Ku tatap sayu lelaki yang ada di depanku. Luluh hati ini disaat dia menatap tajam mata ku. Kikuk dan gemetar hinggap di tubuhku.
" Laras puisi mu bagus, maaf aku
mengambilnya sesudah kamu membuangnya di tong sampah kemarin".
Aku terperangah tak percaya mendengar
ucapan lelaki yang ada di depanku. Ya, bagaimana mungkin lelaki yang selalu
jadi bahan rebutan kaum hawa di sekolahku ini mau berbicara denganku, menyukai
puisiku. Sedangkan aku, bukanlah sosok murid yang cerdas, wajahpun pas pasan.
Berbeda dengannya: juara umum, Ketua Osis dan tampan rupawan.
"Laras tak suka kah kau aku mengambil
puisimu" Ujar Aldi membuyarkan ketakjubanku.
"Eh, Oh tentu saja Aldi kamu boleh
mengambil puisi tersebut dan terima kasihya sudah menyukai puisiku".
Aldi pun tersenyum dan berlalu
meninggalkanku.
"Cie cie...Laras.." Teriak sohibku
Lila dan Zila dari kejauhan sambil mendekatiku.
"Apaan sih.." Jawabku menahan
malu.
"Kami lihat kok Aldi menyapamu, ehm
kayaknya cintamu tak bertepuk sebelah tangan" Ucap Lila centil,
menyudutkanku.
"Ih, apaan sih, kata siapa aku suka
Aldi"
"Hallahh..ga mau ngaku juga nih..Laras
kami tuh tahu kamu suka Aldi, tatapan matamu itu loh ga bisa dibohongi. Setiap
Aldi hinggap di penglihatanmu, matamu selalu tak bergeming menatapnya"
Zilapun tak mau kalah menyudutkanku.
"Hayyo, ingat ga puisi yang kamu buat
kemarin "Rasaku", di bawah puisi tersebut kamu cantumkan nama
Aldi" Lila tersenyum genit menatap wajahku.
"Haduh kalian ini pintar banget buatku
selalu tak berkutik..nyebelin..iya aku suka Aldi tapi ga mungkin toh dia suka
aku"
"Kata siapa, kita lihat saja
nanti" Ujar Lila.
Zilapun berkata: "Ras, emangnya Aldi
tadi berbicara apa saja sama kamu".
"Aldi bilang dia menyukai puisiku, dia
mengambil puisi yang sudah aku buang di tong sampah kemarin"
"Nah itu buktinya, Aldi suka kamu,
pasti kemarin Reno mendengarkan semua pembicaraan kita, waktu aku bilang: kamu
suka Aldi. Reno kan sahabatnya Aldi. Setelah lama kita berbicara baru kita
sadar di belakang kita ada Reno" Ucap Lila.
"Iya benar banget tuh, lagian ngapain
Aldi ubek ubek sampah mau cari puisimu. So, berarti banget puisi tersebut bagi
Aldi"
"Yups, setuju aku dengan pikiranmu
Zila" Lilapun mengacungkan kedua jempol tangannya dengan penuh semangat.
Akupun tersenyum bahagia mendengar penafsiran mereka tentang Aldi.
Kau
adalah hatiku, kau belahan jiwaku
Seperti
itu ku mencintamu sampai mati..
Lagu Utopia terus aku putar di HP berulang
kali. Ehm, aku tersenyum sendiri dengan rasaku. Seperti inikah rasanya jatuh
cinta? melamun tiada henti memikirkan orang terkasih. Lirik lagu
"Mencintaimu Sampai Mati" mungkin terdengar konyol dilogikaku.
Bagaimana mungkin aku mencintai orang tersebut sampai mati sedangkan aku
sendiri, belum mengetahui apa yang dirasakan orang tersebut terhadapku. Aldi,
apa mungkin kamu juga mempunyai rasa yang sama terhadapku? Ntahlah, aku tak mau
terlalu berharap. Aku nikmati saja rasa yang ada.
"Larassss" terdengar teriakan
histeris sahabatku Lila dan Zila. Kulihat wajah mereka sumringah bahagia.
"Laras, Aldi mencintaimu. Tahukah kau,
tadi kami menemui Aldi setelah dia selesai makan Bakso di Kantin. Kami bilang
kalau kamu mencintainya, maukah Aldi menerima cintamu? dan Aldi bilang iya dia
mencintaimu Laras".
Aku terkejut mendengar perkataan sahabatku.
Marah bercampur bahagia. Aku marah karena tanpa seizinku sahabatku mengatas
namakan aku untuk mengungkapkan rasa cintaku kepada Aldi. Dalam kamus hidupku,
tidak seharusnya kaum hawa terlebih dahulu yang mengungkapkan rasa cinta terhadap
kaum adam. Namun, aku bahagia setelah tahu Aldi juga mencintaiku. Aku tatap
sahabatku dengan mata berbinar.
Kulihat dibalik jendela Aldi duduk di bawah
Pohon Beringin. Kenapa Aldi belum pulang batinku sedangkan teman sekelas IPAnya
sudah pulang semua. Kelasku IPS 1 hari ini agak lama pulangnya karena Ibu Meta
Guru Ekonomi sedang menatar kami akibat banyaknya temanku yang tidak membuat
pekerjaan rumah (PR) Ekonomi. Beda halnya dengan IPS 2 kelas sahabatku Lila dan
Zila mereka juga sudah pulang. Akhirnya waktu pulangpun tiba. Seluruh temanku
langsung bubar meninggalkan kelas termasuk diriku. Kutatap Aldi, namun satu
katapun tak juga keluar dari bibirku. Aku berjalan menuju jalan aspal untuk
mencari angkot menuju rumahku. Kulirik Aldi di sudut mataku, kulihat dia
berjalan mengikutiku di belakangku. Hatiku bahagia, setelah siang tadi
sahabatku mengatakan tentang perasaanku, dapat kurasakan perhatian Aldi
kepadaku, meskipun sampai sore ini bahasa kata belum keluar dari bibir kami
berdua.
"Lingkar Barat Pak" Ujarku yang
kesekian kali kepada Sopir Angkot dan lagi lagi jawaban Sopir Angkot
mengecewakanku. Uh, kalau sudah terlalu sore begini memang susah cari angkot
menuju rumahku karena jarak rumahku menuju sekolahku lumayan jauh waktu yang
harus ditempuh. Kulihat Pak Min Sopir Aldi, jengah raut wajahnya karena sudah
menunggu selama 2 jam tapi Aldi belum juga mau pulang bersamanya.
"Lingkar Barat ya Pak Rp
20.000,-" Aldipun menyerahkan uang Rp 20.000,- kepada Sopir Angkot. Dan
tentu saja Sopir Angkot bersedia karena tarif Angkot dari sekolah menuju
rumahku seharusnya Rp 3.500,-. Kutatap Aldi dan tersenyum sambil mengatakan
terima kasih. Ya, selama 2 Jam kami diam membisu namun tatapan mata kami yang
berbicara penuh arti.
Tak terasa sudah satu minggu berlalu. Hubunganku
dengan Aldi tak ada perubahan tetap diam membisu dan saling tunggu ketika tiba
waktunya pulang sekolah. Ada satu kejadian yang selalu buatku tertawa geli jika
mengingatnya. Ketika aku pulang sekolah, Roki temanku dari sekolah lain
menemuiku. Roki mengungkapkan cintanya kepadaku dengan memainkan gitar sambil
menyanyikan lagu:
Seandainya
kau dapat kumiliki
Gunung
tinggi kan ku daki
Akan
kupersembahkan Bunga Edelweis untukmu,
Seandainya
kau terima cintaku
Kuingin
terbang ke awan
Aku suka dengar Roki menyanyikan lagu tersebut. Indah syairnya, merdu alunan gitarnya. Aku tak tahu siapa artis yang menyanyikan lagu tersebut dan ini pertama kali aku mendengarkan lagu tersebut dari bibir Roki. Kulihat merah di wajah Aldi menahan rasa cemburu dan amarah di dadanya. Teringat aku akan perkataan sahabatku ketika Aldi bilang iya dia mencintaiku, Alia cewek tercantik di sekolahku yang banyak digandrungi kaum adam menahan amarah kepadaku disaat dia mendengar ucapan Aldi tersebut.
Aku tersenyum, bahagia hatiku melihat rasa
cemburu di wajah Aldi. Setidaknya Aldi mengetahui meskipun wajahku pas pasan
dan di sekolah aku cuma murid yang biasa saja, ternyata masih ada juga orang
yang mencintaiku selain dia. Dan aku menghargai usaha Roki. Di depan Aldi aku
bilang: aku tak bisa menjadi pacarnya karena aku sudah mempunyai pacar. Rokipun
dengan berat hati bisa menerima keputusanku. Sejak kedatangan Roki di
sekolahku, ku lihat Aldi selalu memainkan gitar di depanku. Lagi lagi aku tersenyum
geli melihat tingkah laku Aldi meskipun kami tak berkata.
xxxxx
"Uhh, sebentar lagi ujian akhir. Belum
siap nih" Gerutu Lila.
"Siap ga siap ujian tetap berlangsung.
Makanya kita harus belajar biar lulus, malu lagi kalau ga lulus. Mudah mudahan kita
bertiga lulus". Sahut Zila.
"Aamiin Ya Allah". Aku dan Lila mengaminkan
perkataan Zila.
"Aku rasa Aldi sudah siap banget ujian.
Besokpun ujian aku rasa hasilnya sudah sangat memuaskan" Ujar Lila tersenyum
ke arahku.
"Ya iyalah, otaknya tuh selalu di asah
makanya pintar, kita juga kok bisa pintar seperti Aldi kalau mau belajar dengan
sungguh sungguh" celetuk Zila.
"Sayangnya, aku dan Lila malas belajar.
Tidak seperti dirimu Zila" Sahutku cengengesan menatap Lila. Ya, diantara kami
bertiga cuma aku dan Lila yang hasil Rapornya cukup memuaskan. Dari kelas 1 hingga
masuk kelas IPS ini, Zila selalu mendapatkan peringkat 5 (Lima) besar di kelasnya.
"Hahahaha, Laras seharusnya kamu tuh ikuti
Aldi, jangan ikuti aku dong. Gimana sih masak ga termotivasi untuk belajar. Lihat
tuh, jam istirahat begini Aldi tetap membaca buku" Dengan sigap Lila mengarahkan
jari telunjuknya ke arah Aldi yang berada jauh dari tempat kami duduk. Terlihat
Aldi dari kejauhan sedang membaca buku di Ruang Perpustakaan. Benar kata Lila, kenapa
aku ga termotivasi untuk belajar? Rasanya ingin secepatnya aku meninggalkan temanku
dan berjalan menuju kelasku untuk belajar.
"Bukan Laras saja yang harus belajar. Kamu
juga Lila harus belajar. Ya sudah, kita manfaatin saja waktu satu minggu yang tersisa
ini untuk belajar" Ujar Zila tersenyum menatap Lila. Lilapun tersenyum malu
membalas tatapan Zila.
"Iya nih Lila, aku takut sewaktu Ujian
Akhir nanti Lila masih juga buat contekan. Seperti kelas 2 dulu, tetap saja nyontek
walau sudah ketahuan Guru dan dihukum keluar kelas ga diperbolehkan lagi mengikuti
ujian. Masih lumayan aku kan Zila, walau nilai ujian pas pasan tapi benar benar
murni dari otakku" Ujarku kalem.
"Yeeeee, kelas 3 ini sudah ga nyontek lagi
aku Laras, weeekkkk" Cibir Lila sambil menjulurkan lidahnya ke arahku.
"Iya ga lagi nyontek karena setiap ujian,
Lila selalu disuruh Guru duduk di kursi paling depan persis di hadapan Meja Guru"
Sindir Zila. Aku dan Zilapun tertawa cekikikan menatap Lila. Lilapun tertunduk malu.
xxxxx
Tak terasa sudah tiga hari kami ujian akhir.
Selama ujian berlangsung, Aldi tak pernah menungguku. Aku tahu Aldi fokus belajar
untuk mempersiapkan diri menghadapi materi pelajaran yang akan diuji setiap besoknya.
Akupun ikut termotivasi untuk belajar. Namun, terkadang buku yang sedang kubaca
berubah alih menjadi Aldi. Beberapa saat lamanya, kubiarkan pikiran ini mengkhayal
memikirkan Aldi. Tersenyum geli aku dengan pikiranku. Hingga akhirnya, jam dinding
di kamarku berbunyi dan menyadarkanku dari lamunanku. Kembali kubuka buku yang sedari
tadi tak berkutik di kedua tanganku. "Ehm, untung ada pelajaran tambahan di
sekolahku jadi materi pelajaran Bahasa Inggris ini mudah untuk ku pahami".
Gumamku dalam hati. Baru sadar diri ini, manfaat diadakannya pelajaran tambahan
di sekolahku. Khususnya untukku ataupun murid lain yang malas belajar. Dengan adanya
pelajaran tambahan di sekolahku, mau tak mau kami diharuskan belajar. Karena diwajibkan
untuk kami mengikuti materi pelajaran tambahan di sekolah.
"Laras, mau ga ikut kami ke Pasir Putih?"
Ujar Zila.
"Kapankah?" Kataku.
"Sekarang, kita refreshing merayakan selesainya
ujian akhir" Ucap Lila dengan penuh semangat.
Sudah satu minggu kami Ujian Akhir Nasional.
Hari ini adalah hari terakhir kami ujian. Dan selama satu minggu, aku melihat Aldi
hanya dari kejauhan. Saat ini matakupun sibuk mencari sosok Aldi. Namun, Aldi tak
terlihat olehku. Sudah pulangkah Aldi? Hanya di pagi hari saja aku menatapnya. Itupun
melihatnya dari kejauhan. Jadilah, batinku bergumam. Setidaknya, aku masih bisa
melihat dia.
"Laras, gimana mau ga ikut bersama kami
ke Pasir Putih?" Ulang Zila menyadarkanku dari pikiranku tentang Aldi.
Akupun tersenyum dan berkata: "Pasti, aku
mau ikut kalian".
"Hore, saatnya kita refreshing" Teriak
Lila.
"Kami tahu kok kalau kamu suka banget Pasir
Putih". Lanjut Lila tersenyum dan langsung mengamit tanganku dan Zila untuk
segera melangkah mencari angkot menuju Pasir Putih.
Tibalah kami di Pasir Putih. Lila dan Zilapun
berteriak histeris berlari menuju Pantai. Aku tersenyum kecil melihat mereka. Gemuruh
ombak bersahut sahutan menyambut kedatangan kami. Kamipun asyik melepas penat setelah
seminggu lamanya kami berkutat dengan ujian yang cukup menguras pikiran kami. Main
pasir, basah basahan di Pantai menjadi daya tarik tersendiri bagi kami. Tak lupa
di setiap aktifitas kami di Pasir Putih Pantai Panjang, kami abadikan dengan berpotret
ria via Handphone milik sahabatku Lila dan Zila. Hari ini, kami tertawa bahagia
melepas canda dan tawa di tengah tengah gemuruhnya ombak Pantai Panjang di kota
kelahiranku.
xxxxx
Pengumuman kelulusan sekolah telah tiba.
Hampir 1 bulan aku dan Aldi tak bertemu. Disaat inilah pertemuan terakhirku
dengan Aldi. Aku bahagia dan terharu Aldi memperoleh NEM tertinggi di sekolahku
dan masuk tiga besar NEM tertinggi IPA di provinsiku. Inginku ucapkan selamat
kepada Aldi namun bibirku kaku untuk mengucapkannya. Aku takut dia menanyakan
nilaiku karena nilaiku pas pasan dan Alhamdulillah aku lulus. Syukurnya, Lilapun
lulus begitu juga dengan Zila. Aku terharu, Zila juga meraih NEM tertinggi IPS peringkat
lima besar di provinsi kota kelahiranku. Peluk dan cium sambil ku ucapkan selamat
kepada sahabatku Zila.
Di gerbang pintu sekolah, Aldi menatapku.
Seketika dia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya dan menyodorkannya di
tanganku. Akupun berkata: "Apa ini Al?". Kulirik pemberian Aldi yang
terbungkus kertas kado bergambar hati berwarna pink.
"Diary, ku ingin kau menuliskan semua
puisimu di diary ini". Tanpa sempat ku ucapkan terima kasih, Aldi berlalu
meninggalkanku masuk ke dalam mobilnya.
xxxxx
Bulanpun berganti tahun, tak terasa sudah
3,5 tahun aku tak lagi berjumpa dengan Aldi.
"Laras, Minggu depan SMA kita
mengadakan reunian di Kemuning Pantai Panjang. Ikutya, budgetnya Rp 150.000,-
per orang". SMS singkat dari Lila. Akupun langsung membalasnya dengan
antusias.
"Iya pasti aku ikut dan memang Senin
besok aku pulang ke rumah orang tuaku. Tiket pesawat sudah kubeli".
"Sip, Laras Aldi juga ikut reunian. Aku
tau dari Reno. Kemarin aku dan Zila ketemu Reno di perpustakaan UNIB. Ternyata
Reno juga kuliah di UNIB (Universitas Bengkulu) tapi Fakultas Pertanian".
Bergetar ragaku ketika kubaca sms Lila
tersebut. Kuambil diary ungu di meja belajarku, sudah ratusan jumlah puisi di
diary tersebut. Sebagian besar menceritakan tentang kerinduan seorang kekasih.
Aldi tahukah kau? hingga saat ini aku tetap mencintaimu. Kukira kamu di kota pelajar
ini karena sebelumnya aku dengar kamu mendapatkan PPA di Universitas Gajah Mada
(UGM). Aku berusaha mengikuti jejakmu, hingga akhirnya, aku berhasil lulus
SNMPTN dan tercatat sebagai mahasiswi UGM. Aku lakukan ini agar kita bisa
bertemu. Namun, ternyata kamu kuliah di luar negeri. Meskipun demikian, Aku
selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Akupun fokus menuntut ilmu di tanah
rantau, tanpa cinta pengganti dirimu. Ya Aldi, kota pelajar ini kota
kesendirian cintaku. Namun, aku yakin di kota kelahiranku kita akan berjumpa.
Lagu Utopia "Mencintaimu Sampai
Mati" kembali terdengar di telingaku yang artinya ada lagi pesan masuk di
Handphoneku. Segera kubuka HP. Ehm, SMS dari orang yang sama, Lila. Segera kubaca
sms Lila.
"Laras, baik baik sajakah dirimu? kenapa
engkau tak membalas smsku? tak suka kah kau aku menyebut nama Aldi? benarkah
dirimu sampai saat ini belum mempunyai pacar?" Bertubi tubi pertanyaan Lila
di kotak masukku. Akupun membalas sms Lila:
"Alhamdulillah aku baik baik saja dan sampai
saat ini aku masih sendiri karena tanpa ku bilang engkaupun tahu aku masih menunggu
Aldi. Doakan saja semoga aku cepat menyusul seperti kalian" Ucapku. Ya,
kedua sahabatku baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Suami Lila PNS di
Pemprov. Bengkulu dan suami Zila Pengusaha Batu Bara di Kota Bengkulu. Aku
bahagia melihat nasib baik kedua sahabatku. Meskipun mereka sudah menikah,
mereka tetap melanjutkan kuliahnya di jurusan yang sama denganku: Managemen.
xxxxx
Ku hirup udara pagi. Udaranya sejuk dan
menyegarkan tubuhku. Sudah 2 hari aku tiba di kota kelahiranku dan ini hari
pertamaku menginjak Pasir Putih di Pantai Panjang setelah 3,5 tahun lamanya aku
tak menapakinya. Kutatap Kemuning, disanalah tempat reunian SMA kami nanti.
Empat (4) hari lagi perjumpaanku dengan Aldi.
"Mbak Sisy" sahut seorang wanita
kepada Sisy yang sedang duduk didekatku. Sisy adalah temanku dimana rumah orang
tuanya tetangga dekat dengan rumah orang tuaku.
"Apakah Mbak namanya Sisy" ujar
wanita tersebut yang kedua kalinya. Kulihat ekspresi Sisy tampak tak senang
dengan kehadiran wanita tersebut. Namun, tiba tiba ada satu orang lagi wanita
mendekati kami yang diikuti oleh 2 orang lelaki. kulihat Sisy hendak berlari
meninggalkan aku dan yang lainnya. Namun, dengan cekatan wanita itu menarik
Sisy. Mengambil tasnya dan memeriksa isinya. Ingin rasanya ku hardik wanita tersebut
yang sudah berani mengambil tas Sisy secara paksa. Belum sempat aku utarakan apa
yang ada di pikiranku, terdengar sebuah pertanyaan di telingaku.
"Mbak temannya Sisy" Kata lelaki
yang bersama wanita tersebut.
"Iya, memangnya ada apakah"
Jawabku lirih menahan amarah melihat Sisy diperlakukan kasar seperti itu.
"Kami juga ingin memeriksa tas anda"
Sahut lelaki itu, sambil menarik tas yang ada di tanganku. Setelah selesai menggeledah
tasku, lelaki tersebut mengeluarkan kartu identitas miliknya dan menunjukkannya
kepadaku sambil berkata:
"Ikut kami di kepolisian". Tersentak
tubuhku setelah tahu siapakah orang yang ada di hadapanku.
xxxxx
Dibalik jeruji besi ini ingin ku lampiaskan
amarahku. Ya Allah, kenapa aku bisa dalam situasi seperti ini. Aku baru tahu
kalau Sisy Target Operasi (TO) Pemalsuan Uang. Sialnya, uang palsu Rp 50.000,-
ada di dompetku. Kenapa bodohnya aku, tak menyadari kalau uang yang diberikan
Sisy di subuh hari tersebut sebelum kami pergi ke Pantai Panjang adalah uang
palsu. Ya, Sisy memberikan uang tersebut untuk mengisi bensin motorku, sempatku
tolak uang pemberian Sisy. Namun, Sisy marah kepadaku dia bilang aku tidak
menghargainya. Uang tersebut tanda terima kasih Sisy kepadaku karena di subuh
hari aku mau menemani Sisy menemui temannya di Pantai Panjang. Dengan tujuan,
mengambil hasil proposal skripsi Sisy yang telah dibuat oleh temannya tersebut.
Selain itu, yang semakin mempersulit
posisiku sebagai tersangka adalah uang Rp 5.000.000,- yang berada di dalam jok
motor dan motor itu adalah milikku. Aku tahu Sisy telah mengatakan kepada
polisi kalau aku tidak bersalah. Namun, polisi tidak mempercayai perkataan Sisy
ataupun perkataanku. Menurut mereka, motorku sudah dijadikan barang bukti
bahwasanya aku ikut terlibat membantu Sisy mengedarkan uang palsu. Terasa gelap
dunia ini bagiku. Teriak tangisku tak cukup mampu untuk meredam gejolak
dihatiku. Sayup sayup ku dengar Sisy meminta maaf kepadaku.
"Aku tidak bermaksud menjerumuskanmu
ke dalam perkara ini. Aku tidak tahu kalau uang Rp 50.000,- tersebut adalah
uang palsu. Aku kira itu memang uang asli karena uang tersebut kuambil langsung
dari dompetku bukan di dalam kantong kresek tempat uang palsu sejumlah Rp
5.000.000,- yang siap untuk aku edarkan bersama temanku tersebut. Sekali lagi,
aku minta maaf Laras telah berbohong kepadamu, dengan mengatakan bahwa uang
tersebut upah buat temanku karena dia telah membuatkan proposal skripsi
untukku".
Kutatap Sisy tak berarti, gelap
penglihatanku.
Ku buka mataku, kulihat Lila di sampingku
bersama keluargaku, terlihat jelas di mata Lila menahan tangis untukku.
"Aku dan suamiku akan berusaha keras membebaskanmu". Bisik Lila di
telingaku. Aku menangis. Ibu, Ayah dan Adikku tak bisa berbuat banyak karena
kami bukan berasal dari keluarga yang mampu. Di kota pelajar, aku kuliah sambil
bekerja. Ya, biaya selama aku kuliah hasil keringatku sendiri. Makanya, sangat sulit
bagiku untuk pulang ke kota kelahiranku yang sekaligus menjadi tempat tinggal orang
tua dan adikku.
Ku katakan pada Lila agar jangan pernah
memberitahukan kepada siapapun mengenai kasus hukum yang sedang aku hadapi
sekarang ini. Karena dalam waktu 2 hari lagi, diselenggarakannya acara reunian
SMA kami. Lilapun berjanji kepadaku bahwa dia tidak akan menceritakan masalahku
kepada siapapun.
xxxxx
Terpaku kuberdiri di pintu masuk gerbang
Kemuning. Terdengar suara hiruk pikuk di dalam Kemuning. Namun, tak sanggup
kakiku melangkah menuju kerumunan dimana telah berkumpulnya teman-teman SMA ku.
Aku takut, dengan kehadiranku di Kemuning, teman-temanku akan bertanya tentangku.
Bisakah aku menyembunyikan ekspresi kesedihan di wajahku atas kasusku?. Kuhela nafasku,
kembali ku teringat atas pengorbanan sahabatku Lila dan suaminya. Aku bisa
berdiri di Kemuning ini karena suami Lila sudah mengurus penangguhan penahanan untuk
diriku. Lila tahu isi hatiku, betapa aku sangat ingin berjumpa dengan Aldi. Mengingat
itu, segera ku langkahkan kaki menuju ke dalam Kemuning.
Sesak dadaku, keinginanku untuk bertemu
Aldi hilang begitu saja dari lubuk hatiku. Ku kira dengan melihat wajahnya,
sudah cukup mampu memberikan aku sedikit kedamaian. Namun, ternyata perkiraanku
salah. Semuanya hilang sekejap disaat aku melihat Aldi dan Alia duduk
berdekatan di satu meja. Aku cemburu. Setelah agak beberapa lama ku terdiam dalam
kecemburuan, ku tepis rasa cemburuku. Bukankah selama ini kami memang tidak
mempunyai ikatan sah yang menyatakan dia milikku. SMA pun hubungan kami tidak
jelas apakah kami benar benar pacaran atau tidak meskipun kami sudah saling
mengetahui bahwa kami memiliki rasa cinta dan sayang yang sama. Hanya tatapan
mata dan gerak gerik bahasa tubuh kami yang berbicara. Jadi, bukan salahnya
Aldi jika dia sudah mempunyai istri atau pacar. Isakku pecah dan kembali aku
sadar akan masa depanku dibalik jeruji. Kutatap Aldi dari kejauhan, kubisikkan
doa dari hatiku yang terdalam "Semoga Allah senantiasa memberikan
kehidupan yang terbaik untukmu". Perlahan, kulangkahkan kaki meninggalkan
Kemuning.
Aku duduk terpaku di hamparan Pasir Putih
Pantai Panjang. Suara gemuruh ombak seakan ikut merasakan tangisan hatiku. Di
pasir inilah awal tragediku dibalik jeruji besi. Sampai kapankah aku di tahan? Ntahlah
aku pasrahkan semuanya atas kehendak Allah. Allah Maha Adil.
"Laras" terdengar suara seseorang
memanggilku dari belakangku. Kumenoleh kebelakang dan berkata: "Aldi"
Akupun langsung berdiri dari tempat dudukku.
"Mengapa kamu tidak jadi ikut masuk ke
dalam Kemuning Laras, tahukah kau aku sangat menunggu kedatanganmu". Suara
Aldi bergetar hebat ditelingaku. Kutatap wajah Aldi penuh kerinduan. Kurasakan
Aldi juga merasakan perasaan yang sama terhadapku. Aku tetap diam membisu, tak
memberikan jawaban atas pertanyaannya. Hanya tatapan penuh kerinduan yang bisa
kuartikan untuknya dibalik riak kaca dalam mataku.
"Laras, selama ini kupendam kata
kataku untuk menyatakan rasa cinta dan sayangku kepadamu karena aku ingin
menyatakan rasa itu ketika aku sudah menyelesaikan study kuliahku. Dulu, aku
tidak mau mengikatmu dengan kata kata cintaku karena aku takut aku akan kecewa
jika kau tak bisa setia denganku sedangkan aku benar benar ingin memilikimu.
Karena aku yakin menjalin hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Namun,
meskipun aku tidak mengikatmu dengan kata kata cintaku, rasa cinta dan sayangku
untukmu tetap utuh dihatiku. Sengaja aku tiba di kota ini, hanya untuk
menemuimu. Laras, aku ingin melamarmu".
Mendengar perkataan Aldi, air mataku tumpah
tak tertahankan lagi. Ingin segera ku jawab: ia aku ingin menikah denganmu.
Namun, bayang bayang jeruji besi menghantuiku. Hatiku berkata: "Tidak
mungkin aku membawa Aldi untuk ikut mengambil bagian kisah terburuk dalam hidupku
dijeruji besi". Meskipun aku tidak bersalah tapi aku tidak bisa
membuktikannya. Akankah Aldi mempercayaiku? Jika ia percaya tak ingin juga aku
menyudutkan dirinya di mata keluarganya ataupun di masyarakat: mahasiswa
terbaik lulusan Luar Negeri menikahi seorang wanita yang sedang menjalani
proses hukum. Maka dengan batin menangis aku bilang kepada Aldi, kalau aku
sudah menikah di kota pelajar. Aldi tak mempercayaiku karena berdasarkan
informasi dari Lila sahabatku, mengatakan bahwa aku belum punya pacar dan
pastinya belum menikah. Kutatap wajah Aldi, kutegaskan padanya aku memang sudah
menikah namun para sahabatku tidak kuberi tahu karena orang tuaku pun tidak
mengetahuinya. Aku menikah untuk bisa membiayai kuliahku. Kurasakan tubuh Aldi
berguncang hebat menahan pedih dihatinya seperti rasa pedih yang hinggap
ditubuhku. Hatiku berkata: Aldi maafkan aku, kulakukan ini semua karena aku
terlalu sayang dan cinta dirimu. Aku ingin kau mendapatkan kebahagiaan
seutuhnya, tanpa dibayang bayangi kisah terburuk dalam hidupku.
Setelah sekian menit kami dalam kebisuan,
Aldi menyerahkan bingkai foto berukiran kayu. Dimana puisi yang dulu sempat aku
buang ada dibalik bingkai tersebut "Rasaku".
"Laras, puisi Rasaku sangat berarti
dalam hidupku karena itu aku bingkai puisi tersebut. Sekarang aku ingin engkau
menyimpannya. Meskipun aku tidak bisa memilikimu ku ingin engkau selalu
mengingat rasa cintaku yang begitu besar terhadap dirimu". Aldipun berlalu
meninggalkanku. Tangisku pun pecah. Menangis sejadi jadinya diri ini akan laraku.
Hanya gemuruh ombak yang bersahutan membalas isakku. Di hamparan Pasir Putih, ku
bersimpuh dan terpaku menatap langit: "Ya Allah aku percaya dengan kehendak-Mu.
Di setiap tetesan air mata pasti ada kebahagiaan yang tersimpan. Dan bila waktunya
tiba Engkau akan memberikanku kebahagiaan yang mungkin untuk saat ini masih Engkau
simpan erat untukku karena semua indah pada waktunya". Ku seka air mataku.
Terasa damai dihatiku setelah ikhlas mampu kutanam dalam jiwa ragaku. Kulihat Lautan
dari kejauhan. Di tengah-tengah Lautan tetap bersih meskipun orang membuang sampah
di lautan. Karena air laut membawa sampah tersebut ke tepi. Begitu juga dengan hidupku,
seharusnya apapun kejadian buruk yang menimpaku, hatiku harus tetap suci dan selalu
berprasangka baik kepada Allah atas semua kehendak-Nya. Segera ku bangkit dari simpuhku.
Ku tinggalkan Pasir Putih. Berjalan optimis menuju Penjara, tempat pengasinganku.
xxxxx
Bulan berganti tahun, tak terasa sudah 3
tahun aku dibalik jeruji besi. Saatnya hari ini aku hirup udara segar
kebebasanku. Di gerbang pintu penjara sudah menanti sahabatku Lila. Lila
memelukku dengan erat menangis terharu melihat diriku, akupun terisak pilu
dalam dekapan sahabatku. Ya Allah, aku sangat bersyukur Engkau menganugerahkan
aku seorang sahabat seperti Lila. Sahabat yang selalu menemani dan berusaha
membantuku disaat keadaanku terpuruk.
"Terima kasih sobat, tak bisa kubalas
semua pengorbananmu" kubisikkan kata kata itu ditelinga sahabatku.
"Tak ada balasan jasa diantara
sahabat, yang ada hanyalah keikhlasan yang tulus untuk kebersamaan dalam suka
dan duka". Lilapun mengusap air mataku.
"Lila apa kabarkah Zila, sudah lama
aku tidak mendengar beritanya".
"Zila baik baik saja Laras, dia sudah
mempunyai seorang anak laki laki, Dewa namanya".
Kembali ku teringat masa 4 tahun silam,
ketika Zila berkata kepadaku dia mau menikah. Aku bahagia mendengarnya. Kutanya
siapakah lelaki yang berhasil menaklukan cinta sahabatku. Dengan gugup dan
suara gemetar Zila menyebutkan nama Roki ditelingaku. Roki yang dulu
mencintaiku.
Hening sesaat. Namun, segera kucairkan
suasana di Telephone. Aku bilang kepada Zila aku bahagia mendengarnya. Kejadian
antara aku dan Roki hanyalah masa lalu dan sejak dulu aku juga tidak mempunyai
rasa cinta terhadap Roki. Jadi, jangan pernah mengingat masa lalu, dan
hilangkan juga dipikiran Zila kalau dulu Roki pernah mencintaiku. Karena cinta
Roki sebenarnya adalah mencintai Zila yang dibuktikan dengan Roki menikahi
Zila. Oleh sebab itu, aku tidak ingin Zila mengetahui keterpurukanku.
Aku bersyukur Zila sudah mempunyai
keturunan. Kutatap wajah cantik Lila, selama ini Lila tidak pernah mengeluh
kepadaku jika kami berbicara mengenai keturunan. Dia selalu optimis.
"Suatu saat nanti bila masanya tiba, Allah akan memberikanku keturunan
anak". Itulah perkataan Lila yang selalu terekam jelas di memori
ingatanku. "Ya Allah aku mohon kepada-Mu, jika Engkau belum memberikanku
keadilan atas kasus yang menimpaku dan semuanya sudah kulalui dengan tertatih
karena aku tetap dipenjara meskipun Engkau mengetahui bahwa aku tidak bersalah,
tolong berikan aku keadilan Ya Allah, dengan Engkau mengabulkan satu doaku. Ya
Allah, tolong berikan sahabatku Lila keturunan Anak yang soleh dan soleha.
Aamiin. Ucapku dalam hati.
xxxxx
Panas kurasakan dikakiku. Namun, tetap
kutelanjangkan kaki menginjak pasir putih di Pantai Panjang ini. Kunikmati rasa
panas yang ada, meskipun terasa sakit dikakiku. Teringat atas dua kejadian yang
menimpaku. Di pasir putih inilah aku ditahan atas pemalsuan uang dan di pasir
inilah Aldi melamar diriku. Akankah ada lagi kejadian yang menimpaku di Pasir
Putih ini?.
"Laras aku bahagia, akhirnya engkau
bisa menghirup udara bebas".
Berdebar jantungku mendengar suara yang tak
pernah luput dalam hatiku. Aldi. Kutatap wajahnya, ingin rasanya aku memeluk
dirinya, menangis dalam pelukannya, mengatakan masih adakah harapanku untuk
menjadi istrimu. Aku ingin menceritakan keadaan yang sebenarnya bahwa aku belum
menikah, hati ini selalu ada untukmu. Lila sudah bercerita kepadaku, bahwa Lila
telah memberitahukan Aldi mengenai kasus hukumku sebelum kedatanganku di acara
reunian. Lila terpaksa memberitahukan Aldi setelah Lila tahu niat Aldi mau
melamarku di saat reunian tersebut. Aldipun tidak memperpedulikan kasusku, dia
mempercayaiku dan tetap mencintaiku.
"Aldi, terima kasih kau sudah ada disini,
menyambut kebebasanku. Tahukah kau aku melihatmu di seberang jalan dalam mobil,
kau pikir aku tidak melihatmu. Namun, aku tidak menyangka kau mengikutiku
hingga ke Pasir Putih ini. Dan aku juga berterima kasih kepadamu, kamu tetap
mencintaiku bagaimanapun kondisiku saat itu".
"Iya Laras, aku mencintaimu apa
adanya. Namun, kecewa telah menaklukan kesetiaanku. Kau telah bersuami dan aku
memang harus melepaskanmu". Potong Aldi disela pembicaraanku. Aku terdiam.
Teringat aku akan perkataan Lila, seharusnya aku tak berbohong kepada Aldi. Dan
Lilapun ingin memberitahukan kepada Aldi kalau aku berbohong. Namun, kucegah
Lila untuk mengatakannya kepada Aldi. Aku menyuruh Lila berjanji untuk tidak
mengatakannya. Biar aku saja yang menjelaskan semuanya kepada Aldi disaat aku
sudah keluar dari balik jeruji besi. Sama halnya yang dilakukan Aldi
terhadapku. Mengungkapkan cinta disaat waktu yang tepat ketika tidak ada lagi
jarak yang memisahkan kami. Demi kebaikan kami berdua.
Bibirku baru hendak berkata kepada Aldi,
untuk menceritakan semuanya, tapi Aldi mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Berdebar jantungku melihat amplop berwarna Pink. Gemetar tubuh ini tak
tertahankan. Tanpa ku buka aku sudah mengetahui isinya. Ya, undangan pernikahan
Aldi. Gelap gulita kurasakan.
xxxxx
Kubuka mataku, aku sudah berada ditempat
tidurku, dirumah orang tuaku. Kulihat Aldi di sampingku menahan tangis di
matanya.
"Laras, aku tahu kamu mencintaiku dan
aku juga mencintaimu. Namun, kita ditakdirkan untuk tidak bersama. Kamu secara
sah sudah dimiliki orang lain dan aku seminggu lagi akan menikah, Alia calon
istriku. Jaga kesehatanmu karena aku sangat menginginkan kehadiranmu".
Kutatap Aldi, kubiarkan airmata mengalir
dipipiku. Untuk yang pertama kali Aldi menyentuhku, menyentuh pipiku untuk
menghapus airmataku. Hatiku hancur berkeping keping merasakan sentuhan tangan Aldi
di pipiku. Isakku terus mengalir tiada henti mewakili rasa cintaku yang tenggelam
di Pasir Putih.
Kulihat Kemuning dari kejauhan, disanalah
Minggu besok Aldi dan Alia Menikah. Batinku berkata: "Tak sanggup kaki ini
menginjak Kemuning untuk menyaksikan pernikahan Aldi dan Alia. Maafkan aku Aldi,
aku tidak bisa memenuhi permintaanmu". Kutatap yang terakhir kali di
sekelilingku: Kemuning, Pasir Putih dan ombak yang bergemuruh di Pantai
Panjang. Inilah kota kelahiranku, kota kecil dengan seribu cerita. Cerita
tentang asa dan tangisku. Untuk yang terakhir kali, ku menangis tersedu di hamparan
Pasir Putih.
Kulirik jam dilingkaran pergelangan kecil
tanganku. Beberapa jam lagi aku harus tiba di Bandara Fatmawati untuk menuju kota
pelajar. Ya, aku akan kembali ke kota pelajar, melanjutkan kehidupanku yang
tertunda. Kuliahku dan kerjaku. Biarlah kututup kisahku ini hanya sebatas
kebisuanku di Pasir Putih.
Aldi semoga kau bahagia, kebenaran akan
diriku bahwa aku belum menikah biarlah engkau tidak mengetahuinya dan kebenaran
diriku atas kasus uang palsu biarlah ombak di Pantai Panjang yang menepisnya.
Ku genggam Pasir Putih, perlahan lahan surut pasir ini di sela jemariku. Seakan
menolak untuk ku bawa pergi menuju kehidupan baruku. Akhirnya, aku menyadari
Pasir Putih hanyalah tempat persinggahan untukku yang menjadi saksi bisu:
tangis kebenaranku dan tangis kerapuhanku.
Bengkulu, 03 Februari 2015
Halijah Pasaribu


Hebat... terharu hampir meneteskan airmata membacanya. Tp aku tdk suka ending nya yg tdk bahagia. By ju2end
ReplyDeleteItulah Kehidupan Ju
Deletehehe
Sebaiknya dalam penulisan percakapan, setelah tanda petik diakhiri tanda koma. Misal: "Ia yang datang," kataku.
ReplyDeleteSemangat ya, Dik. Tulisannya enak dibaca. :)
Sedih bget, ga kuat baca. . .
ReplyDeleteKepanjangan haha.
yee,ente sendiri gak suka mbaca hehe
Deletesangat menyentuh hati keren sob SimBale - Download Software Gratis
ReplyDeleteThanks Sob
Deletesaran ane ikut ajh freelancer gann lumayan bwt nambah2 rejeki cerpenya bgus tuh :)
ReplyDeleteBisa minta Link nya
Deleteawal ceritanya sedih gan ..
ReplyDelete(Klik Di sini)Cara-Cara Mendapatkan Uang Di Internet Melalui Cryptocurrency atau program lain nya