya Sisy" Kata lelaki yang bersama wanita tersebut.
"Iya, memangnya ada apakah" Jawabku lirih menahan amarah melihat Sisy diperlakukan kasar seperti itu.
"Kami juga ingin memeriksa tas anda" Sahut lelaki itu, sambil menarik tas yang ada di tanganku. Setelah selesai menggeledah tasku, lelaki tersebut mengeluarkan kartu identitas miliknya dan menunjukkannya kepadaku sambil berkata:
"Ikut kami di kepolisian". Tersentak tubuhku setelah tahu siapakah orang yang ada di hadapanku.
                                     xxxxx

Dibalik jeruji besi ini ingin ku lampiaskan amarahku. Ya Allah, kenapa aku bisa dalam situasi seperti ini. Aku baru tahu kalau Sisy Target Operasi (TO) Pemalsuan Uang. Sialnya, uang palsu Rp 50.000,- ada di dompetku. Kenapa bodohnya aku, tak menyadari kalau uang yang diberikan Sisy di subuh hari tersebut sebelum kami pergi ke Pantai Panjang adalah uang palsu. Ya, Sisy memberikan uang tersebut untuk mengisi bensin motorku, sempatku tolak uang pemberian Sisy. Namun, Sisy marah kepadaku dia bilang aku tidak menghargainya. Uang tersebut tanda terima kasih Sisy kepadaku karena di subuh hari aku mau menemani Sisy menemui temannya di Pantai Panjang. Dengan tujuan, mengambil hasil proposal skripsi Sisy yang telah dibuat oleh temannya tersebut.
Selain itu, yang semakin mempersulit posisiku sebagai tersangka adalah uang Rp 5.000.000,- yang berada di dalam jok motor dan motor itu adalah milikku. Aku tahu Sisy telah mengatakan kepada polisi kalau aku tidak bersalah. Namun, polisi tidak mempercayai perkataan Sisy ataupun perkataanku. Menurut mereka, motorku sudah dijadikan barang bukti bahwasanya aku ikut terlibat membantu Sisy mengedarkan uang palsu. Terasa gelap dunia ini bagiku. Teriak tangisku tak cukup mampu untuk meredam gejolak dihatiku. Sayup sayup ku dengar Sisy meminta maaf kepadaku.

"Aku tidak bermaksud menjerumuskanmu ke dalam perkara ini. Aku tidak tahu kalau uang Rp 50.000,- tersebut adalah uang palsu. Aku kira itu memang uang asli karena uang tersebut kuambil langsung dari dompetku bukan di dalam kantong kresek tempat uang palsu sejumlah Rp 5.000.000,- yang siap untuk aku edarkan bersama temanku tersebut. Sekali lagi, aku minta maaf Laras telah berbohong kepadamu, dengan mengatakan bahwa uang tersebut upah buat temanku karena dia telah membuatkan proposal skripsi untukku".
Kutatap Sisy tak berarti, gelap penglihatanku.

Ku buka mataku, kulihat Lila di sampingku bersama keluargaku, terlihat jelas di mata Lila menahan tangis untukku. "Aku dan suamiku akan berusaha keras membebaskanmu". Bisik Lila di telingaku. Aku menangis. Ibu, Ayah dan Adikku tak bisa berbuat banyak karena kami bukan berasal dari keluarga yang mampu. Di kota pelajar, aku kuliah sambil bekerja. Ya, biaya selama aku kuliah hasil keringatku sendiri. Makanya, sangat sulit bagiku untuk pulang ke kota kelahiranku yang sekaligus menjadi tempat tinggal orang tua dan adikku.




Ku katakan pada Lila agar jangan pernah memberitahukan kepada siapapun mengenai kasus hukum yang sedang aku hadapi sekarang ini. Karena dalam waktu 2 hari lagi, diselenggarakannya acara reunian SMA kami. Lilapun berjanji kepadaku bahwa dia tidak akan menceritakan masalahku kepada siapapun.
                                  xxxxx

Terpaku kuberdiri di pintu masuk gerbang Kemuning. Terdengar suara hiruk pikuk di dalam Kemuning. Namun, tak sanggup kakiku melangkah menuju kerumunan dimana telah berkumpulnya teman-teman SMA ku. Aku takut, dengan kehadiranku di Kemuning, teman-temanku akan bertanya tentangku. Bisakah aku menyembunyikan ekspresi kesedihan di wajahku atas kasusku?. Kuhela nafasku, kembali ku teringat atas pengorbanan sahabatku Lila dan suaminya. Aku bisa berdiri di Kemuning ini karena suami Lila sudah mengurus penangguhan penahanan untuk diriku. Lila tahu isi hatiku, betapa aku sangat ingin berjumpa dengan Aldi. Mengingat itu, segera ku langkahkan kaki menuju ke dalam Kemuning.

Sesak dadaku, keinginanku untuk bertemu Aldi hilang begitu saja dari lubuk hatiku. Ku kira dengan melihat wajahnya, sudah cukup mampu memberikan aku sedikit kedamaian. Namun, ternyata perkiraanku salah. Semuanya hilang sekejap disaat aku melihat Aldi dan Alia duduk berdekatan di satu meja. Aku cemburu. Setelah agak beberapa lama ku terdiam dalam kecemburuan, ku tepis rasa cemburuku. Bukankah selama ini kami memang tidak mempunyai ikatan sah yang menyatakan dia milikku. SMA pun hubungan kami tidak jelas apakah kami benar benar pacaran atau tidak meskipun kami sudah saling mengetahui bahwa kami memiliki rasa cinta dan sayang yang sama. Hanya tatapan mata dan gerak gerik bahasa tubuh kami yang berbicara. Jadi, bukan salahnya Aldi jika dia sudah mempunyai istri atau pacar. Isakku pecah dan kembali aku sadar akan masa depanku dibalik jeruji. Kutatap Aldi dari kejauhan, kubisikkan doa dari hatiku yang terdalam "Semoga Allah senantiasa memberikan kehidupan yang terbaik untukmu". Perlahan, kulangkahkan kaki meninggalkan Kemuning.

Aku duduk terpaku di hamparan Pasir Putih Pantai Panjang. Suara gemuruh ombak seakan ikut merasakan tangisan hatiku. Di pasir inilah awal tragediku dibalik jeruji besi. Sampai kapankah aku di tahan? Ntahlah aku pasrahkan semuanya atas kehendak Allah. Allah Maha Adil.

"Laras" terdengar suara seseorang memanggilku dari belakangku. Kumenoleh kebelakang dan berkata: "Aldi" Akupun langsung berdiri dari tempat dudukku.
"Mengapa kamu tidak jadi ikut masuk ke dalam Kemuning Laras, tahukah kau aku sangat menunggu kedatanganmu". Suara Aldi bergetar hebat ditelingaku. Kutatap wajah Aldi penuh kerinduan. Kurasakan Aldi juga merasakan perasaan yang sama terhadapku. Aku tetap diam membisu, tak memberikan jawaban atas pertanyaannya. Hanya tatapan penuh kerinduan yang bisa kuartikan untuknya dibalik riak kaca dalam mataku.
"Laras, selama ini kupendam kata kataku untuk menyatakan rasa cinta dan sayangku kepadamu karena aku ingin menyatakan rasa itu ketika aku sudah menyelesaikan study kuliahku. Dulu, aku tidak mau mengikatmu dengan kata kata cintaku karena aku takut aku akan kecewa jika kau tak bisa setia denganku sedangkan aku benar benar ingin memilikimu. Karena aku yakin menjalin hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Namun, meskipun aku tidak mengikatmu dengan kata kata cintaku, rasa cinta dan sayangku untukmu tetap utuh dihatiku. Sengaja aku tiba di kota ini, hanya untuk menemuimu. Laras, aku ingin melamarmu".

Mendengar perkataan Aldi, air mataku tumpah tak tertahankan lagi. Ingin segera ku jawab: ia aku ingin menikah denganmu. Namun, bayang bayang jeruji besi menghantuiku. Hatiku berkata: "Tidak mungkin aku membawa Aldi untuk ikut mengambil bagian kisah terburuk dalam hidupku dijeruji besi". Meskipun aku tidak bersalah tapi aku tidak bisa membuktikannya. Akankah Aldi mempercayaiku? Jika ia percaya tak ingin juga aku menyudutkan dirinya di mata keluarganya ataupun di masyarakat: mahasiswa terbaik lulusan Luar Negeri menikahi seorang wanita yang sedang menjalani proses hukum. Maka dengan batin menangis aku bilang kepada Aldi, kalau aku sudah menikah di kota pelajar. Aldi tak mempercayaiku karena berdasarkan informasi dari Lila sahabatku, mengatakan bahwa aku belum punya pacar dan pastinya belum menikah. Kutatap wajah Aldi, kutegaskan padanya aku memang sudah menikah namun para sahabatku tidak kuberi tahu karena orang tuaku pun tidak mengetahuinya. Aku menikah untuk bisa membiayai kuliahku. Kurasakan tubuh Aldi berguncang hebat menahan pedih dihatinya seperti rasa pedih yang hinggap ditubuhku. Hatiku berkata: Aldi maafkan aku, kulakukan ini semua karena aku terlalu sayang dan cinta dirimu. Aku ingin kau mendapatkan kebahagiaan seutuhnya, tanpa dibayang bayangi kisah terburuk dalam hidupku.

Setelah sekian menit kami dalam kebisuan, Aldi menyerahkan bingkai foto berukiran kayu. Dimana puisi yang dulu sempat aku buang ada dibalik bingkai tersebut "Rasaku".
"Laras, puisi Rasaku sangat berarti dalam hidupku karena itu aku bingkai puisi tersebut. Sekarang aku ingin engkau menyimpannya. Meskipun aku tidak bisa memilikimu ku ingin engkau selalu mengingat rasa cintaku yang begitu besar terhadap dirimu". Aldipun berlalu meninggalkanku. Tangisku pun pecah. Menangis sejadi jadinya diri ini akan laraku. Hanya gemuruh ombak yang bersahutan membalas isakku. Di hamparan Pasir Putih, ku bersimpuh dan terpaku menatap langit: "Ya Allah aku percaya dengan kehendak-Mu. Di setiap tetesan air mata pasti ada kebahagiaan yang tersimpan. Dan bila waktunya tiba Engkau akan memberikanku kebahagiaan yang mungkin untuk saat ini masih Engkau simpan erat untukku karena semua indah pada waktunya". Ku seka air mataku. Terasa damai dihatiku setelah ikhlas mampu kutanam dalam jiwa ragaku. Kulihat Lautan dari kejauhan. Di tengah-tengah Lautan tetap bersih meskipun orang membuang sampah di lautan. Karena air laut membawa sampah tersebut ke tepi. Begitu juga dengan hidupku, seharusnya apapun kejadian buruk yang menimpaku, hatiku harus tetap suci dan selalu berprasangka baik kepada Allah atas semua kehendak-Nya. Segera ku bangkit dari simpuhku. Ku tinggalkan Pasir Putih. Berjalan optimis menuju Penjara, tempat pengasinganku.


                                    xxxxx













Bulan berganti tahun, tak terasa sudah 3 tahun aku dibalik jeruji besi. Saatnya hari ini aku hirup udara segar kebebasanku. Di gerbang pintu penjara sudah menanti sahabatku Lila. Lila memelukku dengan erat menangis terharu melihat diriku, akupun terisak pilu dalam dekapan sahabatku. Ya Allah, aku sangat bersyukur Engkau menganugerahkan aku seorang sahabat seperti Lila. Sahabat yang selalu menemani dan berusaha membantuku disaat keadaanku terpuruk.
"Terima kasih sobat, tak bisa kubalas semua pengorbananmu" kubisikkan kata kata itu ditelinga sahabatku.
"Tak ada balasan jasa diantara sahabat, yang ada hanyalah keikhlasan yang tulus untuk kebersamaan dalam suka dan duka". Lilapun mengusap air mataku.
"Lila apa kabarkah Zila, sudah lama aku tidak mendengar beritanya".
"Zila baik baik saja Laras, dia sudah mempunyai seorang anak laki laki, Dewa namanya".

Kembali ku teringat masa 4 tahun silam, ketika Zila berkata kepadaku dia mau menikah. Aku bahagia mendengarnya. Kutanya siapakah lelaki yang berhasil menaklukan cinta sahabatku. Dengan gugup dan suara gemetar Zila menyebutkan nama Roki ditelingaku. Roki yang dulu mencintaiku.

Hening sesaat. Namun, segera kucairkan suasana di Telephone. Aku bilang kepada Zila aku bahagia mendengarnya. Kejadian antara aku dan Roki hanyalah masa lalu dan sejak dulu aku juga tidak mempunyai rasa cinta terhadap Roki. Jadi, jangan pernah mengingat masa lalu, dan hilangkan juga dipikiran Zila kalau dulu Roki pernah mencintaiku. Karena cinta Roki sebenarnya adalah mencintai Zila yang dibuktikan dengan Roki menikahi Zila. Oleh sebab itu, aku tidak ingin Zila mengetahui keterpurukanku.

Aku bersyukur Zila sudah mempunyai keturunan. Kutatap wajah cantik Lila, selama ini Lila tidak pernah mengeluh kepadaku jika kami berbicara mengenai keturunan. Dia selalu optimis. "Suatu saat nanti bila masanya tiba, Allah akan memberikanku keturunan anak". Itulah perkataan Lila yang selalu terekam jelas di memori ingatanku. "Ya Allah aku mohon kepada-Mu, jika Engkau belum memberikanku keadilan atas kasus yang menimpaku dan semuanya sudah kulalui dengan tertatih karena aku tetap dipenjara meskipun Engkau mengetahui bahwa aku tidak bersalah, tolong berikan aku keadilan Ya Allah, dengan Engkau mengabulkan satu doaku. Ya Allah, tolong berikan sahabatku Lila keturunan Anak yang soleh dan soleha. Aamiin. Ucapku dalam hati.

                                    xxxxx




Panas kurasakan dikakiku. Namun, tetap kutelanjangkan kaki menginjak pasir putih di Pantai Panjang ini. Kunikmati rasa panas yang ada, meskipun terasa sakit dikakiku. Teringat atas dua kejadian yang menimpaku. Di pasir putih inilah aku ditahan atas pemalsuan uang dan di pasir inilah Aldi melamar diriku. Akankah ada lagi kejadian yang menimpaku di Pasir Putih ini?.

"Laras aku bahagia, akhirnya engkau bisa menghirup udara bebas".
Berdebar jantungku mendengar suara yang tak pernah luput dalam hatiku. Aldi. Kutatap wajahnya, ingin rasanya aku memeluk dirinya, menangis dalam pelukannya, mengatakan masih adakah harapanku untuk menjadi istrimu. Aku ingin menceritakan keadaan yang sebenarnya bahwa aku belum menikah, hati ini selalu ada untukmu. Lila sudah bercerita kepadaku, bahwa Lila telah memberitahukan Aldi mengenai kasus hukumku sebelum kedatanganku di acara reunian. Lila terpaksa memberitahukan Aldi setelah Lila tahu niat Aldi mau melamarku di saat reunian tersebut. Aldipun tidak memperpedulikan kasusku, dia mempercayaiku dan tetap mencintaiku.

"Aldi, terima kasih kau sudah ada disini, menyambut kebebasanku. Tahukah kau aku melihatmu di seberang jalan dalam mobil, kau pikir aku tidak melihatmu. Namun, aku tidak menyangka kau mengikutiku hingga ke Pasir Putih ini. Dan aku juga berterima kasih kepadamu, kamu tetap mencintaiku bagaimanapun kondisiku saat itu".
"Iya Laras, aku mencintaimu apa adanya. Namun, kecewa telah menaklukan kesetiaanku. Kau telah bersuami dan aku memang harus melepaskanmu". Potong Aldi disela pembicaraanku. Aku terdiam. Teringat aku akan perkataan Lila, seharusnya aku tak berbohong kepada Aldi. Dan Lilapun ingin memberitahukan kepada Aldi kalau aku berbohong. Namun, kucegah Lila untuk mengatakannya kepada Aldi. Aku menyuruh Lila berjanji untuk tidak mengatakannya. Biar aku saja yang menjelaskan semuanya kepada Aldi disaat aku sudah keluar dari balik jeruji besi. Sama halnya yang dilakukan Aldi terhadapku. Mengungkapkan cinta disaat waktu yang tepat ketika tidak ada lagi jarak yang memisahkan kami. Demi kebaikan kami berdua.
Bibirku baru hendak berkata kepada Aldi, untuk menceritakan semuanya, tapi Aldi mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Berdebar jantungku melihat amplop berwarna Pink. Gemetar tubuh ini tak tertahankan. Tanpa ku buka aku sudah mengetahui isinya. Ya, undangan pernikahan Aldi. Gelap gulita kurasakan.
                                  xxxxx

Kubuka mataku, aku sudah berada ditempat tidurku, dirumah orang tuaku. Kulihat Aldi di sampingku menahan tangis di matanya.
"Laras, aku tahu kamu mencintaiku dan aku juga mencintaimu. Namun, kita ditakdirkan untuk tidak bersama. Kamu secara sah sudah dimiliki orang lain dan aku seminggu lagi akan menikah, Alia calon istriku. Jaga kesehatanmu karena aku sangat menginginkan kehadiranmu".
Kutatap Aldi, kubiarkan airmata mengalir dipipiku. Untuk yang pertama kali Aldi menyentuhku, menyentuh pipiku untuk menghapus airmataku. Hatiku hancur berkeping keping merasakan sentuhan tangan Aldi di pipiku. Isakku terus mengalir tiada henti mewakili rasa cintaku yang tenggelam di Pasir Putih.

Kulihat Kemuning dari kejauhan, disanalah Minggu besok Aldi dan Alia Menikah. Batinku berkata: "Tak sanggup kaki ini menginjak Kemuning untuk menyaksikan pernikahan Aldi dan Alia. Maafkan aku Aldi, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu". Kutatap yang terakhir kali di sekelilingku: Kemuning, Pasir Putih dan ombak yang bergemuruh di Pantai Panjang. Inilah kota kelahiranku, kota kecil dengan seribu cerita. Cerita tentang asa dan tangisku. Untuk yang terakhir kali, ku menangis tersedu di hamparan Pasir Putih.

Kulirik jam dilingkaran pergelangan kecil tanganku. Beberapa jam lagi aku harus tiba di Bandara Fatmawati untuk menuju kota pelajar. Ya, aku akan kembali ke kota pelajar, melanjutkan kehidupanku yang tertunda. Kuliahku dan kerjaku. Biarlah kututup kisahku ini hanya sebatas kebisuanku di Pasir Putih.

Aldi semoga kau bahagia, kebenaran akan diriku bahwa aku belum menikah biarlah engkau tidak mengetahuinya dan kebenaran diriku atas kasus uang palsu biarlah ombak di Pantai Panjang yang menepisnya. Ku genggam Pasir Putih, perlahan lahan surut pasir ini di sela jemariku. Seakan menolak untuk ku bawa pergi menuju kehidupan baruku. Akhirnya, aku menyadari Pasir Putih hanyalah tempat persinggahan untukku yang menjadi saksi bisu: tangis kebenaranku dan tangis kerapuhanku.



                                                      Bengkulu, 03 Februari 2015
                                                      Halijah Pasaribu
         








Baca Selengkapnya . . . .