Ketokan palu hakim mengesahkan sidang
perceraianku. Ironis, baru dua bulan menikah aku sudah cerai secara agama.
Sekarang, tepat setahun aku sah di mata hukum menyandang status janda. Aku
sadari, perceraian ini terjadi karena kesalahan dari kami berdua. Aku
pencemburu dan dia tidak bisa berbaur dengan keluarga besarku. Tapi, aku yakin
perceraian ini adalah jalan yang terbaik untukku. Setelah ku coba berbagai cara
untuk mempertahankan rumah tanggaku. Sebelum aku memutuskan untuk bercerai
dengannya. Aku tidak menyangka, orang yang telah aku pilih untuk menjadi
imamku, dengan seketika menghancurkan kehidupanku. Aku pikir, dia lelaki yang
bisa membimbingku di dunia dan akhirat.
Teringat olehku, dulu ketika aku operasi Usus Buntu dia selalu menemaniku. Tak bergeming walau sejenak untuk meninggalkanku. Dia rela tidak bekerja ataupun untuk pulang ke rumah orang tuanya. Meskipun ibuku sudah menyuruhnya untuk pulang karena takut orang tuanya mencari dia. Tapi, dia tetap menemaniku di rumah sakit. Padahal, hubunganku dengan dia hanya teman biasa. Kata-kata itu selalu aku tekankan kepadanya karena aku tahu apa yang dia rasa. Seiring berjalannya waktu, aku menerima dia untuk menjadi pacarku. Dia langsung mengajakku menikah. Namun, saat itu aku belum siap untuk menikah. Hingga akhirnya, setelah tiga tahun berpacaran kami memutuskan untuk menikah.
Sebelum hari H, sempat ingin ku batalkan
pernikahan kami. Aku tak kuasa melihat ayahku mengeluarkan air mata. Hal ini
disebabkan karena aku tidak bisa memenuhi permintaan ayahku untuk menikah
menggunakan Adat Batak. Namun, dia menyakinkan aku bahwa kami bisa menikah
menggunakan Adat Batak meskipun dia bukan orang Batak. Dia hapus air mataku dan
membawaku untuk menemui orang yang mungkin bisa membantu kami dalam mengurus
pernikahan Adat Batak. Hati ayahku luluh melihat dia sangat berupaya mewujudkan
Adat Batak. Ayahku pun memberikan izin kepada kami untuk menikah. Meskipun,
hasil diskusi antara ayahku, keluarga besar ayahku dan tetua dari pihak Batak
menyatakan Adat Batak tidak bisa diselenggarakan karena sesuatu hal. Akhirnya,
kami menikah tanpa Adat Batak.
Dalam hitungan minggu, kami menikmati kebahagiaan rumah tangga yang baru kami bina. Setelah satu bulan dari pernikahan kami, pertengkaran hebat terjadi diantara aku dan dia. Aku putuskan untuk bercerai dengannya. Dia pun membalas keinginanku untuk bercerai dengannya. Malam hari, surat talak tulisan tangan, dia layangkan ke Ketua RT tempat tinggal kami. Di pagi hari, Ketua RT menyampaikan surat tersebut kepada orang tuaku. Sejak itu, kami tidak lagi berkomunikasi.
Setelah beberapa bulan lamanya aku menyandang
status janda meskipun belum sah di mata hukum, aku putuskan untuk mengurus surat
cerai di Pengadilan Agama. Dari petugas PA, aku di suruh ke BP4. Di BP4, aku menemui
seorang ibu selaku pengurus masalah perceraian. Kuceritakan semua masalahku kepada
ibu tersebut. Ibu tersebut pun mendukung perceraianku. Meskipun dia juga
mengatakan: "Tidak seharusnya selaku pegawai BP4 dia mendukung keputusanku
untuk bercerai. Karena tugas BP4 adalah berusaha untuk merujukkan pasangan
suami istri." Selain itu, ibu tersebut berkata: "Sebaik-baiknya pemberi
keputusan adalah Allah SWT. Apa yang terbaik bagimu belum tentu bagi Allah. Minta
petunjuk kepada Allah dengan Istikharah. Berdoa kepada Allah: Jika memang
perceraian yang terbaik untukku, tunjukkan kepadaku pengganti mantan suamiku. Jodoh
yang terbaik untukku", ujar ibu tersebut menasehatiku.
Perkataan ibu tersebut sama dengan nasehat kakakku.
Istikharah sudah aku lakukan sejak dia mengirimkan surat talak kepadaku. Hingga
akhirnya, setelah beberapa bulan dari selesainya proses ceraiku di BP4, aku
mengenal Mas Ervan. Pria yang ku kenal dari dunia maya, facebook. Dengan berjalannya
waktu, hubungan aku dan Mas Ervan semakin akrab. Meskipun, kami belum pernah bertemu.
Hanya via HP dan facebook, kami berkomunikasi.
Di Yogyakarta, pertama kali aku berjumpa dengan Mas Ervan. Lima hari aku mengambil cuti kerja. Tujuan utama cutiku adalah mengikuti tes CPNS di BNN Pusat. Selain travelling ke Pulau Jawa bersama sohibku Mbak Eni. Subuh hari, Mas Ervan sudah menjemputku di Bandara Adisutjipto. Terharu hatiku. Hanya untuk menemuiku, di tengah malam dari Semarang menuju Yogyakarta Mas Ervan mengendarai motornya seorang diri. Dalam hati, aku panjatkan syukur kepada Allah telah melindungi Mas Ervan. Selanjutnya, kami telusuri tempat-tempat wisata yang ada di Yogyakarta. Rasa kagum semakin melanda hatiku. Disaat Mas Ervan berhenti di Masjid untuk meluangkan waktunya, sholat. Ketika Mas Ervan sholat aku tertidur dalam masjid. Namun, dia tidak membangunkanku. Hingga aku terbangun dan segera mendekatinya sambil berkata: "Kenapa tidak membangunkanku." Dia pun bilang: "Mas tidak mau menganggu tidur adek." Sebelumnya, aku sudah bercerita kepada Mas Ervan bahwa selama di Jakarta aku tidak pernah tidur. Ku manfatkan waktuku, hanya untuk menikmati Kota Jakarta bersama sepupu dari pihak ayahku.
Gua Pindul, Pantai Parangtritis,
Kesultanan, UGM, Malioboro dan Candi Borobudur merupakan tempat wisata yang
kami kunjungi. Setelah itu, aku meminta Mas Ervan untuk mengantarkanku ke
Jepara. Mbak Eni sudah menungguku disana. Ada keluarga Mbak Eni yang tinggal di
Jepara. Oleh karena itu, di Jepara tempat pertemuanku dengan Mbak Eni. Sebelum
kami kembali ke Bengkulu, tempat tinggal kami. Bergetar hatiku. Disaat Mas
Ervan memperkenalkan Kota Semarang, tiba-tiba Mas Ervan berhenti di sebuah rumah.
Terkejut aku. Mas Ervan membawaku ke rumah orang tuanya. Tidak kusangka, Mas Ervan
menginginkan aku untuk bertemu dengan keluarganya. Setelah aku berkenalan dengan
ibu, bapak dan adik satu-satunya yang sudah berkeluarga, aku melanjutkan kembali
perjalananku ke Jepara. Di Jepara, aku disambut hangat oleh keluarga Mbak Eni. Paginya,
aku di ajak Mbak Eni dan keluarganya untuk pergi ke tempat wisata Makam Sunan Muria.
Selanjutnya, kami membeli kerajinan jati ciri khas Jepara. Malam hari, Mas
Ervan kembali menemuiku di Jepara. Bahagia hatiku melihat kedatangannya. Kami
pun bercerita. Baru ku tahu, selesai kerja tanpa sempat pulang ke rumah orang
tuanya, Mas Ervan langsung menyusulku ke Jepara. Tiga jam jarak yang di tempuh
dari Semarang ke Jepara. Hari sudah larut malam, Mas Ervan pun pulang ke Semarang.
Subuh hari, aku dan Mbak Eni juga berkemas. Waktunya kami pulang ke Bengkulu. Tiket
pesawat sudah jauh hari kami beli. Siang hari, aku dan Mbak Eni harus tiba di Bandara
Achmad Yani, Semarang. Pesawat transit di Jakarta. Sore hari pesawat menuju ke Bengkulu.
Setelah dua bulan pertemuan kami di Pulau Jawa,
Mas Ervan menemuiku di Bengkulu. Luar biasa bahagia hatiku. Aku tidak mengira, Mas
Ervan datang lebih cepat dari janjinya untuk menemuiku. Dia bilang, disaat
lebaran dia ke Bengkulu. Namun, masih 6 bulan lagi lebaran dia sudah datang menemuiku.
Di hari ulang tahunku. Kedatangannya merupakan kado ultah yang terindah untukku.
Meskipun demikian, Mas Ervan tetap memberikan kado ulang tahun mukena untukku. Ku
kenalkan Mas Ervan ke keluargaku dan teman kerjaku. Selama satu minggu Mas Ervan
di Bengkulu, ku ajak dirinya untuk mengelilingi tempat-tempat wisata yang ada di
Bengkulu. Diantaranya: Pantai Panjang, Pantai Ujung, Pantai Teluk Sepang, Pelabuhan
Pulau Baai, Rumah Kediaman Bung Karno, Benteng Marlborough, Tapak Paderi, Sungai
Suci, Kabawetan dan Suban.
"Han, mbak pulang dulu," ujar Mbak
Eni kepadaku. Membuyarkan lamunanku. Baru dua minggu kepulangan Mas Ervan dari Bengkulu
ke Semarang. Sekarang putusan Hakim sudah mengesahkan perceraianku.
"Iya mbak, terima kasih," kataku.
Mbak Eni tersenyum dan berlalu meninggalkanku. Hari ini, Mbak Eni dan kakakku menjadi
saksi sidang perceraianku. Meskipun, sidang perceraianku tidak di hadiri mantan
suamiku. Kakakku sudah terlebih dahulu pulang bersama ibuku. Sedangkan aku, masih
harus menyelesaikan berkas pembayaran sidang perceraianku. Ku ketahui dari Hakim
Sidang, ada kelebihan uang yang harus aku ambil dari sejumlah dana yang sudah aku
setor sebelumnya. Setoran uang di Pengadilan Agama tersebut merupakan salah satu
syarat untuk mengajukan gugatan cerai. Setelah aku menerima kelebihan uang tersebut,
aku kembali ke kantor tempatku bekerja. Menepati janji kepada atasanku. Jika sidang
perceraianku selesai aku segera ke kantor untuk melanjutkan pekerjaanku.
xxxxx
Baru dua minggu putusan akhir sidang perceraianku,
kabar buruk kembali menimpaku. Aku di mutasi dari pekerjaanku. Sales jabatan baru
yang harus aku terima. Selain itu, aku harus menanda tangani surat pernyataan bersedia
mengundurkan diri jika tidak mencapai target. Batinku pun menangis. Namun, ku tahan
air mataku.
Aku tahu, Kepala Cabang (Kacab) tidak bisa berbuat
banyak untukku. Pak Roni, Kacab baru di tempatku bekerja dan belum serah terima
jabatan. Meskipun, jabatan Kacab di tempatku bekerja sudah beberapa minggu tidak
berpenghuni. Kacab sebelumnya sudah lama non job. Kacab menyuruhku untuk langsung
menghubungi HRD. Hal ini dikarenakan semua keputusan ada di Pusat. Aku telephone
HRD. Ku katakan: "Aku tidak bersedia menjadi sales jika harus menanda tangani
surat pernyataan tersebut meskipun di tempatkan di cabang yang sama. Dimana letak
kesalahanku?" HRD pun menjawab: "Bukan bermaksud untuk menyudutkanku.
Sekarang, di seluruh cabang, perusahaan sedang melakukan pengurangan karyawan. Akibat
dari sedikitnya penjualan." Aku pun bilang kepada HRD: "Ketika penjualan
banyak, aku selalu lembur. Meskipun aku tahu tidak ada uang lembur. Hampir setiap
hari aku lembur. Pulang larut malam. Dulu, aku merasa dihargai ketika HRD menghubungiku
untuk menjadikanku SPV. Namun, ku tolak karena aku lebih memilih untuk menikah.
Tanggal pernikahanku bertepatan dengan tanggal training SPV. Dimana, jika aku bersedia
menjadi SPV, aku harus training selama satu bulan di pusat." HRD terdiam mendengar
perkataanku. Beberapa saat kemudian, HRD berkata: "Nanti, kami hubungi lagi
bagaimana keputusan akhirnya."
Ku tutup telephone kantor. Hatiku berkata, tidak
ada lagi posisi admin di kota ini. Karena di jabatan admin terjadinya pengurangan
karyawan. Admin sales merangkap admin piutang. Di tempatku bekerja, admin piutang
sudah terlebih dahulu di mutasi. Tinggal SPV piutang yang merangkap admin piutang.
Sekarang, SPV piutang juga merangkap admin sales. Admin sales jabatanku sebelumnya.
Setelah itu, aku izin pulang kepada Kacab. Di sepanjang perjalanan menuju rumahku,
pikiranku kalut. Memikirkan mutasi dan nasibku. Tiba-tiba aku merasakan tubuhku
tertarik. Ku lihat jaket yang kukenakan terlepas dari tubuhku. Dalam hitungan detik,
aku terpental di trotoar. Ku dengar suara ramai di sekelilingku. Kurasakan masyarakat
yang ada di lokasi tempatku terjatuh menolongku. Ku buka mataku, aku sudah berada
dalam mobil di temani oleh rekan kerjaku dari cabang lain. Mereka membawaku ke rumah
sakit. Di rumah sakit, sudah berkumpul teman kerjaku termasuk kacab. Ku pandangi
mereka satu persatu untuk meminta maaf atas kesalahanku. Tidak lama kemudian, keluargaku
datang menemaniku. Selanjutnya, aku dibawa ke ruang tindakan untuk dijahit lukaku.
xxxxx
Hampir satu bulan sejak kecelakaan tersebut,
aku masih terbaring di rumah orang tuaku. Aku masih belum bisa duduk karena di
area dekat anusku terdapat luka dan benjolan berupa daging akibat kecelakaan
motor tersebut. Sesal menyelinap ragaku. Seandainya, aku mengenakan jaket dengan
benar, mungkin aku tidak akan terjatuh. Hanya sebelah lengan tangan kiri jaket aku
pakai. Wajar saja, lengan tangan jaket sebelah kanan melayang hingga masuk ke dalam
Gir Motor. Segera ku tepis sesalku. Aku harus ikhlas karena semua yang terjadi di
dunia ini atas izin Allah. Aku bersyukur, ketika aku kecelakaan masih ada orang
yang menolongku. Dari seragam kerjaku, aku dengan mudah teridentifikasi.
Jenuh diriku selalu terbaring di tempat tidur.
Ingin rasanya aku duduk. Namun, aku tak sanggup menahan perih. Melihat aku yang
masih belum bisa duduk, keluargaku membawa aku berobat ke Dokter Praktek, Dokter
Densa. Salah satu dokter terbaik yang ada di tempat tinggalku. Dokter Densa mengatakan
bahwa aku harus operasi ulang. Bongkar jahitan, di jahit ulang. Jahitanku salah
yang di lakukan oleh dokter di rumah sakit pemerintah tersebut. Miring posisi jahitannya.
Akibatnya, jaringan yang rusak tidak bisa bersatu kembali. Aku dan keluargaku pun
menyetujui dilakukannya operasi ulang terhadapku.
xxxxx
Ku tatap lampu besar yang ada di atas tubuhku.
Menakutkan, itulah definisi satu kata bagiku untuk menjabarkan rasaku terhadap lampu
tersebut meskipun sudah dua kali lampu operasi ini menemaniku. Ku lihat sekelilingku,
semakin bergidik tubuh ini menatap alat-alat kesehatan yang ada di sekitarku.
Dingin luar biasa akhirnya menyergap tubuhku.
Inilah ciri khas dari ruang operasi. Suhu dingin yang sangat menggigilkan tubuh.
Aneh, hawa dingin tetap kurasakan. Padahal, aku sudah terbiasa dengan ruangan ber
AC. Apa mungkin karena tubuhku yang lagi sakit sehingga suhu dingin menyelimutiku?
Ntahlah, yang pasti dapat kurasakan irama gigi mulai bergemeretak di bibirku. Anggota
tubuhku yang lainnya pun ikut menari-nari dalam kegemetaran. AKu coba menghilangkan
gigilku. Dengan cara mengepal dan meremas erat tanganku.
Bayang tubuhku terlihat jelas di balik cahaya
lampu operasi. Pikiranku melayang. Teringat akan kejadian nestapa yang menimpaku.
Perceraian dan mutasiku. Isakku pun pecah. Kurasakan, semakin aku terisak, alat
kesehatan yang menempel di lengan tanganku secara otomatis semakin berfungsi kinerjanya.
Semakin mencengkram erat lengan tanganku. Begitupun sebaliknya, jika tangisku mereda
yang diikuti dengan stabilnya alur nafasku, alat kesehatan yang ada di lengan tanganku
tidak terlalu sering mencengkram erat lengan tanganku. Aku yakin, alat kesehatan
ini untuk mendeteksi tensi darahku. Alat tersebut juga bersatu dengan monitor yang
terletak tak jauh dari tempatku berbaring. Mungkin inilah yang dinamakan Patient
Monitors. Alat kesehatan yang digunakan untuk memonitor pasien.
"Mbak, dokternya belum datang. Aku temani
mbak ya..," ujar seorang perawat wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang
operasi tempatku berbaring. Aku terkejut namun dengan segera aku menjawab: "Iya
mbak dengan senang hati," akupun tersenyum menatap perawat tersebut.
"Mbak kenal dengan Serly?, aku di suruh
Serly untuk menemani mbak," kata perawat tersebut.
"Oh Mbak Serly, kenal mbak. Dia tetangga
sebelah rumah orang tuaku. Tapi, sekarang dia tinggal di rumah orang tuanya karena
lagi hamil," ucapku. Baru teringat olehku, Mbak Serly perawat di rumah sakit
swasta ini. Suami Mbak Serly kerja di luar kota. Seminggu sekali baru pulang menemui
Mbak Serly. Oleh karena itu, sejak hamil Mbak Serly tinggal di rumah orang tuanya.
"Mbak aku kedinginan," lanjutku kepada
perawat tersebut.
"Oh iya mbak, aku cari dulu selimutnya."
Tak lama kemudian, perawat tersebut membawa selimut dan menutupinya di tubuhku.
Hangat mulai terasa di sekujur tubuhku.
"Waduh mbak aku lupa, anting-antingan mbak
belum aku lepas. Aku lepasin duluya," teriak kecil perawat tersebut. Akupun
menganggukkan kepala sambil berkata: "Memangnya kenapa mbak setiap orang yang
mau di operasi tidak diperbolehkan memakai perhiasan seperti cincin, kalung, gelang
dan anting-anting?," tanyaku kepada perawat tersebut.
"Benar sekali itu mbak karena ruang operasi
ini harus steril dan benda-benda tersebut banyak kumannya. Selain itu, alat-alat
kesehatan yang ada di ruangan ini berhubungan dengan listrik. Perhiasan tersebut
sangat rentan terhadap listrik. Takut menganggu proses operasi," jelas perawat
tersebut kepadaku, sambil tangannya berusaha untuk melepaskan antinganku.
"Oh, begituya mbak," sahutku. Ehm,
dulu aku ingin sekali menjadi dokter atau bidan. Di SMA pun aku sudah mempersiapkannya
dengan mengambil Jurusan IPA. Dan aku berhasil mendapatkan beasiswa Akademi Kebidanan
(Akbid) di salah satu universitas negeri ternama di kota pelajar, beda provinsi
dengan tempat tinggalku. Namun, aku tidak mengambil beasiswa Akbid tersebut dan
lebih memilih mengambil PMDK di universitas negeri tempat tinggalku, Jurusan Managemen
Fakultas Ekonomi. Pastinya, tidak kusangka jurusan kuliah yang aku pilih adalah
Jurusan IPS berbanding terbalik dengan jurusan yang aku pelajari di SMA, IPA. Namun,
aku yakin dengan pilihanku karena sebelumnya aku sudah Istikharah. Sekarang, baru
ku sadari mengapa hasil Istikharah tidak menyakinkan hatiku untuk mengambil Akbid.
Ternyata, aku takut dengan gunting dan pisau jika berhubungan dengan darah. Sedangkan,
darah dan benda-benda tersebut adalah satu kesatuan dari kebiasaan yang harus dihadapi
oleh seorang dokter atau bidan.
"Mbak, antingannya ga mau terbuka, sudah
dikunci rapat," keluh perawat terhadapku. Aku baru ingat, sewaktu aku membeli
antingan ini, ibuku menyuruh orang toko yang menjual antingan tersebut untuk mengunci
rapat antinganku. Hal ini disebabkan karena antinganku sering hilang dari telingaku.
"Mbak, mungkin ibu ku bisa melepaskan antingan
ini. Panggil saja ibuku," kataku kepada perawat tersebut.
"Sudah tidak diperbolehkan lagi mbak orang
masuk di ruang operasi ini, selain dokter dan perawat yang menangani operasi,"
jawab perawat tersebut.
"Ya sudahlah, anting-antingannya tidak
jadi dilepas. Mudah-mudahan tidak kenapa-kenapa mbak. Lagian lumayan jauh jarak
anting-anting dengan lokasi tubuh yang mau di operasi," lanjut perawat itu
lagi. Aku hanya terdiam. Ku pasrahkan semuanya kepada Allah SWT.
"Mungkin sebentar lagi dokternya datang
mbak. Aku juga kalau berobat sama Dokter Densa. Sekarang aku lagi hamil. Hamil anak
yang ke dua," kata perawat tersebut.
"Oh mbak lagi hamilya, pantesan aku perhatikan
dari tadi perut mbak agak besar," ujarku sembari tersenyum kepada perawat tersebut.
"Anak pertama mbak cewek atau cowok?"
lanjutku.
"Cowok mbak, mudah-mudahan yang ke dua
ini cewek," sahut perawat tersebut dengan antusias. Akupun langsung mengaminkan
perkataan perawat tersebut.
Selang beberapa detik kemudian, disaat aku dan
perawat hening tanpa pembicaraan, datang dua orang perawat laki-laki rekan kerja
perawat yang sedari tadi menemaniku. Ku dengar dari pembicaraan mereka Dokter Densa
sudah datang. Mereka pun sibuk mempersiapkan perlengkapan operasi yang dibutuhkan.
Sekilas ku lihat tanpa sempat memperhatikan wajah, seorang pria datang dan langsung
menghampiriku dan menyuruhku duduk. Sempatku ragu untuk duduk. Takut sakit yang
kurasakan.
"Mbak percayakan saja sama kami. Mbak duduk
sebentar, nanti tidak lagi terasa sakit," ujar salah satu perawat membujukku.
Mendengar perkataan perawat tersebut, ku coba untuk duduk, sakit kurasakan. Namun,
ku tahan sakitku karena aku percaya dengan perkataan perawat tersebut. Kurasakan
di belakang badanku di suntik. Tidak berapa lama, sakit yang kurasakan tiba-tiba
menghilang, yang ada hanyalah mati rasa di bagian tubuhku pinggang ke bawah. Sayup-sayup
tak ku dengar lagi orang di sekelilingku berbicara.
xxxxx
"Mbak, kami angkat tubuhnya. Mbak mau kami
pindahkan di ruang inap." Ku dengar suara seakan berbicara kepadaku. Ku buka
mataku, terlihat di sekelilingku perawat, keluargaku dan sahabatku Mbak Eni. Mereka
beriringan mengikuti perawat yang sedang mendorong tempat tidur, tempat aku berbaring.
Dan aku hanya terdiam dalam tanda tanya: "Sudah selesaikah operasinya?"
"VIP Kamar Utama 5", ku baca papan
nama yang tertera di atas pintu ruang yang kami masuki. Baru ku sadari bahwa aku
sudah selesai di operasi dan sekarang aku dirawat inap.
"Han, makan duluya biar ada tenaga,"
ujar Mbak Eni kepadaku. Aku mengangguk. Perlahan-lahan, Mbak Eni mulai menyuapkan
Lemang ke dalam mulutku. Ku tatap Mbak Eni, teringat aku ketika dulu Mbak Eni mau
di operasi. Operasi Tumor dari sebuah tahi lalat yang menempel di sekitar hidung.
Sebelum operasi di mulai, Mbak Eni menangis tersedu. Aku hanya terdiam. Ku hapus
air matanya. Namun, air mata Mbak Eni terus mengalir tiada henti. Sekarang, baru
terasa olehku makna tangisan Mbak Eni. Tangisan yang berawal dari rasa sedih dalam
balutan penderitaan. Sedih karena kenangan hidup yang pahit dari sebuah perceraian.
Sendiri tanpa suami ataupun tanpa orang terkasih. Itulah yang Mbak Eni rasakan sama
seperti yang aku rasakan.
"Jangan banyak pikiran, jalani saja hidup
ini," ujar Mbak Eni kepadaku.
"Iya mbak," jawabku lirih.
"Han, mbak mau ke kantor, absen pulang.
Nanti, mbak kesini lagi jenguk Hana. Sekarang Hana istirahat dulu," kata Mbak
Eni kepadaku.
"Iya mbak, terima kasih." Mbak Eni
pun berlalu meninggalkanku. Teringat olehku, perkataan Mbak Eni. Sudah satu
bulan Mbak Eni naik jabatan menjadi Sales Silver di tempatku bekerja. Bahagia
hatiku mendengarnya.
Setelah kepergian Mbak Eni, ku lihat kakakku
mendekatiku. Mengusap halus keningku. Kurasakan betapa sangat sayang kakakku kepadaku.
Meskipun, aku selalu mengecewakan keluargaku. Namun, keluargaku selalu menemaniku.
Mendengar tangisku dan memberikan pencerahan kebaikan hidup untukku. Kakak dan abang
iparku selalu memotivasiku. Aku bersyukur abang ipar juga sayang kepadaku, menganggapku
seperti adik kandungnya sendiri. Ya Allah, aku bersyukur memiliki keluarga besarku:
ibu, ayah, kakak dan abang iparku.
"Han bangun nak, perawat mau periksa."
Ku buka mataku terlihat ibuku di sampingku. Selain itu, ku lihat juga ada ibu dan
adik dari abang iparku serta saudara dari pihak ayahku. Kakek dan saudara dari ibuku
datang menjengukku ketika aku di rawat di rumah sakit pemerintah. Batinku berkata:
"Aku sudah merepotkan mereka. Mereka selalu menjengukku. Aku bersyukur atas
perhatian mereka kepadaku."
Nyeri kurasakan. Ketika perawat menyuntikkan
obat melalui selang infusku. Aneh, obat anti nyeri ini selalu terasa nyeri disaat
masuk ke dalam tubuhku. Padahal, obat anti nyeri. Beda halnya dengan obat antibiotik.
Obat ini tidak terlalu nyeri ketika masuk ke dalam tubuhku. Setelah perawat memberikanku
obat dan memeriksa tensi darahku, perawat berlalu meninggalkan ruanganku. Ku dengar,
keluarga besarku membahas mutasiku. Menurut mereka, mutasi adalah satu satunya cara
untuk memecat karyawan tanpa pesangon. Aku membenarkan perkataan mereka. Teringat
nasib rekan kerjaku. Mereka sudah bertahun-tahun lamanya mengabdi di perusahaan
tempatku bekerja, akhirnya berhenti tanpa pesangon. Mereka tidak bersedia dari admin
di mutasi menjadi sales dan penempatannya pun di luar kota. Ku hela nafasku. Inilah
resiko bekerja di perusahaan swasta.
Terasa keram kakiku. Perlahan-lahan mulai bisa
ku gerakkan kakiku. Setelah lebih dari setengah hari bagian pinggang hingga ke bawah
kaki tak dapat ku rasakan. Sekarang, obat bius sudah hilang dari tubuhku. Ku dengar
HP ku berbunyi. Nada dering dari sms yang masuk. Ku lihat kakakku membalas sms yang
ada di inbok tersebut.
"Ervan dari tadi menanyakan kabar Hana,"
kata kakakku.
"Kak, Hana mau lihat HP." Kakakku
segera mengambil HP dan memberikannya kepadaku. Ku lihat di panggilan tak terjawab,
panggilan masuk dan inbok, nama Mas Ervan mendominasi HP ku. Mas Ervan sangat perhatian
kepadaku. Begitu juga dengan Ibu Mas Ervan. Sudah dua kali Ibu Mas Ervan menanyakan
keadaanku.
"Dek, cepat sembuhya. Mas minta maaf, sampai
sekarang mas belum bisa menjenguk adek." Salah satu isi sms Mas Ervan di HP
ku. Tanpa Mas Ervan bilang, aku sudah memakluminya. Baru satu bulan lebih, kembalinya
Mas Ervan ke Semarang. Tidak mungkin lagi Mas Ervan cuti kerja. Mas Ervan pun harus
kuliah.
"Hana," terdengar suara Mbak Eni memanggilku.
Aku tersenyum. Segera ku letakkan HP di samping tubuhku.
"Ini mbak bawakan baju untuk salinan."
"Terima kasih mbak," ujarku kepada
Mbak Eni. Ku lihat baju operasi masih melekat di tubuhku. Besok pagi, aku pakai
baju pemberian Mbak Eni.
"Han, pulang kerja besok, orang kantor
mau menjenguk Hana."
"Oh iya mbak. Mereka tidak jadi menjengukku
juga tidak apa-apa karena mereka sudah pernah menjengukku. Aku tidak mau merepotkan
mereka." Mendengar perkataanku Mbak Eni tersenyum menatapku. Setelah beberapa
lama kemudian, Mbak Eni pamit pulang. Mbak Eni tidak bisa lama di rumah sakit karena
Rion anak Mbak Eni sedang berada di rumah. Selama ini, Rion sering tinggal di rumah
neneknya. Di rumah orang tua Mbak Eni. Aku salut dengan Mbak Eni. Dia bisa memenuhi
kebutuhan Rion tanpa sepeser rupiah pun dari mantan suaminya. Tragis, seorang Ayah
melupakan anak kandungnya sendiri. Anak dari mantan istri pertamanya. Aku tahu mantan
suami Mbak Eni sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak. Hari semakin larut,
mataku sudah mulai mengantuk. Kulihat keluargaku dan tetangga yang menjengukku masih
bercerita tentangku. Menceritakan tentang kesalahan jahit terhadapku yang di lakukan
oleh salah seorang dokter di rumah sakit pemerintah. Terdengar olehku tetangga yang
menjengukku ikut mengatakan bahwa keluarganya pernah juga mengalami kejadian malpraktek
di rumah sakit pemerintah tersebut. Terlihat jelas, nada kecewa di pembicaraan mereka
mengenai pelayanan di rumah sakit tersebut. Pelayanan dari sebagian besar perawat,
dokter maupun petugas medis lainnya. Tak lama kemudian, tetanggaku pulang ke rumahnya.
Aku baru tahu di ruang VIP, tidak ada batas waktu pengunjung untuk menjenguk pasien.
Dari pagi hingga larut malam, tidak ada pihak dari rumah sakit yang mengingatkan
kepada kami bahwa habisnya waktu jam jenguk. Fasilitas di ruangan ini pun memadai.
Ada televisi, Ac, kulkas, lemari pakaian, wastafel, meja dan kursi hingga tempat
tidur untuk yang menjaga pasien.
xxxxx
Sore hari, seperti yang dikatakan Mbak Eni,
teman kerjaku datang menjengukku. Bahagia hatiku melihat kedatangan mereka. Mereka
tetap peduli kepadaku. Meskipun mungkin aku sudah tidak lagi bekerja di antara mereka.
Di ruang lingkup cabang yang sama. Kacab, SPV Sorum, SPV Piutang, Staf Kasir, Surveyor,
Koordinator Sales dan Sales, yang ke tiga kalinya mereka datang menjengukku.
"Assalamualaikum," sahutku ketika
nada panggilan masuk berbunyi di HP ku.
"Wa'alaikum salam. Ganggukah dek?"
"Nggak mas. Tadi ga adek angkat telephonenya
karena teman kantor lagi datang menjenguk adek. Ini baru saja mereka pulang."
"Oh begitu. Sekarang bagaimanakah keadaan
adek?"
"Alhamdulillah sudah agak baikan mas. Kata
dokter, besok perban adek sudah bisa di lepas. Kemungkinan juga adek sudah di perbolehkan
pulang."
"Alhamdulillah. Adek, mas mau pulang dulu
ke rumah."
"Iya mas, hati-hati. Kalau sudah di rumah
kasih tahu adek."
"Iya dek", ujar Mas Ervan kepadaku.
Setelah itu, komunikasi terputus di HP ku. Hampir setiap hari, setelah pulang kerja
Mas Ervan selalu menelephoneku.
Pagi hari, Dokter Densa sudah datang memeriksa
lukaku. Membuka perbanku.
"Bagus lukanya. Hari ini sudah bisa pulang.
Jumat depan kontrol ulang di praktek saya," ujar Dokter Densa.
"Iya dok, terima kasih," ujarku sumringah.
Setelah Dokter Densa dan perawat meninggalkanku, ku gerakkan badanku untuk bangkit
dari tidurku. Aku ingin mencoba untuk duduk. Perlahan-lahan, aku mulai duduk di
kursi. "Alhamdulillah," syukurku. Akhirnya, aku bisa duduk walau masih
terasa nyeri. Tak sabar hatiku untuk segera sembuh. Melanjutkan kembali aktivitasku
yang tertunda. Mungkin, sekembalinya aku di tempat kerja, aku sudah tidak di butuhkan
lagi di perusahaan tersebut. Karena, sudah satu bulan lebih aku tidak masuk kerja.
Kabar mutasiku, silih berganti tak tentu arah. Dari Sales berubah menjadi Admin
Spart Part/ Front Bengkel Cabang Manna. Tiga jam jarak yang di tempuh untuk menuju
cabang tersebut dari tempat tinggalku. Kemudian, kabar terakhir yang ku dengar menjadi
Sales Counter di Cabang Penarik. Enam jam jarak yang harus di tempuh dari rumah
orang tuaku. Miris, aku mendengarnya. Sekarang, aku pasrah dengan mutasiku. Tak
ingin, aku memikirkannya.
"Ibu, Bapak rincian biaya berobat sudah
selesai. Silahkan ke ruang administrasi bagian pembayaran," kata perawat yang
masuk ke ruanganku. Ayah dan kakakku, segera mengikuti perawat tersebut. Membayar
biaya tambahan atas pengobatanku. Hal ini disebabkan karena dari Kelas 2 Kartu In
Health tempatku bekerja, keluargaku menginginkan aku untuk masuk Ruang VIP. Setelah
keluargaku menyelesaikan berkas pembayaranku, kami langsung meninggalkan rumah sakit
menuju rumah orang tuaku.
xxxxx
Ku ketik di Oppo ku, kalimat demi kalimat. Curahan
hati ku tuangkan dalam sebuah tulisan. Sudah beberapa minggu, aku tak lagi menulis.
Sejak aku menulis "Tangisku Tenggelam Di Pasir Putih." Cerpen pertamaku
yang berhasil dipublikasikan.
Teringat olehku, sejak aku terbaring di tempat
tidur karena kecelakaan tersebut. Aku mengeluh kepada Mas Ervan. Ku katakan padanya,
jenuh aku dengan rutinitasku. Hanya berdiam diri tanpa kegiatan yang berarti. Selain
itu, ku katakan padanya, bagaimana aku harus membayar hutang bankku, jika aku tak
lagi bekerja. Mas Ervan bilang kepadaku, rezeki tak kemana. Dia pun bercerita kepadaku
tentang orang yang mendapatkan royalti meskipun dia berada di dalam rumah.
"Adek coba saja menulis cerpen. Mudah-mudahan,
melalui cerpen adek bisa mendapatkan penghasilan," ujar Mas Ervan saat itu.
Dulu, ketika aku SMP hingga SMA aku memang suka menulis cerpen dan puisi. Tapi,
cerpen tersebut tidak pernah aku kirim ke media cetak atau penerbit. Hanya dibaca
teman dekatku saja. Sekarang, Mas Ervan memotivasiku untuk kembali menulis cerpen.
Saat itu, aku bilang kepadanya, bagaimana jika aku menulis novel. Mas Ervan berkata:
"Cerpen saja dek biar mudah di publikasikan." Akupun mengikuti
perkataan Mas Ervan. Aku mulai menulis cerpen. Meskipun, aku terbaring di tempat
tidur. Di HP Oppoku, kutuangkan sebuah tulisan. Dengan menulis, hari-hariku di rumah
tak lagi bosan kurasakan. Hingga akhirnya, "Tangisku Tenggelam Di Pasir Putih"
selesai ku buat. Ku kirim cerpenku kepada Mas Ervan via BBM. Mas Ervan pun membacanya.
Kemudian berkata kepadaku: "Dek, apa nama situs cerpen yang menurut adek bagus
untuk di publikasikan," aku pun menjawab "Balada Cerpen, Nuansa Cerpen,
Cakrawala Cerpen dan Gelora Cerpen." Esoknya, Mas Ervan mengirim sms kepadaku.
Singkat isinya: geloracerpen.blogspot.com. Ku buka situs tersebut. Berkaca-kaca
mataku, "Tangisku Tenggelam Di Pasir Putih" ada di dalam situs tersebut.
Bahagia ku rasakan. Melalui situs tersebut, karyaku bisa di baca oleh semua kalangan
pengguna internet. Baru beberapa hari terbitnya situs tersebut, ku lihat sudah cukup
banyak orang membaca cerpenku. Di Inbok Facebookku, ku ketahui teman SMA ku, meminta
izin kepadaku untuk mengeprint cerpen tersebut. Sebagai bahan ajaran Bahasa Indonesia
di SMA dan MTs tempat dia mengajar. Terharu, aku mendengar perkataan temanku tersebut.
Selain itu, dari temanku atau dari pengguna situs internet yang tak ku ketahui,
mereka bilang kepadaku agar aku mengirimkan cerpen tersebut ke media cetak atau
penerbit buku maupun ke penerbit via online untuk mendapatkan royalti.
Nada dering di Nokia ku berbunyi. Mengagetkanku
dari lamunanku, tulisanku. Segera ku angkat telephoneku.
"Assalamualaikum," sapaanku ketika
menjawab telephone Mas Ervan.
"Wa'alaikum salam. Bagaimana dek, sudah
selesaikah?" suara Mas Ervan terdengar di Nokiaku.
"Belum mas, adek bingung bagaimana endingnya."
"Happy ending. Kita harus memperjuangkan
hubungan kita hingga ke pelaminan. Menikmati hari tua dengan kebersamaan kita."
"Aamiin. Mas tidak malukah mas adek menceritakan
tentang kita terutama tentang adek?"
"Tidak dek," tegas Mas Ervan kepadaku.
Mendengar perkataan Mas Ervan, bahagia bercampur
haru menyelimuti hatiku. "Ya Allah, setelah kejadian nestapa beruntun menimpaku.
Dari perceraian, mutasi hingga kecelakaan, masih Engkau selipkan kebahagiaan kepadaku.
Aku bersyukur Engkau mempertemukanku dengan Mas Ervan. Aku berharap dialah jodoh
yang terbaik untukku. Jodoh yang telah Engkau siapkan untukku. Dia hadir disaat
aku terpuruk. Membangkitkan semangatku agar aku selalu percaya dengan semua cara
Mu untuk membuatku menjadi manusia yang lebih baik lagi."
"Dek..," sahut Mas Ervan, kembali
terdengar di telingaku. Memecahkan syukurku kepada Allah.
"Iya mas. Mas, adek mau nulis lagi. Adek
ingin secepatnya menyelesaikan cerpen ini."
"Oh iya dek, kalau begitu mas matikan telephonenya."
"Iya mas. Mas istirahat dulu di rumah,
mempung ga masuk kuliah hari ini."
Setelah itu, ucapan salam mengakhiri percakapan
kami via telephone.
Segera ku ambil Oppoku. Ku lanjutkan kembali
tulisanku. Lewat cerpen yang ku ketik ini, aku ungkapkan semua isi hatiku. Tanpa
beban, ku kisahkan tentangku. Paragraf demi paragraf tersusun indah di Oppoku. Membentuk
halaman yang terpampang manis di layar sentuh Oppoku.
"Alhamdulillah," ucapku. Setelah beberapa
hari lamanya, akhirnya cerpen ini selesai juga aku buat. Saatnya aku membaca dari
awal hingga akhir cerpen ini. Sekaligus untuk memeriksa tulisannya sebelum aku kirim
ke Mas Ervan. Esok paginya, ku telephone Mas Ervan.
"Mas, alhamdulillah cerpen adek sudah selesai,"
kataku antusias.
"Alhamdulillah dek. Sekarang, adek kirim
ke mas ya."
"Iya mas." Akupun langsung mengirim
cerpen tersebut ke Mas Ervan via BBM.
Jam demi jam berlalu meninggalkan waktu. Sejak
pagi tadi, setelah aku mengirimkan cerpen tentang kami, hingga malam ini Mas
Ervan tak menghubungiku. Sms ku pun tak dibalas. Begitu juga dengan telephoneku.
Biasanya, sesibuk apapun Mas Ervan selalu menyempatkan diri untuk menghubungiku.
"Ya Allah, ada apakah ini? Apa yang terjadi?". Pikiran buruk mendera otakku.
Batinku pun menangis. Teringat kembali olehku, perkataan kakakku dan ibu yang ada
di BP4 tersebut: "Apa yang terbaik bagimu, belum tentu yang terbaik menurut
Allah." Seketika kecewaku hilang di telan waktu. Hatiku berkata: "Jika
saat ini kecewa kurasakan, aku harus tetap bersyukur. Allah tahu apa yang terbaik
untukku. Bukankah aku sudah meminta kepada Allah, jodoh yang terbaik untukku? Mudah-mudahan
Allah mengabulkan permintaanku. Karena, aku sudah merasakan perceraian. Jadi, jika
aku ingin menikah kembali, jangan lagi ada perceraian dalam hidupku. Cukup sekali
saja dalam hidupku bercerai, melakukan perbuatan yang paling di benci Allah meskipun
Allah mengizinkannya. Aku harus berusaha menjadi manusia yang terbaik di mata Allah.
Agar Allah percaya kepadaku untuk memberikanku jodoh yang terbaik. Akupun tertidur
di peraduanku.
xxxxx
Ku tatap lelaki yang ada di sampingku. Terasa
damai hatiku. Bahagia tak juga dapat menggambarkan rasaku. Melebihi rasa hidup untukku.
Ku lihat pemandangan di sekitarku. Takjub mataku menatap Masjid Agung Jawa Tengah
ini. Rumah Allah dan sekaligus salah satu tempat wisata yang ada di Semarang. Baru
kali ini aku melihat masjid yang begitu megah.
"Dek, kita zuhur dulu."
"Iya mas," sahutku. Kurasakan
genggaman erat di tanganku seolah-olah tak ingin diriku terlepas darinya. Mas Ervan
menuntunku menuju tempat wudhu. Sudah sehari aku berada di Semarang. Ini yang pertama
kali untukku, menginjakkan kaki ke Kota Semarang. Menikmati panorama Kota Semarang.
Dulu, ketika aku travelling, aku hanya melewati saja Kota Semarang. Cuma singgah
di rumah orang tua Mas Ervan dan cuma singgah di Bandara Achmad Yani. Masjid Agung
ini, tempat wisata yang pertama kali di perkenalkan Mas Ervan kepadaku, di Kota
Semarang.
Teringat olehku, setelah aku mengirimkan cerpen
yang selesai aku buat, Mas Ervan tidak menghubungiku. Namun, esoknya Mas Ervan memberitahukan
kepadaku bahwa HP nya rusak. Selain itu, Mas Ervan sedang mengikuti seleksi Pelatihan
Network Administration yang di selenggarakan oleh BPPTIK, Kementerian Komunikasi
dan Informatika. Mas Ervan pun lulus seleksi. Sehingga lusanya, Mas Ervan ke Jakarta
untuk mengikuti pelatihan tersebut. Satu minggu kemudian, pulang dari pelatihan
tersebut Mas Ervan dan keluarganya langsung menuju Bengkulu menemui keluargaku.
Melamar diriku. Sejak itu, aku lebih memilih keluar dari tempatku bekerja. Hal ini
dikarenakan setelah menikah aku dan Mas Ervan tinggal di Semarang. Padahal, baru
satu minggu aku masuk kerja dan mutasi tidak jadi aku alami. Posisiku tetap di jabatan
sebelumnya, Admin Sales.
"Adek, wudhu di sini ya..mas juga mau wudhu
di sana," kata Mas Ervan kepadaku sembari telunjuknya mengarah ke tempat wudhu
pria.
"Iya mas," kataku. Mas Ervan pun berlalu
meninggalkanku. Segera ku berwudhu. Selanjutnya sholat. Dalam doaku, tangisku pecah.
Bukan karena dukaku. Namun, tangisan kebahagiaanku. Aku berharap inilah pernikahan
terakhirku. Pernikahan yang di ridhoi Allah. Terciptanya keluarga sakinah, mawaddah
dan warahmah. Cuma maut yang dapat memisahkan kami.
Satu Minggu lagi, aku dan Mas Ervan menikah.
Begitu cepat kejadian menimpaku. Seakan-akan waktu hanya mengenal putaran "Stopwatch"
dalam hidupku. Hanya hitungan bulan, berbagai tragedi menerpaku. Ku ingat perkataan
kakakku ketika menasehatiku: "Allah mempunyai rencana kebaikan dibalik sebuah
musibah. Siapa tahu, setelah kecelakaan ini Hana menikah, sama seperti kakak. Menikah
dengan abang setelah kakak jatuh dari motor karena di jambret." Sekarang, perkataan
kakakku tersebut benar adanya.
"Adek," panggil Mas Ervan kepadaku.
"Iya mas," segera ku beranjak dari
tempat dudukku. Menghampiri Mas Ervan.
"Kita duduk di sana saja dek." Tunjuk
Mas Ervan kepadaku. Akupun mengikutinya. Setelah itu, kami duduk lesehan diluar
ruangan utama masjid.
Kulihat Mas Ervan mengeluarkan laptop dari dalam
tasnya. Sambil berkata kepadaku:
"Mas pernah bilang sama adek, cerpen adek
harus di akhiri happy ending. Mas juga bilang mas upload ke situs geloracerpen.blogspot.com
ketika kita tiba di Semarang. Setelah adek di samping mas. Bukan di saat mas jauh
dari adek. Sekarang, di masjid ini, di rumah Allah kita uploadnya." jelas Mas
Ervan kepadaku. Terharu aku mendengar perkataan Mas Ervan. Selama ini, terkadang
kesal melanda hatiku ketika Mas Ervan tak menjawab pertanyaanku. Disaat aku sms:
"Lagi ngapainkah mas?." Meskipun, Mas Ervan sudah membalas smsku, dengan
kata-kata: "Tidak semua yang kita lakukan harus dikatakan. Karena diam bukan
berarti lupa. Sepi bukan berarti hilang. Jauh bukan berarti putus. Walau, Mataku
tak selalu melihatmu. Walaupun, tanganku tak bisa menyentuhmu dan kakiku yang tak
selalu jalan bersamamu. Tapi, aku punya hati yang selalu mengingat dan menyayangimu."
Sekarang, baru aku sadari, pikiran burukku berbanding terbalik dari kenyataan yang
sebenarnya terjadi. Seharusnya, pikiran positif yang aku tanam ke dalam otakku.
Bukan pikiran negatif yang justru membuat hatiku tersiksa.
"Adek, cerpennya sudah terupload,"
kata Mas Ervan tersenyum sumringah kepadaku.
"Iya mas," sahutku dan membalas senyum
Mas Ervan. Kulihat di layar laptop Mas Ervan terpampang jelas nama situs cerpen
kami geloracerpen.blogspot.com. Sekarang, di dalam situs tersebut sudah ada dua
cerpen karyaku. "Asaku Dalam Erha Kataki" cerpen yang barusan kami upload.
Cerpen kedua ku yang menceritakan tentangku. Erha adalah singkatan dari nama kami.
Ervan dan Hana. Kataki berasal dari kata kita. Maksud kita di sini adalah semua
orang yang mau merestui dan mendoakan hubungan kami menuju ridho Allah.
Akhirnya, Erha Kataki dapat kami simpulkan:
sebatas Ervan dan Hana kata kita, yang berarti bahwa adanya dukungan penuh dari
berbagai pihak yang ikut memperkokoh hubungan kami menuju keluarga yang
sakinah, mawaddah dan warahmah.
Bengkulu, 20 Maret 2015
Halijah
Pasaribu


No comments:
Post a Comment